Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Bramastyo Dhieka Anugerah

mahasiswa Sastra Jerman Universitas Malang yang ambisius dan senantiasa merintis perubahan

Politik, Mahasiswa, Puisi

OPINI | 28 April 2013 | 20:01 Dibaca: 279   Komentar: 0   0

OLEH: Bramastyo Dhieka Anugerah

Politik menjadi sebuah petaka ketika tidak pro terhadap rakyat, dalam fungsinya politik bisa menjangkau seluruh aspek dalam berbangsa dan bernegara entah itu perkara hukum, ekonomi, social, kultur, pendidikan dan olahraga. Gerakan reformasi mahasiswa (baca: pemuda) pada tahun 1998 menjadi langkah persatuan dan kesatuan seluruh elemen pemuda. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa golongan muda memiliki peran yang sangat penting dalam setiap perubahan yang mewarnai negeri ini. Dimulai pada tahun 1908 yang ditandai dengan berdirinya Budi Utomo yang menjadi tonggak awal peran pemuda dalam mengawal perubahan bangsa, hingga pada tahun 1998 lewat gerakan mahasiswa, di mana pemuda mempersembahkan perubahan negeri ini lewat momentum reformasi yang sejalan mengarahkan bangsa ini pada episode baru kehidupan berdemokrasi.

Pada intinya, kondisi tidak ideal Negara memicu elemen mahasiswa yang melek politik untuk menuntut perubahan dan menjadi garda terdepan sebagai penyambung lidah rakyat. Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus memiliki kekritisan dalam setiap kebijakan pemerintah. WS Rendra dalam puisi Sajak Pertemuan Mahasiswa (1977) menimbulkan sebuah tanya akan kebijakan pemerintah. WS Rendra menulis: Kita bertanya /kenapa maksud baik tidak selalu berguna/ kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga/ Orang berkata“kami ada maksud baik“/ dan kami bertanya/ maksud baik untuk siapa ? Dalam hal ini lebih berfokus pada mahasiswa untuk kembali bertanya atau mengoreksi suatu kebijakan sekaligus mengajak elemen mahasiswa untuk tidak selalu puas dengan kebijakan yang sudah ditentukan.  Kenapa maksud baik atau penawaran untuk hidup yang lebih layak tidak kunjung dirasakan rakyat. Maksud baik yang ditawarkan pemerintah tersebut sebenarnya untuk siapa. maksud baik tersebut benar-benar maksud baik untuk kesejahteraan rakyat atau pemerintah itu sendiri, sedangkan dalam pemerintahan terdapat banyak golongan, kalaupun itu memihak pemerintah. Toh, pasti masih ada perdebatan antar golongan yang ada didalamnya. Ketimpangan sosial selalu ada dalam kehidupan masyarakat atas ketidakadilan, kesewenang-wenangan yang masih jelas ada dalam kehidupan. Terlalu sering sosialisasi tentang pemberantasan premanisme untuk kenyamanan dan keamanan masyarakat. Pada intinya selama kesejahteraan belum merata, premanisme masih akan tetap merajalela.

Keberpihakan

Dalam pentas perpolitikan di Indonesia, sedikit banyak mahasiswa pasti terlibat dalam pelaksanaannya. Ada kalanya mahasiswa melakukan dengan diplomasi atau bahkan aksi. Dalam hal menyongsong era reformasi, di tahun 1998 mahasiswa menggunakan jalur aksi hingga menduduki Gedung DPR/MPR RI. Mahasiswa sebagai agent of change seharusnya menghindari sikap apatis, melek terhadap politik bukanlah hal yang merugikan. Mahasiswa sebagai manusia setengah dewasa dituntut berperan dalam mengawal Negara sebagai sebuah pembelajaran jika kelak nasib Negara berada ditangannya. Disini mahasiswa tidak bisa untuk netral, mahasiswa dilarang netral karena mahasiswa harus mengkaji kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat. Lalu bagaimana kebijakan yang tidak memihak rakyat tapi malah menyengsarakan rakyat hingga menimbulkan pernyataan yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Keberpihakan terlihat jelas siapa di pihak siapa. WS Rendra kembali bertanya: ya !/ ada yang jaya, ada yang terhina/ ada yang bersenjata, ada yang terluka/ ada yang duduk, ada yang diduduki/ ada yang berlimpah, ada yang terkuras/ dan kita disini bertanya:”maksud baik saudara untuk siapa ?/ saudara berdiri di pihak yang mana ? Pertanyaan WS Rendra juga memberikan sebuah gambaran bagi para kaum intelektual, dalam hal ini mahasiswa untuk menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya supaya kelak berguna bagi keluarga, agama dan Negara. Karena setiap ilmu yang didapat bisa menjadi boomerang jika hanya berpatok pada kepentingan pribadi. WS Rendra mengatakan: “Ilmu-ilmu yang diajarkan disini akan menjadi alat pembebasan ataukah alat penindasan ?” Kemudian WS Rendra kembali memberikan wejangan kepada para mahasiswa untuk menggunakan ilmu demi kepentingan rakyat: Kita mahasiswa tidak buta / sekarang matahari semakin tinggi / lalu akan bertahta juga diatas puncak kepala / dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya: kita ini dididik untuk memihak yang mana ? / ilmu-ilmu yang diajarkan disini / akan menjadi alat pembebasan / ataukah akan menjadi alat penindasan ?/ kita menuntut jawaban.

Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah sebuah contoh karya dari pemuda-pemuda Indonesia yang memiliki semangat perubahan bagi bangsanya. Lewat sentuhan dan semangat khas pemuda maka kedua peristiwa bersejarah tersebut lahir dan menjadi saksi semangat pemuda yang tidak hanya berpangku tangan melihat bangsa sedang terpuruk, tetapi sebaliknya juga ikut memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Sumpah Pemuda 1928 adalah sebuah pernyataan politik yang menyatukan bangsa Indonesia dalam satu bangsa, tanah air, dan bahasa. Sedangkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah sebuah tindakan politik yang menciptakan hukum dan berfungsi sebagai bentuk pembuktian hukum. Mahasiswa dalam kapasitas yang tidak sampai terjun langsung dalam politik praktis tentu memiliki gaung ditengah hiruk-pikuk perpolitikan tanah air.

Di Indonesia ada anggapan bahwa ketika politik menjadi panglima, kehidupan rakyat bergantung pada penguasa. Politik yang sebenarnya baik justru menjadi sesat karena oknum yang berorientasi kepada kepentingan pribadi atau golongan sehingga menimbulkan pernyataan bahwa politik identik dengan menjatuhkan, kekotoran, kecurangan, dan kelicikan. Padahal, ketika dikelola dengan baik oleh orang yang berhati bersih, sejatinya politik akan berujung pada negara yang bisa memayungi rakyatnya supaya merasa aman dan mendorong tercapainya kesejahteraan. Mahasiswa bukan lagi boneka yang harus menuruti apa kata penguasa, namun mahasiswa juga harus mempunyai komitmen selama kebijakan itu baik dan bertujuan untuk kesejahteraan rakyat, maka mahasiswa wajib mendukung dengan sepenuh hati. Sudah saatnya debat antar pejabat lebih berbobot dan berkualitas lagi serta jelas arah untuk tercapainya tujuan, bukan debat menghujat seperti kipas angin yang berhembus tanpa menghasilkan apa-apa. Serangan sporadis terhadap lawan politik seakan ada tembok yang dibangun oleh masing-masing kubu dalam pemerintahan. Mahasiswa setidaknya menjadi pendobrak ketika debat di pemerintahan menemui jalan buntu.

Cukup berat beban yang diemban oleh mahasiswa, mulai dari positif-negatif pandangan masyarakat tentang mahasiswa, harapan yang disandarkan kepada mahasiswa, dan banyak hal yang dapat ditempuh oleh mahasiswa untuk mewujudkan pergerakan yang sehat. Apalagi menjelang perebutan kursi 2014 suhu politik semakin menghangat dan mahasiswa dibutuhkan untuk tetap konsisten dan konsekuen berada di pihak rakyat, karena kalangan mahasiswa menjadi target partai politik untuk dijadikan kader instan untuk dipersiapkan bekerja di lapangan. Intelektualitas mahasiswa dianggap mumpuni menjadi rudal-rudal yang dapat digerakkan untuk memecah suara pada basis massa tertentu. Mahasiswa sebagai kader instan partai ditugaskan memberikan pengaruh kepada msyarakat, baik dengan sosialisasi door to door, maupun hanya dengan memasang atribut-atribut kampanye di sudut-sudut pemukiman warga. Semua itu dilakukan hanya karena diberi imbalan rupiah yang disangka menggiurkan di tengah biaya pendidikan yang semakin melangit. Begitu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nasib Buruh Migran di Pintu Akhir …

Eddy Mesakh | | 19 December 2014 | 12:57

Dengan Google Street Kita Bisa …

Daniel H.t. | | 19 December 2014 | 09:34

Tim “Hantu” Menpora Berpotensi …

Erwin Alwazir | | 19 December 2014 | 12:47

Tiga Seniman “Menguak Takdir” …

Ajinatha | | 19 December 2014 | 09:08

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 8 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 14 jam lalu

Meramu Isu “Menteri Rini Melarang …

Irawan | 15 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: