Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Filosofi Kodok pada Kasus LHI, Ahmad Fathanah dan Ayu Azhari

OPINI | 01 May 2013 | 22:46 Dibaca: 1135   Komentar: 28   1

Kodok adalah binatang yang memililiki daya tarik luar biasa. Tahukah Anda bahwa kodok mengeluarkan bau tertentu yang mampu menarik nyamuk dan serangga ukuran mikro untuk mendekatinya. Kodok menyuarakan suara bernada indah seperti layaknya nyanyian Daud sehingga menarik kodok betina. Kodok betina bertekuk lutut oleh suara indah menjanjikan bagai dari surga. Kodok sebagai binatang bertakwa melakukan tugasnya menjadi khlaifah di bumi - seperti manusia pula. Tak ada satu pun manusia yang meragukan keimanan para hewan, termasuk kodok, sapi, kuda, kambing, kucing, dan bahkan ayam yang pernah kita bahas bersama.

Walau menurut manusia dan hewan lainnya, bau kodok adalah amis dan anyir, namun masih juga ada yang tertarik mendekati kodok. Serangga ketika mendekati kodok lelaki pasti akan menjadi korban. Begitu juga kodok betina akan juga menjadi korban keinginan kodok laki-laki. Namun karena ketertarikan terhadap bau kodok tersebut ditangkap berbeda-beda tergantung dari latar belakang binatang dan serangga di sekelilingnya, ada saja yang mendekati kodok lelaki itu.

Nah, tamzil kodok itu berlaku dalam dunia manusia atau justru manusia yang meniru kodok lelaki, Ahmad Fatahanah dan Luthfi Hasan Ishaaq yang menyebarkan bau ketidakbenaran sebagai para lelaki yang menyuarakan nyanyian merdu nan indah surgawi tetap saja menarik pengusaha dan banyak orang lain. Para pengusaha wanita seperti Hilda, para pelacur seperti Maharany Suciono dan juga Ayu Azhari tertarik dengan nyanyian merdu dan suara serak serta bau-bauan wangi surgawi.

Yang menjadi masalah adalah kodok memiliki aturan jelas dalam dunia kodok. Kodok memiliki elan vital yang luar biasa dan kodok tak akan pernah dihukum karena ketakwaan instingnya kepada Allah SWT. Tidak pernah ada kodok menyalahi aturan dalam mencari makanan. Kodok menarik pasangan lain bukan karena nafsu birahi semata namun ada makna pelestarian alam. Hal ini berbeda dengan kasus LHI dan Ahmad Fathanah yang mengumpulkan harta secara haram dengan jalan korupsi.

Cara LHI dan AH mengambil pelajaran dari kodok ternyata salah. Mereka lupa bahwa di dalam dunia kodok tidak ada KPK, yang ada adalah harmoni, kerja dan bercinta. Kodok menyanyikan suara harmoni alam berupa suara merdu dan bau. Kodok bekerja dengan melompat-lompat menangkap mangsa. Nyanyian indah menarik kodok betina dan akhirnya mereka bercinta.

LHI dan Ahmad Fathanah melompat-lompat dengan menaiki sapi dan menarik perhatian para betina seperti Maharany Suciono dan Ayu Azhari untuk menikmati kasih sayang sebagai sesama manusia, bukti harmoni, kerja dan bercinta yang harus diamalkan agar mendapatkan berkah bagi kehidupan.

Salam bahagia ala saya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

PĂ©rouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 5 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 5 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 7 jam lalu

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 9 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: