Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Agus Sutondo

Aku Tetap Sayang dan Cinta Indonesia

Analisa Politik Peta Pemilu 2014 di Kota Depok

OPINI | 26 April 2013 | 07:02 Dibaca: 372   Komentar: 2   1

Pesta demokrasi lima tahunan Pemilihan Umum 2014, dalam hitungan bulan lagi akan segera dilaksanakan, saat ini beberapa Partai Politik tentunya sudah siap mempromosikan diri untuk menarik simpati dukungan dari masyarakat.

Seperti biasa dan dianggap lumrah, bila menjelang pemilihan umum selalu saja partai politik berupaya untuk melakukan pendekatan pada masyarakat, berbagai cara dilakukan yang penting ada kesan seakan-akan peduli pada masyarakat, walaupun faktanya banyak janji-janji manis yang tak pernah ditepati setelah mereka memperoleh kekuasaan.

Ironisnya justru masyarakat tak pernah kapok atau belajar dari pengalaman, padahal moment pemilihan umum adalah langkah yang tepat untuk menentukan siapa yang layak dipercaya menjadi wakil mereka demi perbaikan nasib bangsa kedepan.

Beberapa regulasi sebagai payung hukum bagi pelaksanaan pemilihan umum 2014 memang sudah ada, walaupun pembahasananya ketika itu memakan waktu yang cukup lama karena banyak materi-materi pokok yang diperdebatkan dan biasanya lebih condong bermuara pada kepentingan masing-masing partai politik yang mempunyai kursi di DPR RI. Alhasil dari regulasi yang sudah disahkan oleh DPR tersebut, kini beberapa tahapan pelaksanaan pemilu 2014 sudah banyak dijalankan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku lembaga yang diberi wewenang sebagai penyelenggara pemilu.

Dari beberapa tahapan tersebut, KPU sudah memutuskan hanya ada 12 Partai Politik yang lolos sebagai peserta pemilu 2014, yakni, Golkar, PDIP, Hanura, Gerindra, PAN, PKB, PPP, Nasdem, Partai Demokrat, PKB, PBB dan PKPI. Untuk saat ini masing-masing Partai Politik tersebut sudah harus mempersiapkan diri untuk mengirimkan daftar calon legislatif baik untuk DPR, DPRD Propinsi maupun DPRD Kabupaten dan Kota paling lambat 22 April 2014.

Terlepas dari semua tahapan pemilu tersebut, baiknya mari kita coba analisa terkait dengan peta politik pemilihan umum 2014 di Kota Depok, namun sebelum kita analisa peta politik di Kota Depok tahun 2014, marilah kita coba telusuri terlebih dahulu kondisi Pemilu 2009 Di Kota Depok.

Hasil yang dicapai cukup menarik karena dari 44 peserta pemilihan umum di Kota Depok, hanya 9 Partai Politik yang berhasil meraih kursi di DPRD Kota Depok, perolehan kursi ini tersebar di 6 Daerah Pemilihan (Dapil), yaitu Daerah Pemilihan (Dapil) Cimanggis, Sukmajaya, Pancoran Mas, Limo, Beji dan Sawangan.

Dalam konteks Analisa Peta Politik Pemilihan Umum 2014, terutama bisa kita mulai dari perubahan pemekaran wilayah kecamatan di Kota Depok yang berubah menjadi 11 kecamatan dari 6 kecamatan yang ada sebelumnya. Walaupun jumlah kecamatan lebih banyak dari sebelumnya namun jumlah dapil tetap tidak berubah, perubahan hanya terjadi pada penggabungan beberapa kecamatan menjadi satu dapil. Misalkan kecamatan beji yang dulu merupakan satu dapil kini bergabung bersama dengan kecamatan limo dan Kecamatan Cinere satu dapil dengan alokasi 9 kursi, Padahal dulu Kecamatan Limo dan Kecamatan Cinere merupakan satu kecamatan dan satu dapil, begitu juga dengan kecamatan beji, dulu merupakan satu dapil.

Begitu juga dengan Dapil Kecamatan Sukmajaya dengan alokasi 7 kursi, sebelum adanya pemekaran wilayah antara kecamatan sukmajaya dan kecamatan cilodong, dulu kedua kecamatan ini merupakan satu dapil dan kini kecamatan Cilodong justru digabungkan dengan Kecamatan Tapos menjadi satu dapil dengan alokasi 10 kursi, Selanjutnya Dapil kecamatan Cimanggis dengan alokasi 7 kursi, sebelum adanya pemekaran wilayah antara kecamatan Cimanggis dan kecamatan Tapos, dulu kedua kecamatan ini merupakan satu dapil dan kini kecamatan Tapos justru digabungkan dengan Kecamatan Cilodong menjadi satu dapil.

Secara lengkap penentuan dapil dan alokasi kursi DPRD sebagai berikut :

1. Dapil 1 Kecamatan Cimanggis = 7 Kursi

2. Dapil 2 Kecamatan Cilodong dan Tapos = 10 kursi

3. Dapil 3 Kecamatan Bojong Sari, Sawangan dan Cipayung = 10 Kursi

4. Dapil 4 Kecamatan Beji, Limo dan Cinere = 9 Kursi

5. Dapil 5 Kecamatan Sukmajaya = 7 kursi

6. Dapil 6 kecamatan Pancoran Mas = 7 Kursi

Berdasarkan analisa penulis, dengan pembagian Daerah Pemilihan (Dapil) yang tetap berjumlah enam dapil namun kecamatannya dipisah dan bergabung dengan wilayah kecamatan lain, tentunya kondisi ini akan berpengaruh terhadap peta kekuatan masing-masing partai politik dan peta perolehan kursi dimasing-masing dapil.

Begitu juga dengan angka bilangan pembagi pemilih (BPP) yang diperkirakan berkisar di angka belasan ribu suara perkursi, misalkan kecamatan sukmajaya diperkirakan jumlah pemilih kurang lebih 229.663 dan yang mempergunakan hak pilihnya diperkirakan hanya 120.000 suara sah, maka diperkirakan satu kursi di kecamatan sukmajaya kurang lebih 17 ribu suara perkursi, perhitungan ini diambil dari jumlah suara sah dibagi alokasi 7 kursi.

Akibat perubahan Daerah Pemilihan  dan besarnya bilangan pembagi pemilih, maka diprediksi hanya ada 8 partai politik yang mampu memperebutkan kursi, dan diperkirakan hanya ada 6 partai politik yang akan memperoleh 6 atau 7 kursi yakni, PDIP, Partai Hanura, Partai Gerindra, PKS, PAN dan Golkar, bahkan diprediksi Partai Hanura dan Partai Gerindra bisa memperoleh lebih dari 6 kursi, hal ini berdasarkan elektabiltas kedua partai politik tersebut di Kota Depok yang semakin meningkat tajam.

Sisa kursi yang ada tentunya akan diperebutkan antara PKB, PPP, Nasdem Atau Partai Demokrat, Khusus untuk Partai Demokrat diprediksi bakalan merosot sangat tajam perolehan kursinya, kondisi ini terjadi mengingat Partai Demokrat tertimpa badai tsunami korupsi yang melibatkan elit-elit Partai Demokrat.

Mengapa hanya ada lima Partai Politik yaitu PDIP, PAN, PKS dan golkar yang memperoleh 6 atau 7 kursi sedangkan Partai Hanura dan Gerindra lebih dari 6 kursi ? Sebab PDIP, PAN, PKS dan Golkar didukung oleh suara massa tradisional mereka, khusus PKS tentunya akan didukung habis-habisan oleh penguasa wilayah yang notabene berasal dari kader PKS, sedangkan dukungan pada Partai Hanura dan Gerindra justru akan didapat dari suara massa mengambang yang sebelumnya pernah mendukung Partai Demokrat dan suara pemilih pemula, Khusus untuk pemilih pemula tetap tidak akan jauh dari pilihan pada keenam partai politik tersebut kecuali ke PKS.

Mengapa PKS kehilangan suara pemilih pemula, semua berawal dari tingkah laku elit-elit PKS serta hebohnya kasus suap impor daging di kementerian pertanian dan peristiwa ini selalu menghiasi media cetak maupun elektronik serta media sosial didunia maya. Perlu menjadi catatan, khusus untuk dunia maya, hampir seluruh pemilih pemula di Kota Depok adalah pengguna internet aktif tetapi mereka hanya sebagai pemerhati pasif saja terkait dengan hiruk pikuknya kasus suap impor renyah daging berjanggut di Kementerian Pertanian.

Begitu juga dengan penguasa wilayah Kota Depok yang tidak mampu menjalankan kebijakannya, misalkan terkait predikat Kota Depok sebagai Kota dengan pelayanan publik terburuk se Indonesia selama dua tahun berturut-turut dan ini selalu menjadi opini publik di media sosial facebook, dan publikasi ini tentunya menjadi catatan bagi pemilih pemula yang walaupun pasif tetapi mereka adalah pemilih-pemilih cerdas.

Demikian sedikit analisa yang bisa disampaikan, karena keterbatasan ruang pada postingan ini, maka yang disampaikan hanya point-point tertentu saja tanpa mengurangi hasil kesimpulan dari analisa Peta Politik Pemilihan Umum di Kota Depok 2014.

Berita Lainnya :

Pesta Pora Oknum Ustad di Kota Depok

Pusat Rehabilitasi Korban Politik Kancil Pilek

Pemilu 2014 di Kota Depok Rawan Manipulasi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 7 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 7 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 8 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Tak Sering Disorot Kamera Media, Kerja Nyata …

Topik Irawan | 7 jam lalu

Siasat Perangi KKN Otonomi Daerah …

Vincent Fabian Thom... | 7 jam lalu

Pancasila : Akhir Pencarian Jati Diri Kaum …

Vincent Fabian Thom... | 7 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 8 jam lalu

Naga Tidur Mengintai …

. Ibsah | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: