Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Restu Bumi

Merah Putih Harga Mati

Babak Baru Kasus Hambalang

OPINI | 18 April 2013 | 16:47 Dibaca: 360   Komentar: 4   0

Halaman per halaman catatan kasus Hambalang terus menumpuk terkait terseretnya mantan Ketua Umum Partai Demokrtat, Anas Urbaningrum, kedalam pusaran korupsi pembangunan sarana olah raga ini. Jika halaman pertama dikatakan Anas terjadi ketika ia berhenti menjadi ketua umum, kini chapter baru dibuka kembali.

Akan tetapi, chapter ini bukan terkait dengan Anas ditahan oleh KPK terkait status hukumnya di Hambalang, melainkan sub bab perjalanan Anas menuju meja hijau yang melibatkan pengacara gaek, Adnan Buyung Nasution.

Bergabungnya Adnan Buyung menjadi pengacara Anas ini, seolah mempertegas ketaksukaan pengacara berambut perak ini terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Meski pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Adnan Buyung memang dikenal memiliki hubungan yang tak hangan dengan Presiden SBY.

Tengok saja apa yang dilakukan Adnan ketika tak lagi menjabat sebagai Wantimpres. Melalui buku Nasihat untuk SBY, ia seolah ingin memperlihatkan diri sebagai sosok yang kredibel, jantan dan berdedikasi. Namun sejatinya, ia malah bukanlah sosok yang bisa dipandang seperti itu. Dengan membuka perseteruannya dengan SBY dalam buku tersebut, ia seolah ingin menuai citra.

Kita juga tak boleh lupa bahwa Adnan Buyung merupakan lawyer yang juga bersedia membela para koruptor. Ia merupakan lawyer dari Gayus Tambunan, pegawai pajak golongan III A yang memiliki kekayaan ratusan miliar rupiah.

Bergabungnya Adnan ke Anas Urbaningrum ini seolah menjadi koalisi baru para pembenci SBY. Sebagaimana diketahui, Anas juga merupakan sosok yang sangat tidak suka dengan SBY. Meski tak pernah secara terang-terangan, ketaksukaan Anas kepada SBY terekam dari beberapa status bbm-nya kala menghadapi prahara democrat beberapa waktu silam.

Babak inilah yang kini menjadi cerita baru dalam kasus Hambalang. Para pembenci SBY sepertinya akan bersatu untuk melawan presiden yang masih cukup baik citranya di mata rakyat. Bagaimana endingnya kisah ini? Patut dan layak kita tunggu chapter-chapter berikutnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: