Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Hendi Setiawan

Gemar membaca koran, majalah, buku macam-macam, novel, buku-buku tentang Islam. Suka nonton sepakbola, bulutangkis. Senang selengkapnya

Sekda DKI Mengundurkan Diri Tiba-tiba, Etiskah?

OPINI | 10 April 2013 | 08:09 Dibaca: 2268   Komentar: 0   4

Fajar Panjaitan, Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, per 9 April 2013 mundur dari jabatannya sebagai Sekda karena ia telah resmi menjadi anggota PDIP dan mencalonkan diri menjadi calon legislatif 2014 - 2019.  Berita pengunduran diri Fajar tentu saja secara birokrasi mengagetkan, ya karena tiba-tiba, walaupun bagi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta mungkin saja bukan berita tiba-tiba, mengingat Jokowi sebagai orang PDIP masa sih tak punya bocoran info dari partainya?

Kapan Fajar Panjaitan bergabung dengan PDIP?  Menurut berita di Kilas Metro Kompas, Fajar resmi bergabung sejak 26 Maret 2013.  Lalu kapan Fajar mengajukan surat pengunduran diri sebagai Sekda kepada Gubernur DKI Jakarta?  Kata ‘tiba-tiba’ menjadi beralasan bila melihat waktu pengunduran diri dan surat pengunduran diri yang saya yakini tenggang waktunya tak sampai satu bulan.

Saya tak tahu persis aturan kepegawaian pegawai negeri sipil (PNS) apakah boleh mundur tiba-tiba sebagai pejabat maupun sebagai PNS?  Hanya bila membandingkan dengan aturan kepegawaian di perusahaan swasta pada umumnya, seorang pegawai harus mengajukan surat pengunduran diri minimal satu bulan sebelum ia mundur.   Maksud aturan demikian tentu agar perusahaan punya waktu untuk mencari pengganti si pegawai yang berniat berhenti.  Memang berbeda bila si pegawai karena sesuatu hal harus diberhentikan dengan tidak hormat, maka pemberhentian dapat dilakukan dengan mendadak.

Pejabat karir di provinsi sampai setingkat Sekretaris Daerah, tentu bukan orang sembarangan, PNS yang mencapai puncak karir sampai eselon 1, sebagai Sekda, puncak karir PNS di Provinsi DKI Jakarta, mestinya seorang PNS pilihan dan menguasai aturan kepegawaian dengan baik.  Lalu mengapa mundur tiba-tiba, per 9 April 2013 atau kemarin dihitung dari hari ini, etiskah meninggalkan jabatan tanpa hujan tanpa angin, tapi karena ingin menjadi calon legislatif?  Karena menyangkut etika pekerja maka penilaian terserah masing-masing orang, patokannya hanya kebiasaan umum yang berlaku di lingkungan PNS dan lingkungan bisnis sebagai pembanding.

Yang jelas per 9 April 2013 jabatan Sekda DKI Jakarta untuk sementara dijabat oleh Wiryatmoko, Asisten Bidang Pembangunan dan Lingkungan, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekda DKI Jakarta, sampai ditunjuknya pejabat tetap oleh Gubernur DKI Jakarta.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 3 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 8 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 9 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Si Belang, Si Nenek, dan Barang Bekasnya …

Ulfah Fa'izah N... | 7 jam lalu

Tips Bepergian Backpacking …

Rizal Abdillah | 7 jam lalu

Saudis Gay “Luthiy” …

Ali Uunk | 7 jam lalu

Tangisnya Danum …

Hozrin Hilmo | 7 jam lalu

Project Sophia: Memutus Benang Konflik …

Jafar G Bua | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: