Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rocky Zulkarnain

seorang ayah dgn 1 putra & 1 istri,Interisti seumur hidup,Pengangguran sukses yg g’butuh dibantu orang selengkapnya

Kapitalisasi Pemodal Vs “Incumbent” di Pilkada Lumajang

OPINI | 01 May 2013 | 17:37 Dibaca: 361   Komentar: 0   1

euforia kebebasan terjadi di dalam segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemodal adalah pemegang kendali segalanya dalam mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. kapitalisasi politik, di mana seorang pemodal besar atau gabungan pemodal besar bisa membiayai seorang kandidat Calon Bupati dengan kalkulasi hitungan-hitungan dagang. Yang berakibat uang Negara/ rakyat digerogoti sebagai ganti modal politik yang merupakan jembatan emas menuju kekuasaan. Akhirnya korupsi marak terjadi di negeri ini hingga tidak terkendali dan sangat sulit diatasi. Demikian pula mereka yang sudah kelebihan modal berbondong-bondong membiayai calon yang dianggap bisa jadi boneka mereka untuk memperoleh kekuasaan, cirri-cirinya adalah dengan cara menyebar uang/ money politic.

Untuk menuju pada kekuasaan, mereka harus menghamba pada para pemodal, akibatnya lupa melayani kepentingan rakyatnya. Akibatnya banyak Sumber daya Alam Lumajang yang hanya dinikmati segelintir orang lumajang, hingga merampas hak-hak seluruh rakyat Lumajang.

Kabupaten Lumajang yang kita harapkan dipimpin orang yg amanah dan bermartabat ( SA’AT ), ternyata dikepung oleh kandidat yg terkontaminasi pragmatisme politik dengan oreientasi politik penjudi. Para botoh atau penjudi yang taruhan dalam pilkada berani tampil terang-terangan seakan negeri ini sudah menjadi rimba raya yang sanggup menerkam rakyat yang lemah.

Lalu bagaimana cara mengembalikan modal yang sudah calon keluarkan agar tidak tombok? Apa harus menggadaikan aset Pemkab atau mengejar beragam proyek?

Kalau hanya pemodal besar dan para penjudi yang memunyai kuasa di negeri ini, tentu kita bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Masih adakah solusi untuk mengatasi semua ini? Atau kita sama-sama melihat Kabupaten Lumajang terjun bebas menuju kehancuranya? saya yakin rakyat sudah cerdas, semua diserahkan kepada hati nurani kita dan para pengambil kebijakan yang sudah diberi amanah untuk memimpin negeri ini. (*)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 12 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 14 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 15 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 16 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: