Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Usman Kusmana

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan selengkapnya

Membaca Kepindahan Yenny Wahid Ke Demokrat

OPINI | 11 April 2013 | 16:43 Dibaca: 528   Komentar: 4   1

Saya pengagum Gus Dur. Semenjak kuliah dulu saya tak pernah berhenti membaca apapun seputar Gus Dur. Pemikirannya, Karya-karyanya hingga langkah-langkah politiknya. Bahkan oleh teman-teman di kampus dan di tempat tinggal saya di sebut sebagai Gusdurian.

Saya tak pernah membiarkan orang yang melecehkan Gus Dur, jika orang itu memberikan penilaian sepintas dan saya melihatnya karena mereka tidak tahu, saya selalu memberikan pemahaman serta pencerahan seputar informasi yang kira-kira rasional bagi mereka. Sampai akhirnya mereka tak lagi menghina dan merendahkan Gus Dur.

Bagaimanapun, dimata saya Gus Dur adalah sosok par excellent sebagai seorang ulama cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, seorang begawan politik, cendekiawan, budayawan, presiden, dan negarawan yang bervisi global. Pergulatan intelektualnya yang berbasis tradisi pesantren dan kekuatan wacana intelektual timur tengah serta bacaan lengkapnya tentang banyak hal seputar modernisme membuat Gus Dur seakan menjadi -meminjam istilah Kang Sobary- sebagai sebuah Kitab Kuning yang lembar per lebarnya memerlukan kesungguhan dan ketulusan dalam membaca dan memahaminya.

Alhamdulillah saya tak pernah melewatkan buku apapun hasil karya Gus Dur atau karya orang lain yang mengupas seputar pemikiran dan sosok Gus Dur. Dan bacaan atas semuanya, sangat menentukan bagaimana saya bisa benar-benar memahami core pemikiran Gus Dur dalam hal pemikiran keagamaan dan kebangsaan serta kerakyatan.

Lalu apa kaitannya antara Judul tulisan ini dengan Gus Dur? Hal ini tentu berangkat dari sebuah kenyataan bahwa secara historis Gus Dur merupakan sosok utama yang menjadi bagian dari Deklarator berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa sebagai sayap politik NU. Bersama Almarhum KH. Ilyas Ruhiyat (Rois ‘Am), KH. Muchit Muzadi, KH. Mustofa Bisri, KH. Munasir Ali, ketika Gus Dur menjabat sebagai Ketua Umum PBNU karena panggilan sejarah reformasi Gus Dur mendirikan PKB dengan segala pranata yang mencerminkan visi dan semangat perjuangan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Sebagai Partai yang lahir bersamaan dengan lahirnya era reformasi, PKB berhasil menjadi pemenang ketiga pada pemilu tahun 1999 dengan raihan suara sebanyak 11 juta lebih. Dinamika politik kala itu pun yang menunjukan pertentangan kuat antara kubu nasionalis dengan refresentasi Megawati sebagai capres dari PDIP sebagai pemenang pemilu, dengan kekuatan politik Islam dalam judul poros tengah, telah membawa Gus Dur dalam tampuk kekuasaan sebagai Presiden RI. Itulah prestasi politik kaum santri (tradisionalis) dalam kancah perpolitikan nasional.

Dalam segala keterbatasan fisik yang ada Gus Dur memimpin republik ini selama 2,5 tahun. Setelah kekuatan-kekuatan politik kala itu rame-rame mengeroyoknya dan menjatuhkan Gus Dur di tengah jalan melalui sidang umum MPR RI dengan pemicu menggunakan kasus Buloggate dan Bruneigate yang hingga hari ini pun tak jelas juntrungannya.

Dari situlah dinamika politik internal PKB terus menggeliat. Berbagai “konflik” internak terus mewarnai dari pusat hingga daerah. Termasuk melibatkan sang putri Gus Dur Sendiri Yenny Wahid di dalamnya yang bertarung dengan sang keponakan Gus Dur Muhaimin Iskandar yang kini memimpin PKB.

Legalitas formal PKB ternyata berada dalam kemenangan kekuatan kubu Muhaimin Iskandar, dan hingga hari ini kelihatannya telah berhasil melewati saat-saat berat konflik internal. Konsolidasi dari pusat hingga daerah telah pulih termasuk membangun harmonisasi dengan ormas NU dari PB, PW, PC, MWC, hingga ranting. PKB memang tak bisa dilepaskan dari NU. Karena NU lah yang telah membidani kelahirannya. Nilai-nilai di dalamnya pun merupakan nilai-nilai perjuangan jam’iyyah NU termasuk dalam hal identitas perjuangan, mabda siyasi dll.

Lalu bagaimana dengan kepindahan Yeni Wahid yang notabene putri Gus Dur ke Demokrat? memang bukan hanya Yenny, sebelumnya Effendy Choiri pindah ke Nasdem, Lili Wahid ke Hanura. Fakta itu adalah sesuatu yang wajar saja dalam politik. Selama PKB tidak terlepas dari ikatan nilai-nilai perjuangan, visi dan mabda siyyasi yang di amanatkan NU, maka PKB tetap akan mendapatkan tempatnya di kalangan nahdliyyin.

Apalagi jika warga NU sudah benar-benar memahami bagaimana perjuangan politik NU dari masa-ke masa. Memang sangat disayangkan Yenny tak sabar bertahan dalam penantian untuk meneruskan cita-cita dan perjuangan Gus Dur di PKB. Karena bagaimanapun wadah atau tempat bernaung secara politik antara PKB dan Demokrat tentu akan berbeda. Bisa saja Yenny mengklaim mampu menggiring pengikut Gus Dur agar mengikuti langkah politiknya. Tapi kader-kader Gus Dur di seluruh Indonesia yang telah mendapatkan pencerahan dari Gus Dur dalam pergulatan intelektual dan kelembagaan di lingkungan NU tentu tidak akan begitu saja mengikuti Mbak Yenny secara politik.

Namun demikian, sekali lagi kita menghormati langkah dan ijtihad politik Mbak Yenny yang pindah ke Partai Demokrat ini. Karena bagaimanapun hal itu merupakan kebebasan yang melekat di masing-masing individu yang tak bisa dipaksa oleh siapapun.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 7 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 10 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: