Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Konvensi Capres Partai Demokrat

OPINI | 11 April 2013 | 16:08 Dibaca: 227   Komentar: 0   0

13656712461480963199

Gagasan primary election atau konvensi penjaringan calon presiden (capres) yang hendak dilakukan oleh Partai Demokrat (PD) untuk menyongsong Pemilu 2014, ditanggapi dengan penuh optimisme oleh sejumlah kalangan. Kita senang atas usulan Ketua Umum PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu terkait rencana menggelar konvensi untuk menjaring capres yang akan diusung pada Pemilu 2014 mendatang. Hal Ini merupakan langkah cerdas yang dilakukan partai berlogo bintang mercy itu.

Mekanisme ini membuka selebar-lebarnya kandidat yang ingin maju sebagai presiden baik dari kalangan internal dan eksternal untuk berkompetisi dengan kandidat-kandidat lainnya. Pelaksanaan konvensi bisa menjadi ruang bagi PD untuk merebut kembali kepercayaan publik atas partai pemenang Pemilihan Umum Legislatif 2009 itu.

Elite PD mengatakan persiapan pencalonan presiden dari Partai Demokrat baru akan dibahas pada akhir 2013. Pencalonan pun akan dilakukan secara terbuka. Dalam konvensi terbuka itu, partai akan menjaring beberapa nama calon presiden dan wakil presiden, baik dari internal maupun dari luar partai. Siapa saja bisa mendaftar menjadi capres dari PD. Beberapa nama yang tersaring akan dilempar ke publik melalui survei terbuka.

Partai Demokrat melalui konvensi ingin mendapatkan capres terbaik, yakni kapabel dan memiliki elektabilitas tinggi, sehingga bisa memenangi Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 mendatang. Dengan menyelenggarakan konvensi capres, PD akan lebih dekat dengan rakyat karena rakyatlah pemilik suara mayoritas pada pemilu.

Melalui konvensi, PD ingin menyerap aspirasi rakyat melalui figur terbaik yang menjadi harapan rakyat. Selama ini, PD sudah dekat dengan rakyat. Akan tetapi, melalui konvensi capres, akan lebih dekat lagi dengan rakyat. Tujuan digelarnya konvensi adalah merumuskan visi dan misi capres yang akan diusung dalam menyelesaikan persoalan bangsa dan negara. Konvensi akan membuka ruang kepada siapa pun yang memiliki kapasitas, kapabilitas, integritas, dan syaratsyarat pemimpin lainnya untuk menjadi presiden.

Ketua Umum PD mengatakan bahwa siapa saja boleh melamar. Yang terpilih adalah figur yang paling memenuhi kriteria dan yang paling banyak dipilih rakyat. Tentu ada kader dan nonkader. PD memiliki keseriusan tingga tentang calon yang layak memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Alasannya, dari peta persaingan ekonomi dunia, masa pasca 2014 sangat menentukan posisi Indonesia yang saat ini sudah masuk 15 besar dunia sebagai negara dengan PDB tertinggi. Laju pertumbuhan ekonomi juga merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Oleh karena itu, PD tidak mau capres dan cawapres dipilih oleh struktur, melainkan oleh rakyat. Dalam konvensi capres, Demokrat mengusung konsep “Continuity and Change”. SBY menjelaskan sesuatu yang sudah baik diteruskan, yang belum bagus disempurnakan, yang salah diubah.

Keuntungan Konvensi

Konvensi, menurut hemat saya, merupakan langkah tepat mendobrak oligarki yang selama ini terjadi pada partai politik. Dengan menyerahkan penetapan calon presiden dan calon wakil presiden kepada publik, secara tidak langsung SBY memberi penegasan bahwa penentuan calon pimpinan nasional tak sepenuhnya ditentukan oleh pengurus partai politik, melainkan ditentukan bersama dengan kehendak publik. Konvensi Demokrat menyiratkan sikap agar tidak ada money politics yamg bisa dimainkan oleh pengurus parpol dalam menjaring capres.

Ada empat keuntungan yang menurut hemat saya bakal diraih PD jika menjadikan sistem konvensi sebagai mekanisme perekrutan capres. Keuntungan pertama, PD akan mempunyai skema pilihan banyak tokoh untuk nantinya diusung menjadi capres, dan itu mengisi krisis figur di internal partai yang dialami saat ini. Keuntungan kedua, konvensi ini bisa dijadikan stimulan pencitraan politik atau menjadi bagian political treatment untuk mengubah persepsi negatif ke netral atau bahkan ke positif, setelah PD diterpa masalah-masalah internal berturut- turut yang menyebabkan rontoknya elektabilitas partai.

Selanjutnya, ide ini jelas novasi, proses nominasi presiden melalui konvensi ini dinilai lebih demokratis. Bukan hanya pengurus, tapi pejabat partai juga bisa mencalonkan. Itu memungkinkan kompetisi melibatkan anggota partai. terakhir, memungkinkan figur yang akan mencalonkan diri jadi presiden berkompetisi secara terbuka di internal partai. Jadi tidak menutup (seperti sebelumnya) ketua umum harus jadi presiden.

Bagaimanapun, ide konvensi itu sesungguhnya bisa menjadi kanal untuk mendistribusikan power figur sentral menjadi kekuatan sistem. Dalam tradisi partai modern, konvensi kerap kali melahirkan suatu mekanisme perekrutan calon leader yang berkualitas. Karena itu, patut diapresiasi gagasan konvensi yang dilansir Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono. Mekanisme konvensi dianggap sebagai model terbaik dalam menentukan capres berkualitas. Di saat banyak partai terbelenggu dan tersandera oleh calon-calon yang masih itu-itu juga orangnya.

Saat ini, banyak partai yang menentukan capresnya secara tertutup, padahal calon-calon yang diusung sebenarnya belum mempunyai prestasi yang begitu jelas, hanya mengandalkan kekuatan kapital dan media-media tertentu. Ditambah lagi adanya calon-calon yang tidak terlepas dari persoalan sosial dan track record masa lalu. Mekanisme konvensi calon presiden (capres) sudah seharusnya menjadi bagian demokratisasi partai. Mekanisme konvensi itu harus dilembagakan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penjelajah Kuburan, Mencintai Indonesia …

Olive Bendon | | 23 October 2014 | 03:53

Batik Tanpa Pakem …

Agung Han | | 23 October 2014 | 07:31

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Putri Presiden Jokowi Ikut Tes CPNS, Salah …

Djarwopapua | | 23 October 2014 | 14:08

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 3 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 9 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 10 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 11 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

X-Gene: Dao (1) …

Ryan M. | 7 jam lalu

Pemanasan Global dalam Perspektif Islam …

Kukuh Fany Fatkhulo... | 7 jam lalu

Bangsa yang Merangkak Dewasa …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

Sulitnya Seleksi Menteri, Kabinet Bersih vs …

Arnold Adoe | 8 jam lalu

Astaghfirulloh, Ada Kampung Gay di …

Cakshon | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: