Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Eddy Mesakh

Eddy Mesakh, mantan wartawan di lingkungan Persda Network (Kompas Gramedia), yakni Harian Tribun Batam di selengkapnya

Hai Perempuan, Jangan Mau Jadi Caleg!

OPINI | 20 April 2013 | 22:44 Dibaca: 519   Komentar: 1   0

BESOK, 21 April 2013, adalah Hari Kartini, kan? Kita kembali memperingati 134 tahun Raden Ajeng Kartini (Lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun - Wikipedia). Dia seorang pahlawan nasional, tokoh emansipasi di Indonesia, pejuang bagi kaum perempuan.

Bagaimana sebaiknya kita memperingati hari bersejarah bagi kaum perempuan Indonesia itu? Tak cukup berkebaya dan memakai konde tebal di belakang kepala. Lebih dari itu adalah ikut melakukan gerakan politik, yakni bagaimana perempuan bersikap terhadap perpolitikan di negeri kita yang kian amburadul.

Sekarang! Ini momentum sejarah yang sangat tepat bagi Anda yang berjenis kelamin perempuan untuk unjuk “kuasa”. Momentum yang tepat karena tahun ini, 2013, merupakan persiapan jelang pemilihan umum yang rencananya digelar pada 9 April 2014. Dan kita tahu bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) mensyaratkan setiap partai politik wajib memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan sebagai calon legislatif (caleg).

Berdasar jadwal yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), bulan April 2013 ini, semua Parpol peserta Pemilu sudah harus mengajukan nama-nama calegnya ke KPU. Artinya waktu yang dimiliki Parpol cukup sempit jika belum mampu memenuhi kuota tersebut di atas. Dengan demikian, ini saat tepat bagi perempuan “jual mahal” terhadap parpol.

Perempuan jangan mau diperalat oleh para (politisi) lelaki demi memuaskan berahi politik mereka meraih kekuasaan. Karena kita telah melihat bukti manakala libido itu terpenuhi dengan diraihnya kekuasaan, maka para lelaki itu mulai menunjukkan tabiat buruknya, yakni memaksakan kehendak dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan publik. Lebih buruk lagi, tidak sedikit elite parpol tersangkut kasus korupsi dengan memanfaatkan pengaruh dan kekuasaan di tangannya.

Dengan demikian, saya menyarankan agar perempuan jangan mau jadi caleg! Tolak tawaran Parpol kepada Anda untuk dijadikan caleg mereka. Tentu saja bukan menolak mentah-mentah setiap tawaran itu. Tetapi Anda wajib menolak apabila parpol tidak sanggup memenuhi persyaratan yang Anda ajukan. Ya, perempuan harus berani menyodorkan daftar persyaratan kepada parpol bila menginginkan Anda menjadi caleg.

Di antara daftar persyaratan Anda, cantumkan cita-cita perjuangan Anda sendiri untuk kemaslahatan bangsa apabila menjadi caleg. Ini sesuai amanat UU No 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik. Pada Bab III Pasal 5 ayat 2 UU tersebut menyebutkan bahwa tujuan khusus Partai Politik adalah memperjuangkan cita‑cita para anggotanya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Cantumkan syarat-syarat misalnya: Bila Anda (parpol) membutuhkan saya (perempuan) sebagai caleg, maka parpol ini (1) Setiap kader harus senantiasa menjaga wibawa parpol dengan tidak melakukan korupsi atau penyelewengan kekuasaan lainnya seperti jual beli pasal undang-undang; (2) Tidak boleh mengajukan caleg yang pernah dan/atau sering disebut-sebut tersangkut (terindikasi) kasus korupsi tapi selalu lolos dari jeratan hukum lantaran pandai berkelit; (3) Elite parpol tidak menjadikan parpol tersebut sebagai “perusahaan” pribadi; (4) Parpol harus menjadi saluran yang benar-benar bersih bagi aspirasi rakyat secara umum alias tak terbatas pada pendukungnya; (5) Parpol harus secara terbuka menjelaskan kepada publik mengenai sumber-sumber pendapatan dan pembiayaannya; (6) Silakan tambahkan sendiri…. (*)

*) Maaf, tulisan ini hanya ditujukan untuk menyindir politisi lelaki bermental korup dan suka curang. Memang, ada juga politisi perempuan tersangkut korupsi, tapi jumlahnya minor dibanding lawan jenisnya yang suka mendominasi. Anda tak perlu tersinggung kalau Anda seorang laki-laki, politisi, dan tidak korup.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 9 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 10 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 11 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 12 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 10 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 10 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 10 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 11 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: