Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Bobotoh 1986

My Life is My story

Berbagi Kisah Tentang Ganjar Pranowo

OPINI | 30 April 2013 | 00:55 Dibaca: 603   Komentar: 1   0

Ganjar Pranowo belajar disiplin Lewat Nyemir Sepatu

Lahir di Tawangmangu Karanganyar 28 Oktober 1968, Ganjar Pranowo adalah anak kelima dari enam bersaudara pasangan S Parmuji dan Sri Suparni. Seperti kebanyakan tetangga sekitarnya, ia hidup dalam lingkungan keluarga yang amat sederhana.

Namun, di balik kesederhanaan, ayahnya yang seorang polisi tegas menanamkan nilai-nilai kedisiplinan. Sementara ibunya tekun mengajarkan norma-norma kehidupan kepada anak-anaknya dengan caranya yang khas sebagai ibu rumah tangga.

Sebentuk kedisiplinan yang ditanamkan ayahnya adalah memberi tugas kepada Ganjar dan saudara-saudaranya di pagi hari sebelum mereka berangkat sekolah. Ada yang beroleh jatah menimba air untuk mengisi bak mandi, menyapu rumah, pun menyemir sepatu ayahnya.

Dan oleh ayahnya, Ganjar saban hari beroleh tugas nyemir sepatu ayahnya. “Sebagai polisi, sepatu yang dikenakan bapak kan model “boot”. Jadi ya lumayan juga capeknya,” ucap Ganjar mengenang masa kecilnya.

Yang menarik, sekiranya Ganjar melakukan pekerjaan itu asal-asalan, ayahnya sontak akan memarahi. Ganjar pun diminta untuk menyemir ulang hingga kelihatan mengkilat. Mau tidak mau, Ganjar mengerjakannya dengan serius, sesuai yang telah dicontohkan ayahnya.

“Itu menjadi pekerjaan rutin saya setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah,” kata Ganjar, “Belakangan saya sadar, itulah salah satu cara ayah saya agar saya selalu serius dan disiplin dalam mengerjakan sesuatu, meski itu kelihatan sepele,” tambahnya.

Ganjar tak lama bermukim di Tawangmangu. Kawasan sejuk nan menawan yang menjadi objek wisata pegunungan andalan Jateng itu terpaksa ia tinggalkan, lantaran ayahnya pindah tugas ke Kutoarjo. Di kota kecil berbatasan dengan DIY itu, ia menuntaskan pendidikan menengah di SMP Negeri 1, sebelum kemudian melanjutkan ke SMA Bopkri I Yogyakarta.

Di bangku sekolah menengah atas inilah kemandirian Ganjar mulai diuji. Dengan penghasilan orangtuanya yang pas-pasan, ia harus pintar membelanjakan cupetnya uang saku untuk rupa-rupa kebutuhan sehari-hari.

Toh, keprihatinan itu tak menyusutkan semangat Ganjar untuk tetap bersekolah. Sebaliknya, ia justru semakin bersemangat mengasah jiwa kemandirian dan kepemimpinannya dengan mengikuti kegiatan organisasi ekstra kurikuler pecinta alam.

Tahun 1987, seiring dengan selesainya pendidikan di SMA, Ganjar akhirnya berhasil mewujudkan keinginannya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

salam bobotoh

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 5 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 6 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 6 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 6 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Harus Aku? …

Siti Avidatu Chusna... | 8 jam lalu

Riedl: Kekalahan Dari Filipina Buah Dari …

Hery | 8 jam lalu

Hati-hati memilih Baby Sitter …

Wahab Naira Sairun | 8 jam lalu

London yang Ramah dan Hiruk Pikuk …

Pretty Backpacker | 8 jam lalu

Teman Penjara …

Vina Tjandra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: