Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Andri Ferdana

Iam an ordinary woman.

Kaderisasi Melatih Mental Karakter Seorang Mahasiswa

OPINI | 25 April 2013 | 15:09 Dibaca: 781   Komentar: 0   0

Kaderisasi adalah kegiatan bepikir, berpengalaman, sebagai kesatuan proses yang akhirnya membentuk karakter. Sebagai program studi yang memiliki cita-cita pendidikan, teknik metalurgi butuh disokong oleh mahasiswa dan alumni yang memiliki karakter alumni yang ideal dan mahasiswa dengan kemampuan berkomunikasi yang baik. Himpunan mahasiswa tingkat program studi selayaknya dijadikan prasyarat mahasiswa untuk beraktifitas di lingkungan kampus.

Manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai subjek kebudayaan, akan selalu serta merta mengubah sistem dan cara dalam kehidupannya sehingga dapat lebih memudahkan dan memperbaiki situasi. Sama hal nya dengan kaderisasi, proses kaderisasi akan mengikuti perkembangan zaman, kaderisasi yang dilakukan pada zaman dahulu yang membutuhkan mahasiswa yang berani melawan tirani dibutuhkan kaderisasi yang menggunakan pelatihan fisik dan mental. Namun perkembangan sekarang yang menuntut mahasiswa yang kritis dan berwawasan luas tipe kaderisasi yang dibutuhkan pun disesuaikan dengan tujuan tersebut.

Sesungguhnya kaderisasi bertujuan sebagai akselerasi pengenalan terhadap kehidupan kampus, dan sebagai penyesuaian karakter yang berkembang di kampus. Esensi kaderisasi yang baik tersebut sebaiknya tidak dipergunakan untuk hal-hal yang kurang baik seperti ajang balas dendam terhadap dengan apa yang sebelumnya ia alami.

Kebiasaan menggunakan cara yang kurang baik, menurut saya dapat dikarenakan 2 hal :

1. Karena kebiasaan himpunan tersebut. Kebiasaan merupakan hal yang sulit untuk kita ubah, namun bisa diusahakan jika kita meniatkan.

2. Ajang balas dendam. Pada bagian ini membuktikan adanya kesalahan kaderisasi yang membuat seorang menjadi dendam. Dan hal ini sangat membahayakan, jika kaderisasi menjadi sebuah kebiasaan pembalasan dendam, maka fungsi kaderisasi yang sesungguhnya akan terlupakan.

Kebiasaan pemberian hukuman yang berlebihan serta tidak mendidik, serta pencemoohan bagi pelanggar dalam kaderisasi dan hal lain seperti pengucilan seringkali menjadi kebiasaan. Yang parahnya kebiasaan tersebut tidak dirasakan oleh sang pelaku ataupun objek tersakiti. Hal ini akan membentuk watak yang memandang Kaderisasi erat hubungannya dengan hal-hal tersebut dan menganggap biasa terhadap fenomena tersebut. Dengan demikian, setiap permasalahan akan membawa kita ke jenjang yang lebih tinggi jika berhasil kita hadapi dengan baik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 4 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 5 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 5 jam lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Dampak ‘Mental Proyek’ Pejabat …

Giri Lumakto | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: