Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Irwan Thahir Manggala

Orang yang Sudah Mati Benar-benar Sudah di ALAM KUBUR . Semoga kita terhindar dari golongan selengkapnya

Yusuf Kalla Jadi Mendiknas?

REP | 01 May 2013 | 20:47 Dibaca: 181   Komentar: 6   1

Semoga momentum Hardiknas besok akan melahirkan pemikiran yang memberi solusi terbaik dari situasi carut- marus bangsa, termasuk dunia pendidikan. Diperlukan orang yang berlatar belakang mapan dan punya track redord diakui. Siapa dia? Anis Baswedan, Soemantri Brodjonegoro, Adzumardi Azra, Komaruddin Hidayat, dan Yusuf Kalla, adalah figur laternatif.  Tapi kalau Muhammad Nuh masih dipertahankan, tentunya dia akan melakukan otokritik dan introspeksi.

Siapakah manusia Indonesia yang paling banyak meraih gelar doktor? Dialah Yusuf Kalla, mantan Wakil Presiden kita.Malah saking banyaknya gelar  ”tertinggi” itu sehingga  dia tidak terlalu berkeinginan mendapatkan tawaran gelar penghormatan gelar doktor honoris causa. Pada perkembanganya, dengan keadaan dan posisi  tersebut membuat pihak universitas unggulan di luar negeri pun merasa ” risih”  untuk menawarkan gelar penghormatan istimewa di dunia akademik.

Kalau argumen saya lewat judul di atas dianggap terlalu ideal atau mengada-ngada, tak apalah. Namanya juga ada kesempatan ber sharing lewat saling berhubung di media sosial Kompasiana - jangan dilewatkan. Besok semua anak bangsa akan merayakan peringatan Hari pendidikan nasional (Hardiknas)2 mei 2013. Pemberitaan di berbagai media massa, termasuk di media on line menampilkan hampir semua stake holder pendidikan di Indonesia mengadaakan upacara dan agenda pendukung lainnya dalam mengisi hari istimewa  bagi  dunia pendidikan Indonesia.

Sosok Yusuf Kalla dikenal punya daya kreasi dan inovasi yang terukur, walau kadang tidak semua menjadi solusi terbaik. Daya keberanian dalam pengambilan keputusan sudah teruji. Pengalaman kabinet sudah ada bukan hanya di posisi wapres, tapi sebagai Menko Kesra dan Menteri Perdagangan juga sudah ada pegangan.Kalau ada yang  mempersoalkan latar belakang JK sebagai mantan wapres, saya kira argumen itu sudah “terpelset”. Lihat saja keadaan di luar negeri. Apalagi negara kita ini dikenal sebagai negara yang diakui daya dobrak lewat paket reformasinya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Learning by Doing, Efektifitas Mendidik ala …

Muhammad | | 16 September 2014 | 10:24

Autoethnografi: Dari Pengalaman ke Teks …

Sehat Ihsan Shadiqi... | | 16 September 2014 | 11:06

Asuransi Kesehatan Komersial Berbeda dengan …

Ariyani Na | | 15 September 2014 | 22:51

Awas Pake Sepatu/Tas Import kena …

Ifani | | 16 September 2014 | 06:55

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 4 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 6 jam lalu

RUU Pilkada: Jebakan Betmen SBY buat Jokowi, …

Giri Lumakto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 7 jam lalu

Ijasah Bon A dan B Suatu Kenyataan di Era …

Abebah Adi | 7 jam lalu

Hati-Hati, Ini 3 Modus Penipuan Gaya Baru …

Dian Halle Wallahe | 7 jam lalu

Peduli Pelanggan? Mutlak Penting Bagi Pelaku …

Uli Arta Simanjunta... | 7 jam lalu

Lamaran Pekerjaan Ditolak? Apa yang Salah? …

Marlistya Citraning... | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: