Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Amin

suka menulis meski tidak rajin

“Indonesia Sepenggal Firdaus”, Aku suka itu (Cukup 1/2 milyar detik saja)

OPINI | 24 April 2013 | 13:12 Dibaca: 394   Komentar: 4   1

Kalimat indah berkesan melo, “Indonesa Sepenggal Firdaus” adalah sebuah mimpi. Baru ada di angan-angan dan belum nyata. Konotasinya adalah Indonesia yang indah, nyaman, dan dirindukan. Sudah lama aku memimpikan itu, baru sekarang impianku bertemu dengan impian orang lain. Aku sebenarnya tidak begitu yakin dengan berita gembira ini, karena ada paradoks yang sangat mengganggu benakku. Di tengah-tengah  suara anak negeri yang menuduh Indonesia payah, mengatakan dirinya malu menjadi bangsa Indonesia, Negeri ini di ambang kehancuran, tidak ada yang beres di Negeri ini, jika ingin Indonesia maju maka pengelolaan negara di-out source-ingkan saja kepada negara lain. Di tengah-tengah suara sumbang itu, tiba-tiba ada yang meneriakkan: INDONESIA SEPENGGAL FIRDAUS. Ini luar biasa. Ini paradoks nasional. Tentu jika benar bahwa mimpi itu diusung dengan serius dan bukan omomg kosong. Itulah sebabnya aku bilang, “Aku suka itu”.
Bagiku mimpi itu adalah harapan, dan harapan adalah kepercayaan diri, sedangkan kepercayaan diri adalah keberhasilan. Aku tidak terlalu pusing siapa yang menyuarakan mimpi itu. Mau gembel, mau gombal, mau gembul, siapapun, gak masalah. Mau sopir taksi, mau penjual besi, mau artis seksi, atau para milisi (maksudnya tentara), silakan saja, aku wellcome. Pun kalaupun dia atau mereka yang mencetuskan kalimat itu adalah institusi pemerintah, atau LSM, atau perkumpulan pengamen, atau ormas atau partai politik, bagiku please-please saja. Ruang demokrasi di negeri ini tidak punya pantangan dengan semua gagasan tentang kemakmuran. Rakyat dan tentu saja aku (padahal aku juga rakyat. Ah gak papa biar mantebs) tidak akan bisa dikibuli dengan ide kosong bak jualan obat di Pasar Senen, sebagaimana rakyat dan aku juga tidak akan sungkan-sungkan mendukung gagasan yang serius tentang kesejahteraan negara merdeka ini. Hitung-hitung aku belajar sikap kenegarawan.

Konon seorang politisi yang negarawan adalah politisi yang setelah dipercaya mengurus negara maka dia fokuskan pikiran dan kemampuannya untuk tugas itu dan program-programnya ditujukan untuk semua orang termasuk yang bukan golongan dan kelompoknya. Maka bagiku, meniru sikap itu, kita-kita yang rakyat kecil, yang wong cilik ini, juga bisa dan kudu bersikap negarawan. Namun kenegarawanan kita berbeda dengan bapak ibu pejabat itu. Kenegarawanan kita adalah sikap open mind, terbuka terhadap semua ide bagus, tak peduli ide siapa. Kalau ide itu solusi brilian, kenapa tidak kita dukung. Why not? Kata Tukul Arwana.

Bukannya kalau asal mendukung nanti kita dibohongi, karena politik itu kebohongan? Sudah banyak bukti nyata bahwa politik itu dunia bohong. Harus mau membohongi dan siap dibohongi. Man la bohonga lahu fala politika lahu*). Itu dalil ngawurnya. Artinya: Barangsiapa tak bisa berbohong, maka jangan berpolitik. Begitu kata orang-orang. Tapi bagiku tidak begitu. Pada Era Reformasi ini, ruang bagi para pembohong makin sempit dan ke depannya akan semakin sempit. Partai Politik cerdas tidak lagi berpolitik berbasis kebohongan. Indonesia esok hari adalah Indonesia cerdas yang mau dan mampu memajukan dirinya. Bukan Indonesia yang masih bodoh dan menjadi korban pembohongan. Baik pembohongan oleh anak negeri maupun pembohongan oleh asing. So,… bagiku sekali lagi, aku welcome dengan gagasan “INDONESIA SEPENGGAL FIRDAUS” ini.

Konon FIRDAUS adalah nama surga paling mewah di akhirat nanti yang dibangun Tuhan untuk manusia. Kalau surga saja sudah “la ainun roat wala udzunun samiat” (Mata tak pernah melihat, telinga tak pernah mendengar) lalu seperti apa surga paling mewah itu. Dan kemudian surga paling mewah itu dicoel sedikit dan “kun fa yakun” jadilah Indonesia. Itu rekonstruksi-ku tentang ‘INDONESIA SEPENGGAL FIRDAUS”. Hanya saja yang aku yakini, kalau “kun fa yakun”-nya Allah itu sak deg sak nyet (tiba-tiba langsung) jadi, tapi kalau “kun fa yakun”-nya manusja perlu proses panjang dengancara memulai, membangun, dan mengokohkannya. Perlu perencanaan, pendanaan, bekerja keras, motivasi, pengamanan, dan seterusnya. Perlu waktu lama untuk mewujudkan kaun (kondisi, kehidupan, cita-cita) yang diimpikan itu menjadi kenyataan.

Jika boleh sedikit iseng mengutak-atik huruf, kalimat “kun fa yakun” yang terdiri dari 6 huruf (hijaiyah) itu cukup diucapkan dalam waktu kurang dari 2 detik, tetapi untuk meng-“kun fa yakun”-kan ‘INDONESIA SEPENGGAL FIRDAUS” dalam alam nyata, firasatku (kayak para normal aja) paling tidak dibutuhkan waktu setengah milyar detik. Stop, jangan bingung, setengah milyar detik itu 5787 hari dan 5787 hari itu 16 tahun kurang sedikit. Ah…. Sudahlah kalo mbulat-mbulet angka gini tambah pusing saya. Barangkali Anda juga.

Kalau mengambil inspirasi dari kisah Nabi-Nabi, bagi Allah, mudah saja mewujudkan mimpi Yusuf Putra Ya’kub menjadi raja, tapi bagi Yusuf, mimpinya baru terlaksana setelah melalui liku-liku kehidupan dan pedihnya perjalanan panjang selama -sebagian disebutkan- 40 tahun atau –sebagian lain disebutkan- 80 tahun. Salah satu penggal perjalanan hidupnya harus dilalui dengan cara difitnah secara keji bahkan oleh Ibu Negara Mesir pada waktu itu yang konon bernama Zulaikha. Yang jelas pada akhirnya tak ada pilihan lain kecuali mempersilakan Yusuf untuk mengemban mandat mewujudkan “MESIR SEPENGGAL FIRDAUS”. Setelah itu semua orang bermimpi ingin hidup di Negeri Mesir yang gemah ripah loh jinawi,toto tentren kerto raharjo, baldatun toyyibatun wa robbun ghofur, karena di sana ada Raja Muda yang sangat tampan, pandai mengelola logistic dan ekonomi negara, serta dermawan. Ada kedamaian yang terpancar dari negeri itu yang entah dari mana datangnya, barangkali dari Tuhannya Raja Muda Sangat Tampan yang bernama Yusuf itu. Benar,…… Pasti karena dia seorang Nabi, dan ayahnya pun seorang Nabi. Tuhan melimpahkan barokah-Nya bagi negeri itu.

Dan Indonesia bukan Mesir, bukan pula muncul pada jaman jauh sebelum masehi. Indonesia hadir saat ini, ketika Black Berry ditenteng oleh anak-anak SD, ketika Android digenggam oleh anak-anak SMP. Jaman ketika teknologi manusia mampu menghancurkan sebuah gunung dalam hitungan jam saja. Jaman yang konon manusia sudah mampu membuat tsunami sebesar tsunami aceh dengan teknologi nuklirnya. Maka seharusnya tidak perlu memakan waktu 40 atau 80 tahun. Seharusnya cukup 10 atau 15 tahun saja, atau 500 juta detik saja Indonesia menjadi ‘SEPENGGAL FIRDAUS ITU’.

Tapi entahlah, akan berapa lama negeri yang dicintai Allah ini akan mampu mewujudkan mimpi indah itu. Barangkali kuncinya ada pada sikap kenegarawanan para politisi dan juga sikap kenegarawanan rakyatnya. Yang jelas, jujur,… aku bingung bagaimana cara me-negarawan-kan bapak-ibu-mbah-mas-teteh politisi itu. Lebih pusing lagi bagaimana cara me-negarawan-kan orang-orang seperti aku dan sahabat serta temanku sebangsa-setanah air ini yang hidupnya mondar-mandir mencari sesuap nasi untuk anak istri. Yang hidupnya mengejar sisa-sisa pahala yang tercecer dari para ustadz dan ustadzah itu. Barangkali masa lalu indahku sebagai seorang santri bisa menyiasati kondisi ini dan suatu hari nanti sempat menyaksikan INDONESIA YANG SEPENGGAL FIRDAUS itu.

*)  Mohon maaf, kalimat mirip bahasa Arab ini ngawur habis. Tidak ada maksud sedikitpun untuk melecehkan. Ini murni sekedar intermeso agar suasananya rileks. Ini kekayaan budaya asli Indonesia yang saya jiplak dari pak Yai di kampung dulu. Beliau pernah membuat dalil-dalilan semacam ini. Dia bilang pada waktu itu “wa’dangng.. qooluu… wa’thi’ qooluuu… dibuntel ghodongng.. jati kasabb..” sambil dilantunkan dengan fasih bertajwid, lengkap dengan ikhfa dan qolqolah. Pak Yai-ku itu hanya bermaksud menarik konsentrasi santri-santrinya agar focus kepada taushiyahnya. Entah bagaimana konteksnya waktu itu, yang jelas kalo kalimat beliau itu diuraikan, maka artinya adalah (bahasa jawa): Iwak pindang kolu, iwak pitik kolu, dibuntel godong jati kasab (kasar), atau jika di-Indonesiakan: Ikan doyan, ayam pun doyan, apalagi kalau (dimasak pepes) dengan daun jati yang kasar itu. Awalnya para santri juga bingung, tetapi setelah dijelaskan, barulah pecah tawa kami. Pesannya adalah agar dalam beragama harus berlandaskan ilmu, jangan modal tongkrongan doang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 8 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 8 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 9 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 10 jam lalu

Pembantu yang Berani Mimpi Jadi Big Bos …

Seneng Utami | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kisah Senja …

Angger Christina | 7 jam lalu

Serial Bunny si Kelinci Mungil: “Jujur …

Siti Nurhardianti | 7 jam lalu

Kisah Seorang Pedagang Sayur Naik Haji …

Imam Adryan | 8 jam lalu

Penjahat dan Rumput Liar …

Betty Tiominar | 8 jam lalu

Sejarah Tafsir dan Perkembangannya …

Khoiruz Zadit Taqwa | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: