Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Andri Ferdana

Iam an ordinary woman.

Kaderisasi Melatih Mental Karakter Seorang Mahasiswa

OPINI | 25 April 2013 | 15:09 Dibaca: 842   Komentar: 0   0

Kaderisasi adalah kegiatan bepikir, berpengalaman, sebagai kesatuan proses yang akhirnya membentuk karakter. Sebagai program studi yang memiliki cita-cita pendidikan, teknik metalurgi butuh disokong oleh mahasiswa dan alumni yang memiliki karakter alumni yang ideal dan mahasiswa dengan kemampuan berkomunikasi yang baik. Himpunan mahasiswa tingkat program studi selayaknya dijadikan prasyarat mahasiswa untuk beraktifitas di lingkungan kampus.

Manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai subjek kebudayaan, akan selalu serta merta mengubah sistem dan cara dalam kehidupannya sehingga dapat lebih memudahkan dan memperbaiki situasi. Sama hal nya dengan kaderisasi, proses kaderisasi akan mengikuti perkembangan zaman, kaderisasi yang dilakukan pada zaman dahulu yang membutuhkan mahasiswa yang berani melawan tirani dibutuhkan kaderisasi yang menggunakan pelatihan fisik dan mental. Namun perkembangan sekarang yang menuntut mahasiswa yang kritis dan berwawasan luas tipe kaderisasi yang dibutuhkan pun disesuaikan dengan tujuan tersebut.

Sesungguhnya kaderisasi bertujuan sebagai akselerasi pengenalan terhadap kehidupan kampus, dan sebagai penyesuaian karakter yang berkembang di kampus. Esensi kaderisasi yang baik tersebut sebaiknya tidak dipergunakan untuk hal-hal yang kurang baik seperti ajang balas dendam terhadap dengan apa yang sebelumnya ia alami.

Kebiasaan menggunakan cara yang kurang baik, menurut saya dapat dikarenakan 2 hal :

1. Karena kebiasaan himpunan tersebut. Kebiasaan merupakan hal yang sulit untuk kita ubah, namun bisa diusahakan jika kita meniatkan.

2. Ajang balas dendam. Pada bagian ini membuktikan adanya kesalahan kaderisasi yang membuat seorang menjadi dendam. Dan hal ini sangat membahayakan, jika kaderisasi menjadi sebuah kebiasaan pembalasan dendam, maka fungsi kaderisasi yang sesungguhnya akan terlupakan.

Kebiasaan pemberian hukuman yang berlebihan serta tidak mendidik, serta pencemoohan bagi pelanggar dalam kaderisasi dan hal lain seperti pengucilan seringkali menjadi kebiasaan. Yang parahnya kebiasaan tersebut tidak dirasakan oleh sang pelaku ataupun objek tersakiti. Hal ini akan membentuk watak yang memandang Kaderisasi erat hubungannya dengan hal-hal tersebut dan menganggap biasa terhadap fenomena tersebut. Dengan demikian, setiap permasalahan akan membawa kita ke jenjang yang lebih tinggi jika berhasil kita hadapi dengan baik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

7 News: Korban Gempa 3.200 dan Masih Terus …

Tjiptadinata Effend... | | 27 April 2015 | 19:26

Tindakan Kekerasan dalam Paket Berita …

Ombrill | | 27 April 2015 | 18:44

[BANJARMASIN] Jelajah Non Tunai bersama Bank …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:00

Pemindahan Ibukota Jakarta : Belajar dari …

Hardian Relly | | 27 April 2015 | 11:00

Blog Competition: Kotaku Kota Cerdas! …

Kompasiana | | 27 April 2015 | 01:52


TRENDING ARTICLES

Ahok dan Pelacuran …

Muhammad Armand | 3 jam lalu

Kurir Narkoba Dieksekusi untuk Menyelamatkan …

Wildan P | 4 jam lalu

Save Haji Lulung: Saatnya Tunjukkan Kalau Ga …

Herulono Murtopo | 6 jam lalu

Ups! Ruangan Haji Lulung Digeledah Polisi …

Bambang Setyawan | 6 jam lalu

Keputusan PSSI Berbanding Lurus dengan FIFA …

Waldy | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: