Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Amrullah Aviv

Berusaha untuk bisa lebih dewasa dalam melihat fenomena kehidupan.

Arti Keluarga Bagi PKS

OPINI | 29 April 2013 | 09:33 Dibaca: 1270   Komentar: 115   8

Kemarin dapat kabar dari isteri bahwa baru aja ada Silaturrahmi sekaligus Konsolidasi Bidang Perempuan DPP PKS dengan  Bidang Perempuan DPD PKS Se Kal Sel, dan dari sana dijelaskan tentang Rumah Keluarga Indonesia (RKI) di PKS, isteri menceritakan tentang arus feminisme dan juga liberalisasi kehidupan budaya, yang akhirnya malah membawa pada terancamnya  keberadaaan keluarga, hilangnya peran ibu dan ayah dalam mendidik anak bangsa. Sehingga menurut isteri sangat penting adanya perlindungan keluarga indonesia, dimana dari keluarga inilah akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan.

PKS sangat menghargai Perempuan dan Keluarga, sebagaimana Islam menempatkan perempuan dalam posisi peran dan tanggung jawabnya. Perempuan memiliki paranan besar dalam membangun peradaban masyarakat.

RKI merupakan salah satu Program Nasional PKS. Berbagai permasalahan yang terjadi dalam masyarakat sebetulnya dapat dicarikan pemecahannya dari keluarga. Karena keluarga adalah pondasi bangsa, bahkan  keluarga merupakan pondasi peradaban. Jika ibu baik secara kepribadian, maka keluarga juga akan menjadi baik. Sehingga berdampak pada terbentuknya masyarakat yang baik dan bangsa berkualitas. “Karena itu ibu dan keluarganya menjadi sekolah awal dari perbaikan. Ini bukti komitmen PKS terhadap pembentukan generasi yang berkualitas.

Dulu pernah ketika merebak isu tentang program Menteri Kesehatan tentang  kondom, yang secara tidak langsung memberikan pemahaman bahwa hubungan bebas (free sex) di luar nikah adalah boleh, asal pakai kondom. Dari sisi pemahaman Menteri Kesehatan hal ini akan memperkecil kasus aborsi dan kehamilan di luar nikah, dan dapat memecahkan banyak masalah lainnya, seperti penyebaran penyakit  HIV AIDS. Sudut pandang ini kalau dilihat sepintas bisa memecahkan masalah, namun sebenarnya kalau kita mau berpikir lebih jauh dan panjang maka hal ini hanya akan menjadi bom waktu dan tidak menyelesaikan akar permasalahan. Apalagi kalau kita melihat permasalahan ini dengan kaca mata agama Islam, maka tentu ini akan sangat bertentangan dengan ajaran agama yang melarng keras namanya Zina.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton sebuah acara diskusi di sebuah stasiun TV swasta yang menghadirkan seorang Ibu, aktifis keluarga dan pendidikan anak. Sang ibu menyesalkan program Menteri Kesehatan ini dan menyatakan bahwa jalan keluar dari semua ini adalah dengan mengembalikan kembali fungsi keluarga, fungsi ayah dan fungsi ibu. Yang mana beliau mengatakan bahwa fungsi-fungsi itu sudah tidak berjalan dengan baik di masyarakat kita.

Hal inilah yang akhirnya membawa saya untuk melakukan searching dan mulai memahami kembali sebuah urgensi yang namanya Keluarga dalam sebuah tatanan masyarakat. Tulisan ini juga sejalan dengan konsep pendidikan karkater pelajar yang pernah saya tulis sebelumnya.

Harus kita pahami bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat efektif apabila dilaksanakan, melalui keluarga sebagai unit terkecil dari himpunan masyarakat. Fungsi keluarga sangat strategis yaitu keluarga seringkali di sebut sebagai lingkungan pertama, sebab dalam lingkungan inilah pertama anak mendapatkan pendidikan, bimbingan pembiasaan dan asuhan. Keluarga bukan hanya menjadi tempat anak diasuh dan dibesarkan, tetapi tempat anak hidup dan dididik pertama kali. Karena apa yang diperolehnya dalam kehidupan keluarga, akan menjadi dasar dan dikembangkan pada kehidupan-kehidupan selanjut nya.

Kehidupan modern dengan segala tuntutannya sekarang membuat keluarga, ayah dan ibu dalam keluarga tidak mampu lagi menyeimbangkan posisi mereka untak dapat memberikan asuhan yang layak serta pendidikan karakter yang seharusnya. Anak sekarang diserang dari seluruh penjuru dengan informasi dan budaya yang kadang mereka tidak mampu memfilternya. Serangan dari Televisi, Internet, HP, Kawan, dll yang membuat anak remaja sekarang memiliki kegidupan yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan ayah dan ibu nya dulu, dan karena perkembangan yang super cepat  inilah orang tua ketinggalan beberapa langkah di belakang anaknya.

Sehingga sangat laya dikatakan bahwa keluarga adalah  The first and last defense  (Pertahanan Terakhir dan bahkan Pertahanan Pertama) dalam proses pendidikan anak. Banyak orang tua yang memahami kewajiban mereka dalam mendidik dan mengasuh  anak sudah tertunaikan ketika mereka sudah menyekolahkan mereka di Sekolah atau bahkan di pesantren. Sehingga kewajiban mengasuh dan mendidik sudah mereka sub kontrakkan ke pihak ketiga, dan ini tentunya salah besar. Keluarga dan orang tua tetap berkewajiban untuk mengasuh dan mendidik anak di rumah dan bersinergi dengan pendidikan di sekolah.

Jadi inti jalan keluar dari segala permasalahan remaja seharusnya berawal dari keluarga, ayah dan ibu. Satu-satunya jalan keluarnya adalah dengan bagaimana Ayah  dan Ibu untuk Kembali Kerumah sesuai dengan perannya masing-masing, Kembali consent mendidik dan mengasuh anak mereka, sehingga keluarga berfungsi sebagaimana mestinya. Cintai Keluarga karena dari sinilah awal sebuah peradaban.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 10 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 11 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Program ‘Haji Plus Plus’: Bisa …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Sampai Kapan Hukum Indonesia Mengecewakan …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

ISIS di Indonesia …

Irham Rajasa | 8 jam lalu

Sampai Kapan Polwan Dilarang Berjilbab? …

Salsabilla Hasna Mu... | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: