Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rudyanto Nugraha

Jangan menunggu, hajar saja

Potret Tasripin dan Cagub Jateng yang Korup

OPINI | 19 April 2013 | 16:21 Dibaca: 679   Komentar: 6   0

Kehidupan Tasripin, warga Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menarik perhatiaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).  Lewat akun twitter-nya sang presiden berkicau ‘Saya akan segera mengirim staff khusus untuk mengatasi persoalan hidup Tasripin.”

Rupanya sang presiden terenyuh begitu mengetahui kehidupan yang harus dijalani bocah berusia 12 tahun itu. Ketika jutaan anak seusianya giat menuntut ilmu, Tasripin mesti mengambil alih peran sebagai kepala rumah tangga menghidupi tiga adiknya dengan menjadi buruh tani.

Di rumah papan berukuran 5 meter x 6 meter yang pengap, Tasripin harus menjalani hidup penuh dengan penderitaan bersama tiga adiknya Dandi (7), Riyanti (6), dan Daryo (4).

Sang ibu Satinah, sudah meninggal dunia dua tahun lalu akibat tertimbun longsoran batu ketika menambang pasir, sementara bapak mereka Kuswito dan kakak sulungnya Natim, merantau menjadi pekerja di Kalimantan sejak setengah tahun silam.

Potret kehidupan Tasripin ini sungguh berbanding terbalik dengan para koruptor yang bermewah-mewah dengan uang jarahannya. Meringis rasanya, mengetahui ada warga Jateng yang hidup penuh penderitaan dibalut kemiskinan, sang calon gubernur yang juga pejabat Sekda Provinsi Jateng Hadi Prabowo saat ini, malah berkunjung ke LP Kedungpane Semarang, menyambangi terpidana kasus korupsi.

Kamis (18/4) kemarin, Hadi Prabowo menyambangi kerabatnya para koruptor seperti  Riza Kurniawan, mantan Wakil Ketua DPRD Jateng yang tersandung korupsi bantuan sosial APBD Jateng hampir Rp 2 miliar, dan Bupati Sragen Untung Wiyono, narapidana korupsi kas daerah lebih dari Rp 20 miliar.

Lebih memilukan lagi, di hadapan para wartawan calon gubernur yang diusung enam partai koalisi ini mengaku merasa senang, bahagia dan bersyukur bisa bertemu dengan kolega-koleganya para koruptor tersebut.

Sebagai warga Jateng, saya cuma bisa mengurut dada mengetahui ulah calon pemimpin yang juga pejabat di Pemprov Jateng ini. Kok ya bisa, dia merasa bahagia dan bersyukur bertemu dengan para koruptor, sementara ada ratusan mungkin ribuan warganya yang hidup seperti Tasripin.

Namun, jika melihat track record-nya sebagai pejabat daerah, Hadi Prabowo sebagai Sekda dan Gubernur Bibit Waluyo saat ini, mungkin saya bisa sedikit memakluminya jika mereka kurang memiliki rasa peduli terhadap rakyat miskin. Sehingga wajar jika angka kemiskinan di Jateng terus naik di bawah kepemimpinan mereka.

Kalau mereka (khusus-nya Hadi Prabowo) juga lebih memilih untuk menemui koleganya para koruptor di penjara ketimbang menyambangi Tasripin atau warga lainnya yang hidup dalam kemiskinan, bisa dipahami pula. Pasalnya, Hadi Prabowo terindikasi melakukan praktik korupsi dana bantuan sosial (bansos) yang bersumber dari APBD Provinsi Jateng tahun anggaran 2012 sebesar Rp 100 juta.

Semoga ini bisa membuka mata kita, khususnya warga Jateng, untuk lebih mengedepankan hati nurani dan melihat dengan jeli, siapa kiranya yang layak untuk dipilih menjadi gubernur nanti.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gandari: Menyibak Karakter dan Sikap …

Olive Bendon | | 18 December 2014 | 17:44

Hidayat Nur Wahid Tidak Paham Hukum …

Hendra Budiman | | 18 December 2014 | 12:50

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

KOMiK Nobar Film Silat Pendekar Tongkat Emas …

Komik Community | | 17 December 2014 | 11:56



Subscribe and Follow Kompasiana: