Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Imi Suryaputera

Pria, orang kampung biasa, Pendidikan S-3 (Sekolah Serba Sedikit), Etnis : Banjar, Islam (Mu'tazilah). Contact : - selengkapnya

Sukses Berpolitik; Berjuang, Campur Tangan dan Garis Tangan

OPINI | 28 April 2013 | 18:44 Dibaca: 271   Komentar: 0   0

Tak terasa waktu terus mendekati pelaksanaan Pemilu legislatif. Para kader partai baik yang sudah kawakan maupun pendatang baru, berbenah diri mempersiapkan segala sesuatu untuk bisa ikut duduk di kursi Wakil Rakyat. Mereka sudah banyak diantaranya yang mendaftarkan diri sebagai Caleg ke KPU.

Pelaksanaan Pemilu di era reformasi berbeda dari era Orde Baru (Orba). Di era Orba yang secara tetap diikuti oleh 3 partai politik; 2 partai lebih kepada pelengkap supaya tampak Indonesia waktu itu demokratis di mata dunia.
Kalaupun ada yang namanya praktik money politic atau politik uang, tak se-vulgar di era reformasi ini.

Garis Tangan dan Campur Tangan.

Sudah bukan rahasia, baik dalam pelaksanaan Pemilu Legislatif, Pemilu Pilpres, Pemilukada hingga Pilkades, yang namanya politik uang merajalela dilakukan oleh calon yang minta pilih. Praktik politik uang itu dilakukan oleh masing-masing partai yang menjadi mesin politik untuk menyukseskan calonnya agar terpilih.

Usaha dan upaya yang keras serta maksimal pun tak jarang gagal. Banyak yang mengatakan; seseorang bisa sukses dan terpilih karena memang sudah “garis tangan” atau takdirnya begitu. Namun tak sedikit pula yang mengatakan untuk dapat mencapai garis tangan itu diperlukan “campur tangan”. Mungkin yang dimaksud adalah bisa campur tangan; para petinggi partai, penguasa, bahkan Tuhan.

Calon Harus Berjuang.

Jika ingin sukses mencapai suatu tujuan, seseorang tentu harus berjuang . Tak ada kesuksesan tanpa berjuang. Namun yang dimaksud disini adalah “Berjuang” yang diplesetkan menjadi akronim dari; BERas, baJU, dan uANG.

Seorang Caleg baik di tingkat Pusat maupun Daerah, selain memiliki berbagai kecakapan dan memenuhi persyaratan, juga harus BERJUANG.
Ini erat kaitannya untuk bisa meraih simpati dan suara pemilih. Para pemilih tak cukup hanya dengan dicekoki oleh berbagai rencana program, janji-janji perbaikan, dan kata-kata yang enak dan nyaman di telinga, tapi juga diberi beras agar mereka tergerak hatinya bersimpati. Para pemilih juga perlu diberi baju, seragam yang bergambar partai dan calon yang akan dipilih. Yang sangat penting lagi mereka diberi uang; apakah dalihnya untuk uang transport, uang lelah, maupun uang konsumsi.

Nah, yang seperti itu juga berlaku bagi para Calon Kepala Negara, Kepala Daerah; Gubernur, Bupati dan Walikota, hingga Kepala Desa. Pokoknya, mencalonkan untuk jadi apapun yang melibatkan persaingan, sudah tentu harus BERJUANG disamping adanya campur tangan, dan garis tangan pula tentunya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lebaran Sederhana ala TKI Qatar …

Sugeng Bralink | | 30 July 2014 | 22:22

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 5 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 7 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 9 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 11 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: