Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Geudong09

I am a student

The Iron Lady

OPINI | 18 April 2013 | 03:10 Dibaca: 234   Komentar: 0   0

Kematian mantan perdana menteri Inggris, Margaret Thatcher telah menjadi berita besar di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Meskipun banyak yang bersedih dengan kematian salah satu pemimpin paling hebat Inggris ini, tidak sedikit pula yang berpesta dengan meninggalnya Margareth Thatcher; perdana menteri perempuan pertama di Eropa dan satu-satunya di Inggris. Setelah terpilih sebagai pemimpin partai konservatif pada tahun 1975, karir politik Margareth Thatcher berkembang pesat sehingga pada tahun 1979, dia terpilih sebagai perdana mentri Inggris. Selama sebelas tahun enam bulan; dari tahun 1979 hingga tahun 1990, Margareth Thatcher menduduki jabatan ini sehingga dia menjadi perdana menteri Inggris terlama di abad kedua puluh. Dia dikenal sebagai the Iron Lady karena kepemimpinannya yang sangat tegas dan tanpa kompromi. Gelar ini pertama diberikan oleh seorang wartawan Rusia karena penolakan sang Lady yang sangat keras terhadap komunis Uni Soviet.

Lahir dari keluarga pemilik toko (corner shop) di sebuah kota kecil, Grantham, Lincolnshire pada tanggal 13 Oktober 1925, Margareth tinggal di sana selama 18 tahun sebelum kemudian pindah ke Oxford untuk menamatkan sarjana dalam bidang Kimia di Somerville College, University of Oxford. Ayahnya yang juga seorang politisi partai konservatif dan sempat menjadi walikota Grantham, membesarkan Margaret dengan nilai-nilai konservatif, kebebasan individu (individual liberty), tanggung jawab individu (personal responsibility), kejayaan (thrive) dan kerja keras (hard work). Hal ini sangat berpengaruh terhadap kebijakan politik dan ekonomi yang di ambil Margaret Thatcher di kemudian hari.

Sejak kecil Margaret Thatcher sangat suka berdebat tentang banyak hal dengan pelanggan toko ayahnya. Dia menyatakan sendiri, telah diajarkan untuk beragumen supaya bisa belajar berpikir dan menganalisis suatu masalah. Tanpa kemampuan berargumen yang hebat maka sangat tidak mungkin menjadi perdana menteri Inggris. Secara umum di Inggris perdana menteri dituntut untuk berdebat dengan pemimpin oposisi dalam forum PMQs (prime minister questions). Setiap minggu ada PMQs, yang disiarkan secara langsung oleh BBC. Pada saat PMQs ini, semua kebijakan yang diambil akan dipertanyakan langsung oleh anggota parlemen.

Margaret Thatcher memang sejak awal telah memiliki ambisi di dunia politik. Sejak di Oxford, dia telah bergabung dengan persatuan pelajar pendukung partai konservatif dan sukses menjadi pemimpinnya. Makanya saat lulus dari Oxford dia juga mengambil kursus hukum dan menjadi spesialis dalam bidang pajak. Saat pertama mengikuti pemilihan umum untuk menjadi anggota parlemen (MP) dari kota Dartford, Margaret Thatcher mengalami kekalahan. Tetapi tetap semangat dan bekerja keras untuk mencapai ambisinya politiknya, sehingga pada tahun 1955 secara tidak terduga, Margaret Thatcher berhasil mengalahkan kandidat dari partai buruh. Maka sejak saat itu karir politiknya tidak terbendung lagi. Sempat menjadi menteri junior bidang pensiun, dan sekretaris negara bidang pendidikan dan sains di era Edward Heath, kemudian menjadi pemimpim partai konservatif yang sekaligus menjadi perdana menteri ketika partainya memenangi pemilu Inggris ditahun 1979.

Selain bantuan dana dari suaminya, kerja keras dan berpegang teguh pada prinsip dan pemikirinnya adalah modal yang sangat besar bagi kesuksesan karir politik Margaret Thatcher. Namun demikian, hal ini pulalah yang membuat dia harus mengundurkan diri pada periode ketiga kepemimpinannya. Berkaitan dengan kuatnya prinsip dan keyakinan atas pemikirannya, misalnya Margaret Thatcher sangat keras penentangannya terhadap pendelegasian kebijakan moneter pada bank sentral Eropa, pemberlakuan mata uang tunggal Euro dan pendelegasian kekuatan politik ke parlemen Eropa. Hal ini nampak sangat jelas dari pidato terakhirnya di parlemen Inggris (backbench time) yang sangat terkenal itu. Ketegasannya juga tercermin ketika dia memutuskan menenggelamkan kapal perang Argentina, Belgrano, pada perang Falklands. Dalam kaitannya dengan kerja keras, anaknya, Carol menceritakan ia pernah menghidupkan suara TV yang sangat keras ketika ibunya bekerja di ruang yang sama. Sangking fokusnya berkerja, ibunya sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi disekitarnya. Margareth Thatcher pernah mengatakan “I do not know anyone who has got to the top without hard work. That is the recipe. It will not always get you to the top, but should get you pretty near”.

Legasi Margaret Thatcher memang sangat luar biasa sehingga setelah kematiannya pun masih ada yang sangat membagakan dan membencinya. Adalah sebuah fakta, pemikiran dan kebijakan Margaret Thatcher dibidang politik dan terutama sekali bidang ekonomi, tidak hanya mengubah Inggris tetapi juga berpengaruh di seluruh dunia. David Cameron mengatakan “Margaret Thatcher didn’t just lead our country - she saved our country”. Saat pertama menjadi perdana menteri, kondisi ekonomi Inggris sangat buruk dimana inflasi mencapai 25%. Tetapi dalam jangka waktu satu dekade dia berhasil mengubah Inggris menjadi sebuah negara industri yang sangat maju. Di antara kebijakan fenomenalnya adalah privatisasi semua perusahaan yang dimiliki oleh negara seperti telkom, maskapai, listrik sampai kereta api, penurunan pajak, reformasi sendikat buruh, dan pembebasan industri keuangan yang didasarkan pada pemikiran kebebasan pasar. Kebijakan ini telah ditiru di seluruh dunia, sehingga tidak ada lagi negara yang mengusai industri seperti telkom. Indonesia termasuk yang sangat gencar memprivatisasi banyak perusahaan negara dengan alasan kompetisi, efisiensi dan produktifitas. Ide privatisasi ini semuanya dimulai oleh Margaret Thatcher.

Kebijakan-kebijakan Margaret Thatcher memang berhasil mengubah Inggris menjadi negara maju sehingga disegani di dunia secara ekonomi dan politik. Namun demikian, kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada konsep konservatifnya, ditentang oleh banyak masyarakat Inggris yang secara umum masih sosialis (social welfare state). Maka tidak heran pada saat kematiannya banyak yang mengelar pesta perayaan. Salah satu kebijakan kontroversialnya adalah menghilangkan subsidi susu bagi siswa sekolah dasar. Kebijakan ini ditentang secara masif oleh masyarakat Inggris, namun Margaret Thatcher tidak bergeming dengan keutusannya. Padahal saat itu dia masih menjabat sebagai menteri pendidikan dan sains. Oleh karena kebijakannya itu, tidak sedikit masyarakat yang juga meletakkan botol susu selain bunga pada tempat-tempat yang berhubungan dengan Margareth Thatcher ketika dia meninggal.

Selama memimpin, Margaret Thatcher terus menerus mengurangi pengeluaran sosial (social security expenditure) dan untuk mengurangi pengeluaran tersebut, masyarakat dituntut agar membeli rumah-rumah pemerintah (council house) yang dihuninya. Margaret Thatcher sangat gencar mempromosikan kompetisi antar individu dalam hal apapun karena dia berkeyakinan “there is no such thing as society”. Bagi Margaret Thatcher, kesuksesan harus diperjuangkan sendiri. Dengan prinsinya itu, Margaret Thatcher memang berhasil. Tetapi kemajuan yang dicapainya bersifat antagonis, sesaat dan hanya untuk sebagian orang. Sehingga ada yang mengatakan Margaret Thatcher adalah “one of the vilest abominations of social and economic history”. Oleh karena itu, banyak yang membencinya sampai kematiannya.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk melegitimasi kebijakan dan pemikiran mantan perdana menteri terpopuler Inggris ini. Bahkan banyak hal yang tidak sesuai untuk diimplementasikan di negara seperti Indonesia, walaupun tidak sedikit kebijakan Margaret Thatcher yang sudah di adopsi dan diajarkan di Indonesia, bahkan sebagian sudah menjadi tradisi. Namun tulisan ini bertujuan untuk mengenalkan sosok The Iron Lady. Mungkin ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran bagi para pemimpin Indonesia. Membaca sejarah Margaret Thatcher dan kepemimpinanya, kita dapat menyimpulkan; pemimpin itu tidak dilahirkan tetapi dipersiapkan; pemimpin itu tahu apa yang harus dikerjakan dan memiliki konsep dan prinsip yang jelas; pemimpin itu pekerja keras dan kuat pendiriannya bukan peragu, cengeng, pengecut apalagi pengeluh. Semoga ada harapan bagi Indonesia untuk memiliki pemimpin sekuat dan sehebat Margaret Thatcher, yang sangat yakin dengan pemikiran dan kepercayaannya dan tidak takut untuk menampakkannya karena tidak takut lagi dikatakan sebagai pencitraan. Maka layaklah negara menghabiskan dana seratus lima puluh milyar rupiah untuk pemakamannya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 4 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 5 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 6 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 7 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 8 jam lalu

ATM Susu …

Gaganawati | 8 jam lalu

Perjamuan Akhir di Bali …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 10 jam lalu

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: