Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Helmud Hector

Ketua GMNI Bandung periode 2010-2012

Pilwalkot Bandung: Lidah Gerakan Mahasiswa Jangan Sesekali Terlipat untuk Meneriakkan Gagasan Idealisme, bila Perlu ia Berani Meludahi Kemunafikan-kemunafikan Pesta Politik

OPINI | 03 May 2013 | 00:48 Dibaca: 214   Komentar: 0   1

Pilkada kota bandung semakin hari semakin hangat. Setiap calon yang telah mendaftarkan diri menyiapkan pasukan (baik terbuka maupun timsus), amunisi, dan isu-isu strategis. Baik di dunia nyata dan dunia maya telah terlihat segala manuver politik, intrik, serta black campaign dari tim satu ke tim yang lain. Setiap pihak menggaungkan bahwa calon yang mereka usung adalah calon yang paling layak untuk memimpin kota metropolitan bandung.
Masyarakat kebingungan sesungguhnya apa yang terjadi di kota bandung?
Mungkin mereka tahu bahwa akan ada yang katanya pesta demokrasi 5 tahunan, tanpa berpikir lebih jauh akankah pilkada kota bandung menjadi momentum yang memunculkan seberkas harapan demi kemajuan warga kota bandung dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan serta bidang-bidang kehidupan lainnya.
Namun kita masih melihat momentum pilkada kota bandung hanya diisi oleh riak-riak dukungan maupun hujatan terhadap kandidat. Semua elemen civil society terseret oleh arus politik untuk masuk dalam kanal-kanal yang telah diciptakan entah oleh keadaan atau oleh masing-masing kandidat. Kita belum menyaksikan adanya lembaga/institusi civil society yang tampil berbekal pedang untuk mengupas secara kritis dan memberikan suara-suara produktif ditengah sepi nya gagasan untuk membangun kota bandung.
Kepada siapa seharusnya kita sematkan tugas sejarah tersebut?
Kepada KPU? (Ia kan hanya fasilitator)
Kepada Partai? (Partai juga sibuk dengan urusan-urusan kekuasaan)
Kepada Perguruan Tinggi? (Selama ini tak berani tampil berani)
Lalu kepada siapa masyarakat berharap agar kualitas pilkada kota bandung terisi oleh nuansa perubahan?
Saya berharap itu diinisiasi oleh gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa yang selama ini lantang menyikapi fenomena-fenomena nasional juga perlu melirik konstalasi lokal. Gerakan mahasiswa harus tampil sebagai dekonstruktor akan kekinian yang usang, serta mampu menjadi transfigurator agar layak disebut minoritas kreatif. Lidah gerakan mahasiswa jangan sesekali terlipat untuk meneriakkan gagasan idealisme, bila perlu ia berani meludahi keadaan kemunafikan-kemunafikan pesta politik. Gerakan mahasiswa harus berani telanjang dalam bersikap terhadap penyelenggara, kandidat dan gagasan cerdas untuk membangun kota bandung.
Saya tidak menyarankan agar gerakan mahasiswa untuk secara emosional keblinger menyikapi persoalan pilkada kota bandung, tapi mampu destruktif sekaligus konstruktif berbasis kajian intelektual dan bersemangat kerakyatan.
Karena saat ini tak ada lagi keran aspirasi bagi masyarakat, maka biarlah gerakan mahasiswa menjadi pipa-pipa penyalur air perubahan dan cita-cita masyarakat!
Salam Perubahan!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: