Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Agus Supriyatna

Hanya Orang Sangat Biasa Saja

Keakraban “Jakarta- Papua” Dalam Semangkok Sup Ikan

REP | 23 April 2013 | 02:07 Dibaca: 216   Komentar: 2   0

Malam merambat tenang dengan langit yang tak mendung, saat rombongan Menteri Dalam Negeri, tiba di Restoran Bagus Pandang, sebuah restoran seafood paling tenar seantero Kota Jayapura. Malam itu, Selasa, 9 April 2013, Gubernur baru Papua, Lukas Enembe, menjamu tamu istimewanya makan malam. Tamu istimewa sang gubenur, tak lain adalah Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, wakil Presiden  RI yang sebelumnya Selasa pagi, melantik Lukas dan Klemen Tinal di Stadion Mandala, Jayapura, sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih periode 2013-2018.


Tiba dalam restoran,  Mendagri yang ditemani Sekjen Kemendagri, Diah Anggraeni beserta beberapa Dirjen, duduk satu meja dengan Gubernur Papua, Lukas Enembe. Suasana keakraban nampak terlihat dari wakil ‘Jakarta’ dan pemimpin Papua tersebut. Sambil memandang kelip gemerlap Kota Jayapura dari restoran, gelak tawa terdengar dari mereka. Restoran Bagus Pandang sendiri, memang terletak di ketinggian. Dari restoran ini, kota Jayapura bisa diringkas dalam satu tebasan pandangan mata. Sangat indah. Malam semakin  hangat, ketika ikar bakar tiba. Makin hangat saat menu yang lain tiba, sup ikan yang segar, cah kangkung, tumis daun pepaya,  dan sambal yang menggoda. Saat makan pun tiba,  gelak tawa terdengar berderai diantara wakil Jakarta dan Papua itu.

Keakraban mereka, seakan menepis segela ketegangan yang. pernah terjadi. Cerita  konflik yang seperti tak kunjung henti, sedikit banyak telah membuat hubungan Jakarta-Papua menegang.  Belum lagi, rusuh Pilkada di beberapa belahan Papua, membuat bumi Cendrawasih memanas. Apalagi, setelah terjadinya penembakan terhadap personil TNI yang menewaskan lebih dari 8 orang prajurit, membuat hubungan antara Jakarta dan Papua sedikit berkontraksi. Tapi malam itu,  di meja makan yang menghidangkan ikan bakar, sup ikan, cah kangkung dan tumis daun pepaya, kontraksi itu tak lagi nampak. Yang ada wajah-wajah sumringah, dan obrolan gayeng.

Mestinya memang  seperti itu, segala perbedaan di bicarakan di meja makan.  Dicari solusinya sambil menyeruput semangkuk sup ikan yang segar. Bukan dengan otot, apalagi molotov dan senjata.  Karena konflik tak berfaedah apa-apa, selain menghasilkan darah dan air mata. Sebab itu, Mendagri, Gamawan Fauzi, saat melantik gubernur baru di stadion Mandala, meminta pemimpin Papua satukan visi dan misi dengan pusat. Suasana makin meriah, ketika usai makan, musik dan nyanyian di dendangkan. Makin meriah lagi, saat ibu Mendagri, Vitta Gamawan Fauzi, menyumbang lagu. Apalagi saat Gubernur Papua, beranjak dari kursi, dan ‘menyawer’ Ibu menteri dan Sekjen Kemendagri, Diah Anggraeni yang ‘diseret’ untuk ikut menari. Semua tergelak senang.

Malam di Restoran Bagus Pandang, semakin meriah,  ketika Mendagri, Gamawan Fauzi, menyumbang suara menyanyikan beberapa lagu. Seperti tak mau kalah, Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal pun ikut unjuk suara. Suaranya merdu Wakil Gubernur pun menuai pujian.

“ Wah, Pak Wagub, ini layak jadi penyanyi nih,”puji Mendagri.

Melihat wakil Jakarta dan Papua, gayeng di meja makan, rasanya harapan akan Papua yang damai tetap menyala. Dengan dialog, di temani semangkuk sup ikan, adalah cara beradab menengahi perbedaan.  Bukan dengan senjata yang justru memperpanjag amarah dan kecurigaan. Kedamaian sulit dilakukan dengan kokangan senjata. Bisa jadi kedamaian itu datang dari semangkok sup ikan yang dihidangkan di meja yang sama. Meja besar bangsa, bernama NKRI. Seperti kalimat penghujung acara makan malam yang diucapkan Mendagri. Di restoran itu, sepotong Papua ia lihat begitu indah dengan kerlip lampunya. Dan ia makin jatuh cinta. Papua, adalah bagian Indonesia, karena itu ia akan selalu berdoa untuk kemajuan tanah Cendrawasih.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Jangan Bakar Jembatan …

Bonekpalsu | 7 jam lalu

Kios Pasar Pon Diperjual Belikan Oknum …

Fajar Agustyono | 7 jam lalu

Kuda-kuda yang Terluka …

Feri Sapran | 9 jam lalu

Dari Desa untuk Bangsa: Sinergi Kepemimpinan …

Mamang Haerudin | 9 jam lalu

BBM Naik, Pelayanan SPBU Pertamina …

Jonatan Sara | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: