Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Well, Kalau Begitu Atjeh Kita ‘Lepas’ Saja

OPINI | 15 April 2013 | 08:48 Dibaca: 447   Komentar: 21   3

Ribut dan keonaran yang ditimbulkan oleh aktifitas rumah tangga di provinsi NAD ternyata malah terjadi diluar kampung serambi Mekkah ini. Bukan di dalam rumah beralaskan berjuta-juta kilo liter gas alam nan menggiurkan banyak orang. Bab kekayaan ini tidak perlu disangkal pula karena sejarah membuktikan pesawat terbang pertama kali yang mampu dibeli republik ini adalah setoran daerah Atjeh kepada pusat.

Ada beberapa pendapat yang mengagumkan, seperti sudut pandang yang dipakai oleh Sdr. Black Horse dengan mengaitkannya dengan usaha USA mempreteli RI dengan poin-poin yang tertera di MoU antara pemerintah dengan GAM di Helsinki tahun 2005. Mempreteli? Menggelikan juga sih upaya ini jika benar opini yang dimaksud bertujuan mengurangi daya remote pusat kepada NAD kelak.

Namun, politik selalu tidak bisa dikalkulasi dengan angka-angka matematis. Politik selalu menawarkan tumpangan kepada pihak-pihak yang vested interest terhadap tujuannya. Nah, sepertinya NAD menjadi bis AKAP yang full music dan full reclining seats serta menawarkan sebuah perjalanan berwisata dengan level relaksasi yang tinggi. Pemandangan yang menyejukkan mata dan menjanjikan destinasi yang menawan.

Peperangan bersenjata yang tragis antara TNI/Polri dengan GAM dan khabarnya dipenuhi kontak senjata dan korban yang cukup banyak setidaknya menjadi panduan bagi kita semua bahwa Atjeh semestinya diperlakukan sama dengan provinsi-provinsi lain.

Atau memang jika memang sudah tidak berniat untuk ‘mengurus’ provinsi dengan kekhususan ini lebih baik dihentikan saja? Ya sudah, lakukanlah ┬áreferendum seperti Timor Timur dulu, sehingga kita bisa mendapatkan figur sebenarnya dari masyarakat yang berada di sana dan kita yang diluar rumah mereka juga bisa tahu persis apa yang seharusnya terjadi dan dilakukan. Ketimbang (kita)merasa lebih tahu daripada mereka yang mendiami disana bukan?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Logika aneh PKS soal FPI dan Ahok …

Maijen Nurisitara | 5 jam lalu

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Warga Menolak Mantan Napi Korupsi Menjadi …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah untuk …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

PKS Membuat Banyak yang Panas Dingin …

Pecel Tempe | 9 jam lalu

Waktu, Maafkan Aku.. …

Syndi Nur Septian | 9 jam lalu

The Comment…Siapa yang Nanya? …

Iwan Permadi | 9 jam lalu

Cerpen Remaja: Pak Polisi yang Kukagumi …

Didik Sedyadi | 9 jam lalu

TNI AL dalam Konstelasi Kekuatan Laut Asia …

Mudy | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: