Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Finra Yufan

Not a lawless learner.

Demokrasi: Teori dan Praktik

OPINI | 28 April 2013 | 16:18 Dibaca: 1276   Komentar: 0   0

Sebagai rakyat Indonesia tentu kita harus tahu apa itu demokrasi. Secara etimologis, demokrasi yang berasal dari bahasa Yunani demos, yaitu rakyat dan cratein, yaitu kekuasaan dan kedaulatan. Perpaduan dari kedua kata tersebut membentuk kata demokrasi yang memiliki pengertian umum sebagai sebuah bentuk pemerintahan rakyat. Secara substansial, demokrasi adalah suatu pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat seperti yang dicetuskan oleh Abraham Lincoln. Demokrasi sering disandingkan dengan kebebesan. Namun, demokrasi dan kebebasan tidaklah identik. Demokrasi merupakan sebuah kumpulan ide dan prinsip tentang kebebasan. Secara singkat, demokrasi merupakan bentuk institusionalisasi dari kebebasan.

Demokrasi di Indonesia berkembang cukup bagus. Indonesia yang mayoritas Muslim membuat demokrasi di Indonesia dibumbui corak-corak islami. Sebenarnya, di dalam Islam itu sendiri tidak dikenal kata demokrasi. Namun, terdapat ajaran-ajaran di dalam Islam seperti prinsip musyawarah yang senada dengan semangat demokrasi bahwa setiap keputusan itu harus berdasarkan kesepakatan bersama, dan mementingkan khalayak banyak. Terdapat tiga pandangan tentang Islam dan demokrasi. Pertama, Islam dan demokrasi adalah dua sistem politik yang berbeda. Kedua, Islam berbeda dengan demokrasi jika demokrasi didefinisikan secara prosedural seperti dipahami dan dipraktikan di negara-negara Barat. Ketiga, Islam adalah sistem nilai yang membenarkan dan mendukung sistem politik demokrasi seperti yang dipraktikkan negara-negara maju.

Dalam perjalan demokrasi di Indonesia yang telah berlangsung hampir lima belas tahun sudah cukup banyak hal-hal positif yang didapatkan untuk kemaslahatan rakyat. Namun, juga tidak dapat dipungkiri ada sisi negatifnya dari demokrasi ini. Dewasa ini, terlihat kebebasan mulai terbuka terutama kebebasan untuk bersuara. Berbeda dengan demokrasi yang berjalan pada pemerintahan terdahulu yang “membungkam” kebebasan bersuara. Suksesnya penyelenggaraan pemilu 2004 dan 2009 menunjukkan hal yang positif dari demokrasi di Indonesia. Rakyat langsung memilih wakil-wakil yang mereka yakini memiliki kredibilitas untuk menjalankan roda pemerintahan dengan baik. Akan tetapi, masih saja ditemui cara-cara kotor dalam demokrasi ini. Calon wakil rakyat banyak melakukan politik uang agar terpilih. Pencitraan dan janji-janji yang tidak disertai dengan realisasi nyata banyak diumbar. Parahnya, beberapa wakil rakyat setelah terpilih justru menjadi angkuh, bahkan korup. Kenyataan yang diterima harus jauh dari konsititusi bahwa wakil rakyat malah sibuk “memperkaya diri” dan tidak lagi mementingkan rakyatnya. Memang tidak dapat disalahkan melihat demokrasi di Indonesia masih berusia muda. Apabila kita membandingkan dengan negara demokrasi lainnya seperti Amerika Serikat, tentu terlalu jauh untuk dapat dibandingkan. Demokrasi di AS sudah 400 tahun lebih berjalan. Saya yakin demokrasi di Indonesia akan semakin dewasa seiring waktu dengan segala tantangan yang dihadapi. Untuk mendukung terlaksananya demokrasi di Indonesia tentu tidak dapat dilepaskan dari prinsip-prinsip Islam dan norma-norma dari demokrasi, seperti musyawarah, mufakat, kejujuran, kebebasan nurani, persamaan hak, dan yang tak kalah penting adanya kesadaran akan pluralisme. Generasi muda Indonesia nantinya juga diharapkan untuk menjalankan demokrasi Indonesia sehingga menuju arah yang lebih baik. Wallahu a’lam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Kaesang: Anak Presiden Juga Blogger …

Listhia H Rahman | 7 jam lalu

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 10 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 12 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 8 jam lalu

Penderita Lumpuh Layu Itu Hidupi Dua Kakak …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Jalasveva Jayamahe, Mengembalikan Kejayaan …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Buah Strawberry untuk Kesehatan Jantung …

Puri Areta | 8 jam lalu

Menangkan Demokrasi di Hong Kong …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: