Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rocky Zulkarnain

seorang ayah dgn 1 putra & 1 istri,Interisti seumur hidup,Pengangguran sukses yg g’butuh dibantu orang selengkapnya

Kapitalisasi Pemodal Vs “Incumbent” di Pilkada Lumajang

OPINI | 01 May 2013 | 17:37    Dibaca: 370   Komentar: 0   1

euforia kebebasan terjadi di dalam segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemodal adalah pemegang kendali segalanya dalam mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. kapitalisasi politik, di mana seorang pemodal besar atau gabungan pemodal besar bisa membiayai seorang kandidat Calon Bupati dengan kalkulasi hitungan-hitungan dagang. Yang berakibat uang Negara/ rakyat digerogoti sebagai ganti modal politik yang merupakan jembatan emas menuju kekuasaan. Akhirnya korupsi marak terjadi di negeri ini hingga tidak terkendali dan sangat sulit diatasi. Demikian pula mereka yang sudah kelebihan modal berbondong-bondong membiayai calon yang dianggap bisa jadi boneka mereka untuk memperoleh kekuasaan, cirri-cirinya adalah dengan cara menyebar uang/ money politic.

Untuk menuju pada kekuasaan, mereka harus menghamba pada para pemodal, akibatnya lupa melayani kepentingan rakyatnya. Akibatnya banyak Sumber daya Alam Lumajang yang hanya dinikmati segelintir orang lumajang, hingga merampas hak-hak seluruh rakyat Lumajang.

Kabupaten Lumajang yang kita harapkan dipimpin orang yg amanah dan bermartabat ( SA’AT ), ternyata dikepung oleh kandidat yg terkontaminasi pragmatisme politik dengan oreientasi politik penjudi. Para botoh atau penjudi yang taruhan dalam pilkada berani tampil terang-terangan seakan negeri ini sudah menjadi rimba raya yang sanggup menerkam rakyat yang lemah.

Lalu bagaimana cara mengembalikan modal yang sudah calon keluarkan agar tidak tombok? Apa harus menggadaikan aset Pemkab atau mengejar beragam proyek?

Kalau hanya pemodal besar dan para penjudi yang memunyai kuasa di negeri ini, tentu kita bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Masih adakah solusi untuk mengatasi semua ini? Atau kita sama-sama melihat Kabupaten Lumajang terjun bebas menuju kehancuranya? saya yakin rakyat sudah cerdas, semua diserahkan kepada hati nurani kita dan para pengambil kebijakan yang sudah diberi amanah untuk memimpin negeri ini. (*)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bule Ini Menang Lomba Artikel Bahasa …

Eddy Roesdiono | | 26 May 2015 | 09:55

Seputar Air Kencing Laki-laki …

Ronny Noor | | 26 May 2015 | 13:38

Ini Dia Masjid Cheng Hoo yang Unik …

Fajr Muchtar | | 26 May 2015 | 06:59

Malu Foto Bareng gegara Sandal Jepit …

Den Bhaghoese | | 26 May 2015 | 09:39

[Nangkring] Bedah Copa América 2015 Bersama …

Kompasiana | | 25 May 2015 | 18:44


TRENDING ARTICLES

Selain PSSI, AFC Pun Menghukum Seumur Hidup …

Achmad Suwefi | 4 jam lalu

Kompasianer Untung ke Istana, Kopasioner …

Syaripudin Zuhri | 8 jam lalu

Tim Pansel KPK dan Harapan Presiden Jokowi …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Menpora Kalah di PTUN, JK Perintah Cabut SK, …

Hasto Suprayogo | 9 jam lalu

SBY dan Mafia Migas …

M. Jaya Nasti Nasti | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: