Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Sunita Yani

penyair dari gunung serindit Aku cinta Indonesia..Kalau tidak bisa memperbaikinya paling tidak kita tidak turut serta selengkapnya

Isu Wahabi dan Politik Pecah-belah ala Penjajah

OPINI | 24 April 2013 | 21:58 Dibaca: 737   Komentar: 19   4

HOS cokra aminoto, siapa orang tak mengenalnya. Kehadiranya merupakan titik awal munculnya organisasi modern dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Murid-muridnya sebut saja Soekarno, Muso, dan Kartosuwiryo mewarnai pelangi gelombang perjuangan republic ini. Meskipun akhirnya ketiga murid itu muncul bermetamorfosis dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan garis hidup yang dipilihnya masing masing. Soekarno tumbuh menjadi nasionalis, katosuwiryo menjadi agamis dan Muso menjadi marxis. Namun kesemuanya tidak pernah lepas dari pengaruh bimbingan sang guru, HOS cokro aminoto.

Semangat perjuangan HOS cokro aminoto menggunakan organisasi yang modern tumbuh setelah perjalanan ke  mekah dan berkenalan dengan para pejuang-pejuang dari Negara gurun pasir itu. Para wahabi, begitulah musuh-musuhnya menjuluki orang orang yang gigih berjuang memerdekakan bangsa dan negaranya dari pejajahan bangsa asing yang juga bercokol negri-negri jazirah arab hingga afrika. Selain pergerakan kemerdekaan para wahabi itu juga melakukan gerakan “pemurnian agama”, karena ditengarai terlenanya umat islam dalam keengganan berjuang melawan para penjajah karena telah terjadinya penyimpangan dari ajaran islam yang original. Para ahli agama terjebak dalam lingkaran pemikiran  sufistik, menunggu nasib dan takdir datangnya kemerdekaan.Kondisi semacam ini tentu saja membuat para penjajah menjadi semakin kuat menghunjamkan kukunya. Dukungan penjajah kepada golongan sufistik ini tidak lain adalah untuk melanggengkan kekuasaan di negri jajahanya itu. Back to basic alias kembali kepada alqur’an dan assunnah, adalah ajaran yang selalu di dengungkan oleh para wahabi. Gerakan ini pada mulanya di awali oleh Ibnu taimiyah. Dan mengilhami generasi berikutnya yaitu  Muhammad ibnu wahhab.

Menilik kembali sejarah pejuangan sebelum hadirnya HOS cokro aminoto dan kaum pergerakan kemerdekaan, kita dapat membaca para pejuang Indonesia  lainya seperti Tuanku imam bonjol, haji miskin dan orang-orang disekitranya adalah para pejuang yang telah bersentuhan dengan semangat wahabi. Perang padri adalah wujud nyata dari puncak perselisihan paham wahabi dan sufistik islam yang berakulturasi dengan budaya lokal. Kesempatan semacam ini selalu dijadikan momen oleh para penjajah di negri manapun untuk menerapkan politik pecah belah. Keberpihakan belanda kepada kaum pihak adat karena mereka lebih mudah diajak berkolaburasi dalam kerjasama saling menguntungkan, dan menjadikan kaum padri atau wahabi sebagai musuh bersama. Sedangkan pihak yang di sebut terpengaruh wahabi biasanya bersikap anti penindasan dan penjajahan. Namun demikian semua tahu bahwa pada masa berikutnya yang akan berkuasa adalah para penjajah itu, bukan dari kaum pribumi. Di tanah jawa sentot ali basyah, dan kyai mojo  tangan kanan pangeran Diponegoro di tengarai telah terpapar pemikiran wahabi yang anti penjajahan. Dalam salah satu buku sejarah perang dipenegoro sebenarnya sang pangeran telah di peringatkan oleh pamanya yang sufistik islam jawa  bahwa perlawanan Diponegoro akan sia-sia, karena belum waktunya tanah jawa ini merdeka. Namun sang pangeran tidaklah demikian, berguguran di jalan kebenaran membela nusa bangsa dan harga diri lebih utama ketimbang duduk manis menunggu datangnya kemerdekaan sambil melihat ketdak adilan dan kesewenang-wenangan meraja lela di depan mata. Dengan di bantu sentot ali basyah dan kyai mojo perang Diponegoropun berkobar. Pihak belanda menghabiskan biaya besar menumpas diponegoro dan pengikutnya. Sentot ali basyah di buang ke Sumatra barat, dn disana dia kembali bersekutu dengan orang-orang padri melawan belanda di bawah pimpinan Tuanku imam bonjol.

HOS Cokro Aminoto, Soekarno, Ahmad Dahlan, Hi. Agus salim, Imam Bonjol, Sentot ali basyah Prawirodirjo, kyai Mojo adalah sebagian dari nama para pejuang pejuang sekaligus pahlawan Indonesia yang dalam hidupnya telah terpapar semangat perjuangan para wahabi.  Memiliki jiwa progresive dan revolusioner, tidak mudah menyerah dan pantang membiarkan ketidak adilan berlalulalang di hadapan mereka.

Bila dikaitkan dengan kondisi sekarang isu wahabi bertiup kembali setiap  menjelang pemilu sebenarnya adalah lagu lama. Lagu yang selalu dinyanyikan oleh orang-orang tententu yang tidak ingin melihat umat islam bersatu. Memberikan julukan kepada organisasi islam tertentu dengan sebutan wahabi sementara yang lain di sebut ahlussunah wal jamaah adalah pengkotakan islam yang biasa di gunakan para penjajah. Tujuanya tidak lain adalah memecah belah agar umat islam menjadi lemah. Perbedaan ini di pelihara dan di jaga oleh mereka agar sewaktu-waktu dapat jadi peluru yang digunakan untuk menghabisi kekuatan islam itu sendiri. Apakah perbedaan wahabi dan ahlussunah wal jamaah. Bila mencari hakikatnya sesungguhnya keduanya sama. Kalaulah ada beda hanya pada hal-hal yang tidak prinsipil. Jadi seolah-olah membesar-besarkan hal kecil dan mengecilkan kepentingan yang lebih besar. Amatlah picik cara berpikir seperti ini.

Politik pecah belah gaya penjajah, Politik belah bambu yang masih laku Politik adu domba sesama agama masih cukup ampuh di gunakan pada masyarakat Indonesia, khususnya umat islam. Prediksi partai islam tidak akan pernah menang memang tampaknya sangat mungkin jadi kenyataan. Isu wahabi di tiupkan dan dijadikan jarum untuk menggembosi partai islam. Dan naifnya isu itu di gelembungkan oleh orang yang juga beragama islam. Tentu saja ini akan pula di amini dan dijadikan  partai tanpa label islam untuk menyerang kompetitornya dalam pemilu nanti. Bila ada diantara kita mendiskreditkan pemikiran wahabi mungkinkah kita sedang lupa sejarah bangsa kita sendiri??

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 12 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 13 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 15 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: