Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Hendi Setiawan

Almost senior citizen, pengalaman kerja di pelbagai bidang, transmigrasi, HPH, modal ventura, logistik, sistem manajemen selengkapnya

Sekda DKI Mengundurkan Diri Tiba-tiba, Etiskah?

OPINI | 10 April 2013 | 08:09 Dibaca: 2269   Komentar: 0   4

Fajar Panjaitan, Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, per 9 April 2013 mundur dari jabatannya sebagai Sekda karena ia telah resmi menjadi anggota PDIP dan mencalonkan diri menjadi calon legislatif 2014 - 2019.  Berita pengunduran diri Fajar tentu saja secara birokrasi mengagetkan, ya karena tiba-tiba, walaupun bagi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta mungkin saja bukan berita tiba-tiba, mengingat Jokowi sebagai orang PDIP masa sih tak punya bocoran info dari partainya?

Kapan Fajar Panjaitan bergabung dengan PDIP?  Menurut berita di Kilas Metro Kompas, Fajar resmi bergabung sejak 26 Maret 2013.  Lalu kapan Fajar mengajukan surat pengunduran diri sebagai Sekda kepada Gubernur DKI Jakarta?  Kata ‘tiba-tiba’ menjadi beralasan bila melihat waktu pengunduran diri dan surat pengunduran diri yang saya yakini tenggang waktunya tak sampai satu bulan.

Saya tak tahu persis aturan kepegawaian pegawai negeri sipil (PNS) apakah boleh mundur tiba-tiba sebagai pejabat maupun sebagai PNS?  Hanya bila membandingkan dengan aturan kepegawaian di perusahaan swasta pada umumnya, seorang pegawai harus mengajukan surat pengunduran diri minimal satu bulan sebelum ia mundur.   Maksud aturan demikian tentu agar perusahaan punya waktu untuk mencari pengganti si pegawai yang berniat berhenti.  Memang berbeda bila si pegawai karena sesuatu hal harus diberhentikan dengan tidak hormat, maka pemberhentian dapat dilakukan dengan mendadak.

Pejabat karir di provinsi sampai setingkat Sekretaris Daerah, tentu bukan orang sembarangan, PNS yang mencapai puncak karir sampai eselon 1, sebagai Sekda, puncak karir PNS di Provinsi DKI Jakarta, mestinya seorang PNS pilihan dan menguasai aturan kepegawaian dengan baik.  Lalu mengapa mundur tiba-tiba, per 9 April 2013 atau kemarin dihitung dari hari ini, etiskah meninggalkan jabatan tanpa hujan tanpa angin, tapi karena ingin menjadi calon legislatif?  Karena menyangkut etika pekerja maka penilaian terserah masing-masing orang, patokannya hanya kebiasaan umum yang berlaku di lingkungan PNS dan lingkungan bisnis sebagai pembanding.

Yang jelas per 9 April 2013 jabatan Sekda DKI Jakarta untuk sementara dijabat oleh Wiryatmoko, Asisten Bidang Pembangunan dan Lingkungan, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekda DKI Jakarta, sampai ditunjuknya pejabat tetap oleh Gubernur DKI Jakarta.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasien BPJS yang Kartunya Tidak Aktif Mulai …

Posma Siahaan | | 21 December 2014 | 06:53

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 2 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 3 jam lalu

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 22 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 20 December 2014 09:54

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 20 December 2014 09:14


Subscribe and Follow Kompasiana: