Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Parpol dan 3 Penyebab Reformasi 1998 Gagal!

OPINI | 28 April 2013 | 04:07 Dibaca: 1104   Komentar: 15   4

Waktu nyaris 15 tahun untuk melakukan reformasi gagal total ternyata. Silih berganti presiden hadir menghiasi dinding kantor-kantor jawatan negara. Foto-foto presiden ganteng sampai kaku dan cantik memesona menghiasi halaman koran di seluruh Indonesia. Namun, semua presiden tersebut hanya ada dua yang berhasil memimpin negara. Hanya Presiden BJ Habibie dan Presiden Gus Dur yang dianggap berperan dalam menyelamatkan kehancuran bangsa dan meletakkan dasar demokrasi pancasila lebih berwibawa. BJ Habibie adalah demokrat dan pecinta sejati bangsa, sementara Gus Dur peletak dasar pluralisme bangsa yang berani bertindak menghapus berbagai stigma.

Keberhasilan dua presiden hebat tersebut secara komulatif hanya kurang dari 4 tahun berkuasa. Indonesia selama 10 tahun di bawah kekuasaan Presiden Megawati dan Presiden Susi Bambang Yudhoyono tidak menghasilkan apapun kecuali keterpurukan bangsa. Korupsi semakin merajalela. Penegakan hukum ambruk di bawah ketiak uang dan si kaya. Pemerataan ekonomi jauh dari tingkat pertumbuhan yang dikatakan semakin tinggi angkanya. Jurang dan kesenjangan antara kelompok miskin dan golongan kaya semakin menganga. Lalu apa penyebab kegagalan reformasi yang dulu digadang sebagai solusi jitu berbangsa dan bernegara?

Penyebab kegagalan reformasi 1988 sampai detik ini adalah disebabkan oleh perilaku, kebiasaan dan budaya bangsa Indonesia. Dari ketiga unsur tersebut paling kurang 3 alasan penyebabnya.

Pertama, bangsa Indonesia adalah bangsa yang baik namun keblinger ketika berhadapan dengan kenyataan pahit mengenai nasib sesama. Reformasi 1998 gagal memotong generasi lama yang berkuasa dan terbukti gagal berbuat untuk negara. Partai Golkar sebagai dedengkot korupsi malahan bermetamorfose menjadi partai-partai hasil diaspora. NasDem, Gerindra, Hanura, PKB, PAN, PBB, PKBI, Partai Demokrat adalah anak-anak Golkar sejatinya. Para pemimpin partai-partai itu semuanya adalah orang-orang orde baru semuanya pada akhirnya.

Di luar partai-partai hasil diaspora Golkar itu, hanya ada PPP dan PDIP yang ternyata diisi oleh orang-orang yang itu-itu saja. Mereka adalah sisa-sisa lasykar koruptor penguasa lama yang berbaju baru dengan panji baru rasa lama. Satu lagi PKS sebagai partai anak reformasi paling spektakuler pada akhirnya justru menjadi seperti saudara-saudaranya, anak-anak Golkar yang disebut di muka.

Lewat partai-partai semua para penguasa lama saling merapatkan barisan lari dari wujud lama, berevolusi menunggangi reformasi dan merusak dari dalamnya. Hasilnya, semua bekas penguasa lama justru semakin mengukuhkan kuku kekuasaan dengan perkasa.

Kedua, bangsa Indonesia adalah bangsa pemaaf dan pelupa. Para politikus busuk penghancur negara itu dengan enaknya memanfaatkan kelemahan bangsa. Mereka memanfaatkan agama, budaya dan adat istiadat bangsa sebagai alat mengelabui rakyat yang pemaaf dan pelupa. Pembohong mendapatkan tempatnya. Perkataan dan tutur kata indah para penipu dengan segala cara mampu membuat bangsa Indonesia terlena.

Tujuan reformasi untuk memotong satu generasi korup dan gagal tak menemukan muaranya. Para bekas penguasa orde baru tetap gagah perkasa berkuasa atas nama maaf atas khilaf sebagai penguasa. Hasilnya, para penguasa tersebut adalah produk kegagalan suatu bangsa. Bangsa Indonesia memaafkan kesalahan fatal tanpa menghukum para penguasa lama. Justru dengan reformasi 1998, sekarang ini mereka telah menemukan surganya. Hukum dan keadilan adalan milik mereka. Korupsi menjadi ladang perjuangan dan kenikmatan semesta. Kini tak ada lagi lembaga negara yang tidak melakukan korupsi dan menjarah uang negara. Korupsi Kemenpora diwakili oleh Menteri Andi Mallarangeng sebagai kepalanya. Said Almunawar mewakili koruptor Menteri Agama. Luthfi Hasan Ishaaq mewakili partai baru sebagai dedengkot korupsi dengan baju agama.

Ketiga, beruntung Indonesia memiliki pilar Islam damai, Muhammadiyah dan NU dalam konsep beragama - bukan agama PKS yang segregatif dan pembawa paham Wahabi Arabia. Inilah yang menjadi titik keuntungan - sekaligus dimanfaatkan untuk tujuan buruk - bagi para penguasa. Dua payung organisasi Islam itu mengajarkan kedamaian dan bukan kekerasan kepada para pengikut mereka. Namun, lagi-lagi para penguasa lalim menelikung dan memanfaatkan kesabaran, kebaikan, tawakkal dan keimanan umat Islam yang paripurna.

Indonesia beruntung - sekaligus secara paradoksikal buntung - karena dengan konsep Islam yang damai yang dimanfaatkan secara politis-kultural oleh penguasa. Akibat kelewat damai dan baik rakyat melakukan pembiaran ketika para penguasa bertindak lalim mengurus negara. Tidak terbayangkan jika Islam di Indonesia tidak memiliki Muhammadiyah dan NU - misalnya hanya punya wahabi PKS atau Hizbut Tahrir - pasti akan berantakan seperti Irak, Afghanistan, Pakistan, Mesir, Syria dan beberapa negara di Jazirah Arabia.

Jadi, kegagalan reformasi 1998 adalah karena (1) gampang kasihan dan tidak tegas, (2) bangsa Indonesia yang pemaaf dan pelupa yang dimanfaatkan oleh penguasa, (3) Islam damai ditelikung oleh partai politik dan penguasa. Dengan demikian gagallah reformasi 1998 yang digadang mampu memerbaiki negara. Sampai kapan rakyat tahan menderita?

Salam bahagia ala saya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 8 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 11 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 15 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 17 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: