Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rocky Zulkarnain

seorang ayah dgn 1 putra & 1 istri,Interisti seumur hidup,Pengangguran sukses yg g’butuh dibantu orang selengkapnya

Kapitalisasi Pemodal Vs “Incumbent” di Pilkada Lumajang

OPINI | 01 May 2013 | 17:37 Dibaca: 365   Komentar: 0   1

euforia kebebasan terjadi di dalam segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemodal adalah pemegang kendali segalanya dalam mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. kapitalisasi politik, di mana seorang pemodal besar atau gabungan pemodal besar bisa membiayai seorang kandidat Calon Bupati dengan kalkulasi hitungan-hitungan dagang. Yang berakibat uang Negara/ rakyat digerogoti sebagai ganti modal politik yang merupakan jembatan emas menuju kekuasaan. Akhirnya korupsi marak terjadi di negeri ini hingga tidak terkendali dan sangat sulit diatasi. Demikian pula mereka yang sudah kelebihan modal berbondong-bondong membiayai calon yang dianggap bisa jadi boneka mereka untuk memperoleh kekuasaan, cirri-cirinya adalah dengan cara menyebar uang/ money politic.

Untuk menuju pada kekuasaan, mereka harus menghamba pada para pemodal, akibatnya lupa melayani kepentingan rakyatnya. Akibatnya banyak Sumber daya Alam Lumajang yang hanya dinikmati segelintir orang lumajang, hingga merampas hak-hak seluruh rakyat Lumajang.

Kabupaten Lumajang yang kita harapkan dipimpin orang yg amanah dan bermartabat ( SA’AT ), ternyata dikepung oleh kandidat yg terkontaminasi pragmatisme politik dengan oreientasi politik penjudi. Para botoh atau penjudi yang taruhan dalam pilkada berani tampil terang-terangan seakan negeri ini sudah menjadi rimba raya yang sanggup menerkam rakyat yang lemah.

Lalu bagaimana cara mengembalikan modal yang sudah calon keluarkan agar tidak tombok? Apa harus menggadaikan aset Pemkab atau mengejar beragam proyek?

Kalau hanya pemodal besar dan para penjudi yang memunyai kuasa di negeri ini, tentu kita bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Masih adakah solusi untuk mengatasi semua ini? Atau kita sama-sama melihat Kabupaten Lumajang terjun bebas menuju kehancuranya? saya yakin rakyat sudah cerdas, semua diserahkan kepada hati nurani kita dan para pengambil kebijakan yang sudah diberi amanah untuk memimpin negeri ini. (*)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 4 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 6 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 11 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 7 jam lalu

Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Me Time (Bukan) Waktunya Makan Mie! …

Hanisha Nugraha | 7 jam lalu

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | 7 jam lalu

Semoga Raffi-Gigi Tidak Lupa Hal Ini Setelah …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: