Back to Kompasiana
Artikel

Politik

PAN, Muhammadiyah, dan Din Samsudin

OPINI | 12 April 2013 | 11:18 Dibaca: 795   Komentar: 0   0

Pada saat, peluncuran buku  ‘Dari Muhammadiyah untuk Indonesia: Pemikiran dan Kiprah Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimedjo, dan K.H. Abdul Kahar Mudzakkir’ di Balai Kartini, Jakarta, (5/3/2013). Ketua Umum Partai Amanat Nasional mengatakan, momen peluncuran buku itu pun sebenarnya menjadi bukti penegas yang membantah rumors yang selama ini berseliweran liar tentang kurang harmonisnya hubungan antara PAN dan Muhammadiyah. Sangat jelas dalam peluncuran yang direncakan mengajukan ketiga tokoh Muhammadiyah untuk menjadi Pahlawan nasional ini di hadiri  Hatta Rajjasa, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, AM Fatwa, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Suhardi Alius, tokoh bangsa Syaafi Maarif dan beberapa tokoh Muhammadiyah lainnya. Namun keberadaan Din Samsudin tak menampakan kehadirannya.

Ketidak hadirannya ini pun menjadi tanda tanya besar, terkesan setia acara Muhammadiyah yang dihadiri Menkoperekonomian, Din mengurungkan diri. Sepatutnya selaku pimpinan organisasi berbasis Islam, harus bisa menjadi tauladan bagi bawahan dan pengikutnya. Sangat jelas dalam ajar agama manapun mengajarkan agar kita senantiasa menjaga tali silaturahmi. Terlihat Din berusaha memutuskan realitas ini dikarenakan nafsu politi. Bagaimana bisa menjadi panutan, jika didalam dirinya tersimpan dendam yang membara.

Tak mengherankan jika adanya kabar yang menyatakan hubungan Partai Amanat Nasional (PAN) dengan Organisasi masyarakat (Ormas) yang selama ini menjadi basis pendukungnya, Muhammadiyah dikabarkan retak. Keretakan tersebut, terlihat saat Kantor PAN diambil alih oleh PP Muhammadiyah. Kabar keretakan ini sebenarnya telah terjadi setelah Amien Rais digantikan Din Syamsuddin. Suasana semakin memanas ketika PAN dibawah kepemimpinan Soetrisno Bachir wajah PAN berubah drastis. PAN yang mulanya intim dengan Muhammadiyah, saat itu mengalami hubungan tak harmonis.

Sangat jelas upaya Din menjauhkan Muhammadiyah dari PAN terkait motif kepentingan politik, apa lagi sebelumnya pada tahun 2008, Pencapresan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin oleh PMB. Namun pada kenyatannya Din tak mendapatkan dukungan penuh Muhammadiyah. Sebab, kalangan Muhammadiyah sudah lebih rasional. Bukan kader yang mudah diberdaya begitu saja.

Seharusnya selaku tokoh agama, dirinya harus lebih bijak dan menjauhkan diri dari kepentingan politik praktis. Apa lagi terlihat dari upaya Din Syamsudin yang mencoba menjauhkan Muhammadiyah dari PAN. Dalam pernyataannnya beberapa waktu lalu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, dengan tegas membantah rumor dukungan Muhammadiyah terhadap Hatta Rajasa yang maju sebagai calon Presiden 2014 mendatang. Alasannya, organisasi masyarakat Islam yang ia pimpin tidak memiliki hubungan afiliasi dengan partai politik.

Pada hal jika dilihat dari kenyatannya sangat jelas PAN merupakan partai yang lahir dan dekat dengan kultur Muhammadiyah, sudah seharusnya PAN lebih intens dengan umat Muhammadiyah yang jumlahnya mencapai 25 juta di Indonesia. Akan tetapi, di bawah kepemimpinan Din, sejak awal Muhammadiyah seolah mengambil jarak dengan PAN.

Ironisnya, ini bukan kehendak massa Muhammadiyah, melainkan elit di sekitar Din. Hal mendasar yang melandasi situasi ini, karena Din tidak suka dengan Hatta yang akan maju sebagai Capres. Ada indikasi Din juga akan maju. Sikap semacam ini sangat tidak dewasa ditunjukkan oleh elit bangsa, apalagi ia bergelar seorang ulama. Dalam acara-acara Muhammadiyah, terlihat umat sangat menerima Hatta sebagai tokoh Muhammadiyah yang eksis di politik nasional dalam 15 tahun terakhir.

Sikap Din yang terkesan sebagai politisi dibandingkan tokoh agama sangat kental, dalam sebuah kesempatan dirinya pernah berucap seyogyanya partai-partai Islam harus dapat menonjolkan akhlak islamis dalam hal kepemimpinan agar didapat figur terbaik berlatar belakang Islam. Silakan pembaca menilai, bagaimana sikap Din Samsudin selama ini, apakah telah sesuai dengan apa yang ia sampaikan dan lakukan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 7 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 13 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Makan Korban, Tiga Strategi ala Ken Arok …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

‘Man Jadda Wa Jadda’ ala …

Christian Kelvianto | 7 jam lalu

Cita-Cita Siswaku, Menggerakkan Hati …

Peno Suryanto | 7 jam lalu

Air …

Hotman J Lumban Gao... | 7 jam lalu

Penguasaan Sumber Daya Strategis …

Kang Warsa | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: