Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Fahmi Irhamsyah

pegiat out door activity, pemerhati isu humaniora, sosial, religius dan pendidikan. departemen Sejarah Universitas Negeri selengkapnya

PKS “Mirip” KPK

OPINI | 17 April 2013 | 18:30 Dibaca: 593   Komentar: 4   1

Bagi masyarakat yang sering menyambangi KPK untuk sekedar berdemo atau anjangsana dengan Pak Johan budi tentu mahfum bahwa lembaga ini memang di huni oleh orang-orang dengan spiritualitas yang lumayan baik untuk level instansi pemerintah. Hal ini dapat terlihat pada jam-jam pagi di mushola atau pelataran-pelataran KPK. Tidak sedikit pegawai KPK yang menunaikan shalat duha bahkan pak Johan Budi dalam dialognya saat tayangan ILC menuturkan bahwa banyak orang-orang KPK yang juga rutin berpuasa Senin-Kamis dan Daud.

Bagi kita masyarakat umum yang bersentuhan dengan tetangga kita yang merupakan kader PKS, maka bisa saja kita berfikir bahwa sekilas tampilan pegawai KPK dengan orang-orang PKS “mirip” dari segi spiritualitas mereka, namun dengan tertangkapnya LHI oleh KPK jelas membuktikan bahwa dua instansi ini adalah instansi yang sama sekali berbeda. PKS dengan dinamika politiknya dan KPK dengan segala menuver-manuvernya menangkap koruptor di negeri ini tanpa mengenal asas “kemiripan”

Dalam dialognya dengan salah satu televisi swasta, pakar komunikasi politik Efendi Ghazali memberikan julukan baru pada PKS yakni “Partai Konspirasi Sebentar”. Jelas kalimat ini beliau lontarkan dalam rangka “menyenggol” presiden baru PKS yang mengatakan bahwa partai mereka terkena badai konspirasi dalam pidato politik di awal keterpilihannya sebagai presiden partai, namun dalam waktu yang singkat justru tidak memberikan penjelasan siapa yang melakukan konspirasi. Anis Matta hanya menyatakan secara implisit bahwa dalam dunia politik tentu ada pihak yang sangat senang bahkan bertepuk tangan saat lawan politiknya terkena badai masalah. Pertanyaannya adalah, apakah yang bertepuk tangan bisa dipastikan melakukan konspirasi? Hanya mereka yang dan Allah yang tahu.

Seakan-akan menjaga isu konspirasi, M. Assegaf selaku pengacara LHI menyatakan bahwa memang banyak kejanggalan dalam penangkapan LHI, namun pernyataan ini di jawab oleh KPK bahwa sebaiknya pengacara LHI fokus saja terhadap masalah kliennya tidak usah mengungkit masalah lain yang tidak relevan dan nanti semua kejanggalan bisa disampaikan di pra peradilan. Publik pun terus menunggu hasil pra peradilan dan persidangan kasus LHI dengan terang benderang. Jika LHI terbukti bersalah maka bukan tidak mungkin banyak kader partai ini yang akan meninggalkannya, namun jika LHI ternyata tidak bersalah dan dibebaskan bukan tidak mungkin pula Partai ini akan memenangkan Pemilu kelak karena rasa simpati rakyat, bahkan bisa melebihi dugaan masyarakat sebagaimana pendapat pengamat politik Hanta Yudha bahwa Anis Matta layak menjadi wapres karena memiliki kemampuan administrasi seperti Hatta, orang Sulawesi seperti Jusuf Kalla dan beristri lebih dari satu seperti Hamzah Haz

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Menuju Jakarta, Merayakan Pestanya …

Hendra Wardhana | | 26 November 2014 | 07:59

Minum Air Lemon di Pagi Hari dan Manfaatnya …

Gitanyali Ratitia | | 26 November 2014 | 01:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 8 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 13 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 14 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kepercayaan Penuh Berbuah Revolusi …

Nursalam Sabir | 8 jam lalu

Media Cetak (Belum) Akan Mati …

Irwan Rinaldi | 8 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Datang ke Papua, Al Jazeera Ingin “Tebus …

Hamid Ramli | 8 jam lalu

(Peserta) #KPKGerebek (7) Jakarta Street …

Kpk Kompasiana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: