Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Fahmi Irhamsyah

pegiat out door activity, pemerhati isu humaniora, sosial, religius dan pendidikan. departemen Sejarah Universitas Negeri selengkapnya

PKS “Mirip” KPK

OPINI | 17 April 2013 | 18:30 Dibaca: 594   Komentar: 4   1

Bagi masyarakat yang sering menyambangi KPK untuk sekedar berdemo atau anjangsana dengan Pak Johan budi tentu mahfum bahwa lembaga ini memang di huni oleh orang-orang dengan spiritualitas yang lumayan baik untuk level instansi pemerintah. Hal ini dapat terlihat pada jam-jam pagi di mushola atau pelataran-pelataran KPK. Tidak sedikit pegawai KPK yang menunaikan shalat duha bahkan pak Johan Budi dalam dialognya saat tayangan ILC menuturkan bahwa banyak orang-orang KPK yang juga rutin berpuasa Senin-Kamis dan Daud.

Bagi kita masyarakat umum yang bersentuhan dengan tetangga kita yang merupakan kader PKS, maka bisa saja kita berfikir bahwa sekilas tampilan pegawai KPK dengan orang-orang PKS “mirip” dari segi spiritualitas mereka, namun dengan tertangkapnya LHI oleh KPK jelas membuktikan bahwa dua instansi ini adalah instansi yang sama sekali berbeda. PKS dengan dinamika politiknya dan KPK dengan segala menuver-manuvernya menangkap koruptor di negeri ini tanpa mengenal asas “kemiripan”

Dalam dialognya dengan salah satu televisi swasta, pakar komunikasi politik Efendi Ghazali memberikan julukan baru pada PKS yakni “Partai Konspirasi Sebentar”. Jelas kalimat ini beliau lontarkan dalam rangka “menyenggol” presiden baru PKS yang mengatakan bahwa partai mereka terkena badai konspirasi dalam pidato politik di awal keterpilihannya sebagai presiden partai, namun dalam waktu yang singkat justru tidak memberikan penjelasan siapa yang melakukan konspirasi. Anis Matta hanya menyatakan secara implisit bahwa dalam dunia politik tentu ada pihak yang sangat senang bahkan bertepuk tangan saat lawan politiknya terkena badai masalah. Pertanyaannya adalah, apakah yang bertepuk tangan bisa dipastikan melakukan konspirasi? Hanya mereka yang dan Allah yang tahu.

Seakan-akan menjaga isu konspirasi, M. Assegaf selaku pengacara LHI menyatakan bahwa memang banyak kejanggalan dalam penangkapan LHI, namun pernyataan ini di jawab oleh KPK bahwa sebaiknya pengacara LHI fokus saja terhadap masalah kliennya tidak usah mengungkit masalah lain yang tidak relevan dan nanti semua kejanggalan bisa disampaikan di pra peradilan. Publik pun terus menunggu hasil pra peradilan dan persidangan kasus LHI dengan terang benderang. Jika LHI terbukti bersalah maka bukan tidak mungkin banyak kader partai ini yang akan meninggalkannya, namun jika LHI ternyata tidak bersalah dan dibebaskan bukan tidak mungkin pula Partai ini akan memenangkan Pemilu kelak karena rasa simpati rakyat, bahkan bisa melebihi dugaan masyarakat sebagaimana pendapat pengamat politik Hanta Yudha bahwa Anis Matta layak menjadi wapres karena memiliki kemampuan administrasi seperti Hatta, orang Sulawesi seperti Jusuf Kalla dan beristri lebih dari satu seperti Hamzah Haz

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Burung tentang Bandung: Superhero …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 14:15

Ikhlas, Kunci Ibu Bisa Bahagia …

Sekar Sari Indah Ca... | | 20 December 2014 | 13:33

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35

Mazagran: Lahir dari Perang, Lalu …

Kopi Keliling | | 20 December 2014 | 13:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 6 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 7 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 8 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: