Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Aurellia Shinta

Kebahagiaan tidak akan habis hanya karena membaginya. Ketahuilah, kebahagiaan bertambah ketika kamu bersedia untuk berbagi

Pemimpin Aceh Bungkam Kreatifitas Rakyat?

OPINI | 15 April 2013 | 08:42 Dibaca: 1373   Komentar: 8   1

Penetapan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Provinsi Aceh sama sekali tidak melibatkan rakyat Aceh. Meskipun Gubernur Aceh, Dr. Zaini Abdullah berdalih bahwa Perda itu telah dimusyawarahkan di DPRK dan DPRA, namun tidak semua rakyat Aceh mendapatkan hak untuk menentukan bendera dan lambang provinsinya yang tercinta ini.

“Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Mungkin Gubernur, Ketua DPR dan Wali Nanggre Aceh berpikir demikian. Untuk apa repot-repot melibatkan rakyat dalam menentukan bendera dan lambang provinsi ? Toh Aceh adalah daerah yang “VERY-VERY SPECIAL” bukan ? Jika demikian, salah satu ciri DAERAH KHUSUS menurut pemimpin di Aceh adalah RAKYAT DIHARAMKAN BERKREATIFITAS.

Kita coba tengok bagaimana berlangsungnya proses demokrasi dalam pembuatan lambang provinsi Bolaang Mongondow Raya (PBMR). Demi mendapatkan lambang yang aspiratif untuk provinsinya, maka panitia PBMR menggelar sayembara logo (lambang) dengan menyediakan hadiah berupa uang tunai bagi pemenang sayembara tersebut.

Coba kita tengok lambang kota Bandar Lampung seperti di bawah ini :

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/2/22/Logo-baru-bandar-lampung1.jpg

Sumber : www.wikipedia.com

Lambang kota Bandar Lampung didesain melalui sayembara yang dimenangkan oleh I Gusti Ketut Okta Bayuna, seorang pria kelahiran Tanjungkarang, 6 Oktober 1973.

http://radarlampung.co.id/read/images/2012/02/05/utama-winner.jpg

I Gusti Ketut Okta Bayuna (kiri) menunjukkan lambang Kota Bandar Lampung hasil desainnya. (foto Wahyu Syaifullah). Sumber : www.radarlampung.co.id

Kreatifitas rakyat Bolaang Mongondow Raya dan rakyat Bandar Lampung ini patut diacungi dua jempol. Dengan didukung restu dari pemimimpin di daerahnya masing-masing, mereka mengambil peran dalam menentukan cita-cita daerahnya. Padahal kedua daerah ini sama sekali tidak menarik bagi dunia internasional sebagaimana daerah provinsi Aceh yang semua mata dunia tertuju padanya.

Jika saja pemimpin Aceh tidak membungkam keratifitas rakyatnya dalam membuat bendera dan lambang provinsi, tentunya mata dunia akan semakin terbelalak menyaksikan betapa hebatnya sikap demokrasi pemimpin “Serambi Mekah” ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 11 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 12 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 13 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Walikota Kota Bogor Bima Arya Sugiarto …

Hakeem Elfaisal | 8 jam lalu

Guru (di) Indonesia …

Inne Ria Abidin | 8 jam lalu

“Remember Me” …

Ruby Astari | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menguntungkan atau Malah …

Ian Wong | 9 jam lalu

Dua Oknum Anggota POLRI Terancam Hukum …

Inne Ria Abidin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: