Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Muhammad Cobain

Geologist, Jolma Kumoring, Budak Plaju

Memilih Calon Pemimpin

REP | 02 May 2013 | 15:40 Dibaca: 487   Komentar: 0   0

Perkembangan demokrasi di Negara Indonesia yang kita cintai dewasa ini memberikan kesempatan sebesar – besarnya kepada setiap warga negara untuk berpartisipasi langsung dalam menentukan siapa pemimpinnya, mulai dari Pilkades, Pilbup, Pilwakot, Pilgub, Pilleg dan Pilpres.

Sebagian orang - orang berlomba untuk menjadi seorang pemimpin agar mendapatkan kekuasaan, baik orang yang baik maupun yang tidak baik, yang berkualitas ataupun yang tidak berkualitas, yang bermoral ataupun yang tidak bermoral, mereka semua berlomba mencari dukungan yang sebesar-besarnya agar dapat terpilih dan duduk dalam kursi kekuasaan, yang membedakan orang – orang tersebut hanya pada tujuannya, ada yang bertujuan dengan mendapatkan kekuasaan dapat mempermudah diri dan kelompoknya dalam mencari dan menimbun harta kekayaan serta ada juga yang bertujuan mengabdikan diri beserta kemampuannya untuk bekerja dan berusaha agar dapat memberikan kesejahteraan kepada setiap lapisan masyarakat.

Dalam persaingan meraih kekuasaan para calon - calon pemimpin melakukan berbagai macam daya dan upaya, kita sebagai pemilih jangan sampai terlena dan terkena tipu daya dengan berbagai macam bentuk usaha – usaha kotor guna mendapatkan dukungan, diantaranya adalah money politic dengan berbagai macam bentuk, yang biasanya dilakukan menjelang berlangsungnya pemilihan, seperti sumbangan – sumbangan apapun bentuknya, membagi – bagikan uang dengan total nilai yang fantastis apapun namanya, baik uang lelah ataupun uang transport dan sebagainya (apakah kita rela dipimpin oleh orang yang memberikan 50 – 100 ribu dan kemudian orang tersebut mencuri dan merampas hak – hak kita yang nilainya jauh lebih besar?!) serta juga dengan adanya janji - janji kosong, kunjungan – kunjungan, acara – acara bakti sosial, atau usaha – usaha lainnya untuk membentuk sebuah citra alias politik pencitraan, yang tidak sesuai dengan kenyataannya, untuk itu sudah saatnya kita harus bersikap cerdas dan jeli dalam melihat kualitas para calon - calon pemimpin tersebut.

Mencari seorang pemimpin yang tepat tidaklah mudah, kewajiban kita sebagai anak bangsa adalah berusaha memilih pemimpin yang terbaik dari yang baik di segala level kepemimpinan, karna baik tidaknya pemimpin secara langsung ataupun tidak langsung pasti berimbas pada apa yang di pimpinnya. Sebelum menentukan pilihan dalam mencari seorang pemimpin kita harus mengetahui kriteria – kriteria dari seorang pemimpin yang ideal, yang secara garis besar adalah : 1. Sidiq (Jujur) 2. Tablig (menyampaikan) 3. Amanah, 4. Fathonah (Cerdas), yang berarti seorang pemimpin harus memiliki integritas, kredibilitas, moralitas, kapabilitas dan transparan dalam setiap kebijakannya, karena “Jika Urusan Diserahkan Pada Yang Bukan Ahlinya, Tunggulah Kehancurannya”. Kepada para calon – calon pemimpin hendaknya dapat mengukur diri dan berfikir bahwa kepemimpinan atau jabatan adalah amanah yang sangat berat dan merupakan bentuk dari sebuah pengabdian serta tanggung jawab, bukan sebuah kesempatan untuk mencari kekayaan dan kemuliaan.

Mungkin sebagian besar dari kita merasa lelah, mengabaikan dan menggangap tidak penting untuk menggunakan hak kita dalam memilih para pemimpin, “toh siapapun pemimpinnya tidak akan banyak pengaruhnya terhadap kita” celetuk si Lica, sebuah ungkapan pesimis yang sering kita dengar, sebuah ungkapan yang timbul karena ulah para oknum - oknum pemimpin kita yang lebih sibuk memperkaya diri dan kelompoknya dibandingkan bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya. Memilih pemimpin lebih dari sebagai sebuah hak, memilih pemimpin adalah sebuah usaha kita semua sebagai pribadi – pribadi untuk menentukan siapa pemimpin kita, “….Sesungguhnya Allah Tidak Akan Merubah Keadaan (Nasib) Suatu Kaum, Sehingga Mereka Merubah Keadaan (Nasib) Yang Ada Pada Diri Mereka Sendiri….”, dalam konteks memilih para pemimpin sudah saatnya kita memilih benar – benar menggunakan akal dan pikiran berlandaskan hati nurani, bukan sekedar karena adanya aspek kesukuan dan kedekatan pribadi atau karena adanya kepentingan serta tujuan – tujuan sesaat yang menguntungkan pribadi atau golongan, yang malahan nantinya akan menyengsarakan adik – adik, anak – anak dan cucu – cucu kita, hanya karena kesalahan kita dalam memilih para pemimpin.

Tak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna begitu pula para calon pemimpin kita, untuk itu pilihlah calon pemimpin yang memiliki atau mendekati kriteria – kriteria sebagai seorang pemimpin yang ideal, paling tidak para calon pemimpin tersebut harus memiliki rekam jejak yang baik, visi, misi dan program rencana kerja yang tepat, masuk akal dan jelas, agar kiranya calon pemimpin yang kita pilih tersebut dapat membawa perubahan dalam segala sendi kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik.

Salam Bumi

(BTH - MC)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 12 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 19 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 19 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 20 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: