Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Restu Bumi

Merah Putih Harga Mati

Babak Baru Kasus Hambalang

OPINI | 18 April 2013 | 16:47 Dibaca: 361   Komentar: 4   0

Halaman per halaman catatan kasus Hambalang terus menumpuk terkait terseretnya mantan Ketua Umum Partai Demokrtat, Anas Urbaningrum, kedalam pusaran korupsi pembangunan sarana olah raga ini. Jika halaman pertama dikatakan Anas terjadi ketika ia berhenti menjadi ketua umum, kini chapter baru dibuka kembali.

Akan tetapi, chapter ini bukan terkait dengan Anas ditahan oleh KPK terkait status hukumnya di Hambalang, melainkan sub bab perjalanan Anas menuju meja hijau yang melibatkan pengacara gaek, Adnan Buyung Nasution.

Bergabungnya Adnan Buyung menjadi pengacara Anas ini, seolah mempertegas ketaksukaan pengacara berambut perak ini terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Meski pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Adnan Buyung memang dikenal memiliki hubungan yang tak hangan dengan Presiden SBY.

Tengok saja apa yang dilakukan Adnan ketika tak lagi menjabat sebagai Wantimpres. Melalui buku Nasihat untuk SBY, ia seolah ingin memperlihatkan diri sebagai sosok yang kredibel, jantan dan berdedikasi. Namun sejatinya, ia malah bukanlah sosok yang bisa dipandang seperti itu. Dengan membuka perseteruannya dengan SBY dalam buku tersebut, ia seolah ingin menuai citra.

Kita juga tak boleh lupa bahwa Adnan Buyung merupakan lawyer yang juga bersedia membela para koruptor. Ia merupakan lawyer dari Gayus Tambunan, pegawai pajak golongan III A yang memiliki kekayaan ratusan miliar rupiah.

Bergabungnya Adnan ke Anas Urbaningrum ini seolah menjadi koalisi baru para pembenci SBY. Sebagaimana diketahui, Anas juga merupakan sosok yang sangat tidak suka dengan SBY. Meski tak pernah secara terang-terangan, ketaksukaan Anas kepada SBY terekam dari beberapa status bbm-nya kala menghadapi prahara democrat beberapa waktu silam.

Babak inilah yang kini menjadi cerita baru dalam kasus Hambalang. Para pembenci SBY sepertinya akan bersatu untuk melawan presiden yang masih cukup baik citranya di mata rakyat. Bagaimana endingnya kisah ini? Patut dan layak kita tunggu chapter-chapter berikutnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 9 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Menuju Organisasi Advokat Muda yang …

Valerian Libert Wan... | 7 jam lalu

Semoga Jokowi-JK yang Membuka Indonesia …

Bambang Trim | 7 jam lalu

Dialog Sunyi dari Hati ke Hati dengan Gus …

Puji Anto | 7 jam lalu

Satu Lagi Atlet Muslim Yang Di …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, Narasi, …

Sigit Setyawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: