Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Farid Wadjdi

Lulusan arsitek yang bekerja di perusahaan kontraktor nasional. Mengelola blog "Bedah Rumah" yang membedah segala selengkapnya

PKS = Wahabi? Tanggapan untuk Dewa Gilang

OPINI | 15 April 2013 | 23:06 Dibaca: 3458   Komentar: 90   16

Siapa yang tidak kenal dengan Dewa Gilang. Dia adalah kompasianer muda yang sangat fenomenal dan produktif. Sekarang dia mengubah nama penanya menjadi Black Devil, tapi maaf, saya lebih suka tetap memanggilnya dengan Dewa Gilang. Nama adalah sebuah doa, dan saya ingin mendoakan dengan sebuah doa yang baik.

Hari ini saya membaca tulisan Dewa Gilang, yang saya nilai cukup provokatif. Dengan tulisannya yang berjudul “Gerbong Wahabi di PKS”, seolah Gilang telah menuduh bahwa PKS mengusung gerbong  Wahabi dalam pergerakannya. Setelah saya cermati, sebenarnya tidak ada vonis itu dalam tulisan Gilang. Tapi dalam ruang komentarnya, telah terlanjur terjadi perdebatan dan saling tuding.  Gilang sendiri mengakhiri tulisannya dengan sebuah kalimat, “Kesimpulan, percayakah anda bahwa PKS memuat serangkaian gerbong Wahabi? Jika benar hal tersebut, maka jelas kerugian politik akan menimpa PKS.”

Di awal tulisan tersebut, Gilang sendiri juga telah menggambarkan sekilas tentang Wahabi, yaitu gerakan yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, yang bertujuan memurnikan akidah Islam. Para pengikutnya sendiri menyebut diri sebagai gerakan “salafi” (mengikuti orang terdahulu) atau “al-muwwahidun” (menegakkan tauhid). Tapi di kemudian hari, banyak kalangan yang menyebut sebagai “wahabi”, yang bisa diartikan sebagai gerakan yang mengikuti pemikiran penggagasnya.

Pemikiran “wahabi” sebenarnya merupakan awal pembaharuan pemikiran keislaman, yang kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh atau pun Rasyid Ridha, dalam konteks modernisme. Beberapa pergerakan pembaharuan Islam di awal abad-20 pun mendapatkan pengaruh dari pemikiran wahabi. Termasuk dalam pergerakan tersebut adalah Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis) dan Al-Irsyad.

Saya akan memberikan gambaran tentang Muhammadiyah. Jika anda sempat menonton film “Sang Pencerah”, maka spirit “wahabi” seperti itulah yang dibawa oleh Muhammadiyah. Namun KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), mampu mengimplementasikan semangat tauhid “wahabi” dalam konteks kekinian. Sistem pendidikan model Belanda yang dianggap produk “kafir” diadopsi” dalam program amal Muhammadiyah. KH Dahlan mampu mengimplementasikan semangat tauhid “wahabi”, untuk menjawab pertanyaan tentang permasalahan ummat. Memang di kemudian hari, sering timbul gesekan-gesekan di antara ulama Muhammadiyah dan NU dalam masalah fikih. Bahkan sempat pula terjadi gesekan dalam pergerakan politik, baik di jaman orde lama (Partai NU vs Masyumi) maupun jaman reformasi (PKB vs PAN). Namun itu adalah sejarah kelam, yang kini disadari untuk ditinggalkan, dan mulai berpikir bersama untuk membangun ummat dan bangsa.

Hingga tahun 90-an, pemikiran wahabi, yang “mengejawantah” dalam pemikiran Muhammadiyah, Persis dan Al-Irsyad, bukanlah sesuatu yang menjadi “momok yang menakutkan”. Timbulnya stigma “wahabi” sebagai “momok yang menakutkan” tampaknya mulai mencuat setelah tragedi WTC 9/11 di tingkat global, dan menguatnya PKS (yang sebelumnya bernama PK) dalam percaturan politik di Indonesia.

Saya akan fokus membahas tentang stigma “wahabi” dalam konteks percaturan politik di Indonesia. Ketika PK berdiri dan mengikuti pemilu tahun 1999, dengan perolehan yang hanya kurang dari 2%, tidak banyak yang mempersoalkan keberadaan PK. Namun ketika di pemilu 2004 PKS mampu meraih suara 7,34%, banyak pihak yang mulai terkejut. Terlebih ketika dalam pilkada DKI, calon Adang-Dani yang diusung PKS sendirian mampu meraih suara 41,41%, sementara Fauzi Bowo-Priyanto yang diusung koalisi 15 parpol “hanya” meraih 58, 59% suara. Saat itu PKS semakin disegani, sekaligus ditakuti. Sejak saat itu, mulai muncul serangan-serangan terhadap PKS.

Namun yang membuat miris, saat itu serangan yang muncul bukan pada visi politiknya, melainkan tentang “paham keagamaannya”. Saya masih ingat, tahun 2008 di facebook muncul grup “Say No to PKS”.  Tapi yang lucu, grup ini menuduh dengan serampangan terhadap ideologi politik yang dibawa oleh PKS, bahkan sering pula justru lebih menyuarakan sikap anti Islam. Mereka mencurigai PKS membawa ideologi “wahabi” yang ekstrem, bahkan menuduh bahwa PKS akan membawa Indonesia seperti Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban.

Mereka lupa, bahwa saat itu banyak pujian yang mengalir untuk PKS, yang ketika itu dipimpin oleh Hidayat Nur Wahid. Pujian-pujian itu tidak hanya datang dari tokoh Islam, melainkan juga dari tokoh sekuler, bahkan juga dari tokoh NU (yang sering dipersepsikan sebagai “musuh” PKS). Saya merasa perlu untuk menuliskan beberapa pernyataan atau pujian itu, sebagai berikut:

  1. Alm. Munir, mantan Presidium Kontras: “Yang teriak beda untuk kasus korupsi paling Cuma PKS. Sedangkan partai yang lain tidak bisa anti korupsi karena korupsi semua.”
  2. Yenny Wahid, Sekjen PKB versi Gus Dur: “Saya iri dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)” Menurutnya, PKS adalah partai yang kompak dan jarang berkonflik.”
  3. Yutaka Ilmura, Dubes Jepang untuk RI: “Jepang tertarik dengan PKS. Karena kader PKS adalah orang yang serius memikirkan negerinya, tidak seperti partai lain.”
  4. Cetro Indonesia: “PK Sejahtera adalah satu-satunya partai yang siap diselidiki moral calon anggota legislatifnya.”
  5. Graito Usodo, Mantan kapusden TNI: “Anda tanya tentang peran PK Sejahtera sampai bergidik bulu kuduk. PK Sejahtera merupakan partai yang memberikan suasana sejuk terutama setelah ada sorotan dengan kaca mata hitam terhadap Islam.”

Itu adalah beberapa komentar yang seakan membenarkan slogan PKS kala itu  sebagai partai yang bersih dan profesional. Sebagai partai yang berbasis agama, justru PKS lah yang mempelopori pengelolaan partai secara modern. Partai ini bertumpu pada sistem kaderisasi dan bukan bertumpu pada budaya paternalistik. Dalam hal ini, PKS lebih cenderung  mirip dengan Partai Golkar. Ironisnya partai-partai nasionalis seperti PDIP, PAN, PKB dan Partai Demokrat justru masih belum bisa meninggalkan budaya paternalistik, dengan mengandalkan figur tokoh yang dihormati. Contohnya adalah PDIP yang masih sulit mencari alternatif pemimpin selain Megawati. Berita terkini, bahkan SBY sampai harus turun gunung menjadi Ketua Umum Partai Demokrat untuk menyelesaikann kemelut di tubuh partai.

Sebaliknya, PKS justru mampu secara cepat mengambil langkah recovery setelah pemimpinnya diguncang kasus korupsi dan ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK. Dengan cepat PKS memilih penggantinya dan mengambil langkah-langkah koordinasi yang diperlukan. Hasilnya pilkada Jabar dan Sumut justru dimenangkan oleh calon yang diusung oleh PKS. Padahal sebelumnya diprediksi calon dari PKS akan jeblok sebagai dampak kasus di atas.

Kembali ke artikel Dewa Gilang tentang PKS dan Wahabi. Sebaiknya perlu dipertegas, apakah Gilang sedang mengkritik PKS, Wahabi atau dua-duanya? Jika Gilang sedang menyoroti PKS, maka sebaiknya lihat pula platform atau AD/ART nya. Jika tudingan PKS adalah partai wahabi itu dianggap wajar, maka wajar pula anggapan yang menganggap bahwa PKB adalah partai NU dan PAN adalah partai Muhammadiyah. Walaupun kita tahu bahwa PKB dan PAN sejak awal menyatakan diri sebagai partai terbuka, tak dapat dipungkiri bahwa aroma NU dan Muhammadiyah sangat mendominasi kedua partai tersebut.

Sekarang yang menjadi masalah adalah, bagaimana persepsi kita  tentang wahabi, yang disematkan pada PKS itu? PKS sendiri menegaskan bahwa partainya mengambil ide dari gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir atau Partai AKP di Turki. Lalu apakah kedua partai di Mesir dan Turki itu sama dengan wahabi? Tidak tahukah anda bahwa seorang ulama Saudi justru pernah memfatwakan bahwa partai politik sepeti Ikhwanul Muslimin, bahkan juga Hamas di Palestina adalah sesat, karena mengambil jalan demokrasi yang dianggap “bertentangan dengan Islam”.

Jika wahabi itu adalah sikap yang berbeda dengan kebanyakan umat Islam di Indonesia yang menjaga tradisi, seperti tahlilan, kenduri atau ziarah, maka sebagai warga Muhammadiyah, saya pun termasuk wahabi. Lalu apakah wahabi itu sama atau berbeda dengan salafi?  Sepanjang yang saya ketahui, salafi itu merupakan gerakan atau faham yang a-politis, bahkan cenderung mengharamkan politik. Dari sisi ini jelas PKS bukan salafi. Tapi diakui bahwa faham keagamaan, terutama soal fikih, yang dianut kader-kader PKS cenderung dekat dengan salafi.

Dalam tanggapan atas komentar saya, Gilang menyatakan bahwa ideologi keagamaan PKS tidak seberbahaya ideologi politiknya. Kalimat ini sering saya baca dalam beberapa tulisan di kompasiana. Tapi ketika ini ditulis oleh seorang Dewa Gilang, saya cukup terkejut, karena selama ini saya kenal Gilang selalu menggunakan kata-kata yang moderat dalam tulisan-tulisannya. Saya berharap Gilang dapat lebih mendeskripsikan seperti apa berbahayanya ideologi politik PKS. Selama ini saya sudah sering membaca tulisan-tulisan yang menyerang atau memojokkan PKS. Salah satu nama yang cukup sering menuliskan itu adalah kompasianer Ninoy N Karundeng. Membaca tulisannya, saya tidak pernah menanggapinya, karena saya menganggap tidak ada sesuatu yang bernilai untuk ditanggapi. Tapi ketika yang menulis adalah Dewa Gilang, saya berharap Gilang dapat lebih memperdalam tulisannya secara spesifik, karena saya mengenal Gilang selalu mendeskripsikan tulisannya dengan objektif dan jelas.

Selama ini saya tidak pernah menyampaikan sikap politik saya dalam tulisan-tulisan saya. Pada tulisan inilah saya menyatakan bahwa saya adalah pemilih PKS pada pemilu tahun 2004 dan 2009. Tahun 1999, saya memilih PAN. Apakah saya memilih PKS karena faham keagamaannya? Tidak. Saya memilih PKS, karena PKS merupakan partai yang paling saya percaya mampu membawa amanat rakyat, dengan kebersihan dan kejujuran kader-kadernya. Dalam hal memilih pemimpin, jika ada calon presiden HNW dan JK, maka saya akan memilih JK, karena saya yakin JK lebih mampu memimpin negara. Jika bicara soal Syiah, maka  saya adalah salah seorang pengagum Ahmadinejad, sementara wahabi yang dipersepsikan mengejawantah dalam tubuh PKS, sangat anti Syiah.

Dalam hal pemikiran tentang demokrasi, saya malah cenderung liberal. Saya termasuk yang setuju jika larangan terhadap pemikiran komunisme dihapuskan. Setiap manusia bebas memiliki pemikirannya masing-masing. Pemikiran kiri dan kanan bebas hidup dalam sebuah negara. Dalam pemikiran saya, tidak ada alasan untuk menolak partai komunis atau pun partai agama. Semua berhak hidup, jika itu merupakan upaya untuk membangun kehidupan bangsa dan negara. Hanya untuk menghapus Tap MPR tentang hal itu, tentunya harus melalui proses demokrasi pula. Tidak boleh dipaksakan.

Satu yang saya kagumi dari PKS, adalah sikapnya yang elegan dalam menghadapi badai yang menerpa partainya. Ketika PKS diterpa badai kasus korupsi, sehingga banyak serangan yang memojokkannya, PKS dengan elegan menyerukan gerakan sejuta kader PKS menulis. Ini tentu jauh lebih baik daripada gerakan cap jempol darah atau gerakan pasukan berani mati, misalnya.

Akhirnya, saya berterima kasih untuk Dewa Gilang, karena tulisannya akhirnya saya menyatakan dengan terbuka sikap politik saya, setelah sekian lama menjadikan itu sebagai wilayah privat saya. Satu pertanyaan untuk Gilang, tahun 2014 nanti kan pemilu yang pertama kali untuk Gilang. Apakah Gilang mau pilih PKB? Atau ikut Yenny Wahid pilih Partai Demokrat?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 10 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 11 jam lalu

Psikologi Freud dalam Penarikan Diri Prabowo …

Sono Rumekso | 13 jam lalu

Ke Mana Sebaiknya PKS Pascapilpres? …

Aceng Imam | 13 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: