Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Anis Matta, LHI, Avatar dalam Harmoni, Kerja dan Cinta

OPINI | 29 April 2013 | 07:20 Dibaca: 476   Komentar: 15   0

Sejak awal kehidupan manusia di bumi, ketika manusia masih tinggal di gua mereka mencoba mencari jawaban tentang penyebab adanya kehidupan. Awalnya tentang kehidupan di sekeliling tempat manusia hidup. Tumbuhan diamati, hewan dipelajari, dan kekaguman pun menyeruak dalam jiwa manusia pada sekelilingnya. Hewan yang perkasa, tumbuhan yang berlimpah, ikan yang beraneka, dan air kehidupan yang memberi kehidupan menjadi magnet untuk dipelajari. Di luar itu nun jauh di atas tampak bulan dan miliaran bintang berkelip karena jauhnya. Terang bintang menerangi kegelapan malam. Inilah kisah klasik hikayat awal manusia menemukan Tuhan.

Kelahiran yang indah serta-merta berganti menjadi kesedihan ketika kematian datang. Itulah yang dianggap kesedihan dan kegelapan. Pengamatan kuno dan primitif tentang kematian adalah pengamatan tentang kegelapan. Laksana bergantinya siang menjadi malam - secara primitif alamiah sejak zaman manusia purba manusia takut akan kegelapan - dan mencintai terang. Maka kematian hanya dibayangkan seperti melek menjadi merem - membuka mata dan menutup mata. Namun akibat kecintaan pada alam sekelilingnya maka manusia merindukan kehidupan yang panjang.

Kehidupan yang panjang tetap saja tak didapatkan - karena hakikat kehidupan yang memang pendek di bumi. Waktu di bumi membatasi manusia untuk tetap hidup abadi. Konsep tentang harapan keabadian serta-merta muncul dan dimunculkan. Jiwa sebagai jawaban atas kerinduan manusia hidup abadi. Harapan dan mimpi tentang kehidupan abadi adalah harapan sejak zaman pra sejarah, sejak zaman manusia hadir di bumi

Demi menjaga asa dan harapan masa depan abadi - yang semuanya berawal dari harapan dari dalam hati yang artinya bisikan dari Pencipta - maka manusia mencari pola hubungan antara dirinya dengan alam; yang muara akhirnya disebut Khalik alias Pencipta dan makhluk alias yang diciptakan. Maka hadirlah manusia pilihan yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi utusannya. Manusia itu suci dan menyucikan dirinya dengan segala atribut kebaikannya. Jadilah dia pemimpin spiritual, pemimpin agama yang membawa pesan dari alam lain. Semuanya mewartakan tentang keabadian hidup - tentunya setelah proses kematian terjadi.

Maka demi menjaga kelangsungan kehidupan yang sangat dicintai itu - manusia sejak awal kehidupannya sejak zaman berburu dan meramu - manusia mencari keseimbangan pola kehidupan antara dirinya dengan alam, antara dirinya dengan sesama manusia, dan antara dirinya dengan Khalik. Dan demi menjaga semua harmoni tersebut maka semua manusia harus menyadari dirinya dan halus dalam bersikap. Dibentuklah tata aturan sebagai penjaga harmoni. Dan, hukuman dan ganjaran, dan pahala dan dosa adalah alat efektif untuk mengatur kehidupan: dengan Tuhan sebagai penjaga harmoni tersebut. Itulah konsep awal keseimbangan alam yang harmoni.

Lalu demi menjaga kehidupan, manusia harus berusaha mencari makan. Tanpa makan tubuh akan goyah dan mati. Maka konsep bekerja menjadi keniscayaan yang terjadi. Manusia gua berburu dan menangkap hewan dan ikan serta memetik buah dan tumbuhan untuk kelangsungan hidupnya. Semua itu terejawantahkan dalam kegiatan. Berburu adalah alat untuk memeroleh makanan. Dari sinilah konsep bekerja muncul ternyata.

Kehidupan ini paling banyak adalah berurusan dengan hubungan antara manusia dengan manusia lainnya. Atas dasar itulah gambaran harmoni antara kecukupan makanan dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya bisa terpenuhi. Sejak awal sejarah manusia, konflik perebutan makanan - dalam dunia modern disebut politik - selalu mengakibatkan persaingan. Dari situlah awal mula adanya pembatasan ruang dan waktu untuk mencari makanan. Teritori atau kawasan mulai dikuasai. Namun pelanggaran kawasan berburu dan mencari makan pun sering terjadi. Perang tak terelakkan terjadi. Pembunuhan pun tak bisa dihindarkan lagi. Maka lahirlah pekerjaan: ada penjaga, ada prajurit, ada pedagang, ada penguasa, dan bahkan ada raja.

Dalam menjaga harmoni kehidupan itu, semuanya harus bekerjasama, dan bekerja untuk mengatur kehidupan agar semua terjaga, semua terpenuhi. Untuk agar segalanya berjalan baik, maka aturan tentang kehidupan harus dimulai dengan rasa. Ya rasa. Rasa dijadikan alat awal untuk memahami keseluruhan kehidupan. Tuhan yang hadir dalam hati dan jiwa manusia - konsep awalnya untuk memenuhi hasrat hidup abadi - menjadi kunci janji kehidupan abadi dan kebahagiaan. Kata yang tepat merefleksikan rasa dalam hati itu adalah: cinta. Cinta adalah kata kasta tertinggi yang diagungkan untuk meluluhkan rasa apapun juga.

Maka lahirlah harmoni, bekerja dan cinta dalam kehidupan manusia. Semua itu untuk kemaslahatan umat manusia sejak zaman manusia telah ada di dunia. Tujuan manusia hidup bahagia difasilitasi oleh keyakinan dan keimanan berdasarkan sabda Tuhan dan Dewa tentang segalanya. Bahkan semua jawaban tentang harmoni, bekerja dan cinta ada dalam khasanah ayat Tuhan. Dan semua itu ditenteng-tenteng dan dipamerkan ke segala penjuru alam, gua-gua, pantai dan hutan atas nama kebenaran abadi.

Ketika cinta disalahartikan sebagai alat untuk menguasai segalanya - perempuan, harta dan takhta - oleh manusia modern yang bernama politikus, di situlah awal korupsi, kolusi nepotisme. Sejarah tentang perang adalah sejarah tentang pelanggaran akan aturan. Desakan untuk melanggar aturan juga diawali dengan cinta; karena desakan perebutan perempuan (dan laki-laki), karena desakan ketamakan harta, karena desakan akan kuasa.

Jadi ketika Anis Matta membuat tagline harmoni, kerja dan cinta, itu adalah hal yang alamiah dan sejak zaman manusia gua sudah ada. Anis Matta memahami akan kehidupan yang mirip Avatar. Sementara sang koruptor Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq adalah representasi gambaran manusia yang melakukan praktek harmoni, kerja dan cinta secara sempurna. Luthfi Hasan Ishaaq sebagai seorang koruptor dengan lihainya menjaga harmoni antara dirinya dan pengusaha - menghasilkan uang banyak - dan dengan sedikit bekerja - menghasilkan miliara rupiah. Dari sikap menjaga harmoni dan bekerja itu ditambah dengan cinta maka menghasilkan semua tujuan: harta, takhta, wanita. Namun LHI lupa bahwa karena itu pula dia masuk penjara! LHI lupa bahwa di Indonesia ada KPK dan kita bukan hidup dalam zaman manusia tinggal di dalam gua-gua!

Salam bahagia ala saya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 2 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 3 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 7 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kesaksian Terakhir …

Arimbi Bimoseno | 8 jam lalu

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | 8 jam lalu

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 9 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: