Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Allam Af

sedang belajar menulis dari anda. Ya, anda yang sedang membaca tulisan ini.

Kenaikan TDL,Dilema PLN

OPINI | 10 April 2013 | 19:37 Dibaca: 668   Komentar: 0   0

1365597309795224545Mulai 1 April 2013 kemarin PLN (Perusahaan Listrik Negara) menaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) yang mana ini memiliki dampak langsung pada rakyat,rakyat kalangan menengah ke bawah khususnya. Kenaikan TDL ini dibebankan bagi pelanggan yang menggunakan beban diatas 900 VA (Volt Ampere), yang ternyata dari survei yang dilakukan di sekitar Yogyakarta sendiri merupakan daya yang kebanyakan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) menggunakannya. Apalagi masyarakat umum yang sekarang banyak yang lebih dari kapasitas tersebut,yang artinya juga terkena dampak kenaikan TDL .

Padahal UMKM sebagai pilar utama bangsa,penyokong perekonomian khususnya di daerah seperti di Yogyakarta yang memang banyak sekali UMKM yang masih bergantung pada listrik dari PLN. Hal ini menambah beban bagi UMKM ,apalagi di zaman sekarang yang banyak tantangan juga dari gempuran barang impor murah yang luarbiasa,lalu bunga kredit pinjaman dari bank atau pun jasa simpan pinjam lain.  Disisi lain pemerintah mendukung terbentuknya UMKM namun disi lain pemerintah melalui BUMN-BUMNnya juga kurang mensinkronkan kebijakan-kebijakannya. Sehingga terlihat 2 sisi pemerintah yang berbeda khususnya kepedulian pada rakyatnya,

Bila diikuti awal mula masalahnya adalah berada di manajemen internal PLN sendiri sebagai perusahaan tunggal listrik di Indonesia yang mengalami kebimbangan dalam melaksanakan tugasnya.Terjadi Inifisiensi kerja di PLN, yaitu ketika pembangkit-pembangkit milik PLN yang ada harus mengganti bahan bakarnya,yang awalnya bisa menggunakan Gas dan Batubara dengan mengeluarkan cost sebesar 7 Trilyun tiap tahun. Namun sekarang PLN menggunakan BBM (Bahan Bakar Minyak) sehingga terjadi pembengkakan anggaran,karena penggunaan BBM sendiri memakan biaya hingga 33 Trilyun per tahun dengan daya yang dihasilkan sama dengan Gas dan batubara tadi. Dari sini kita lihat adanya Opportunity Lost sebesar 26 Trilyun. Kenaikan hampir 200% dari biaya awal.

Akibat dari naiknya biaya ini maka pemerintah juga tidak mampu mengakali lagi baik dengan subsidi ataupun alternatif lain,sehingga secara terpaksa pemerintah melalui PLN harus menaikkan TDL yang ini dibebankan pada rakyat. Dilematis memang,disisi lain Pemerintah harus memenuhi kebutuhan Listrik negara karena rakyat membutuhkan. Namun rakyat yang membutuhkan juga harus menanggung beban lebih berat dari sebelumnya karena ketidaktersediaan dana penggunaan sumber daya untuk pembangkit listrik. Padahal Indonesia sendiri adalah penyedia bahan Gas dan Batubara yang  sangat luar biasa. Potensi dan kekayaan alam yang dimiliki sangatlah banyak. Namun kenapa hal seperti ini bisa terjadi ,ibaratnya Kegelapan ketika malam hari di sebuah Toko Lampu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasien BPJS yang Kartunya Tidak Aktif Mulai …

Posma Siahaan | | 21 December 2014 | 06:53

Hollywood Kena Batunya, AS Panik! …

Daniel H.t. | | 21 December 2014 | 10:27

Inilah 5 Strategi Penting Menurunkan Tekanan …

Irsyal Rusad | | 21 December 2014 | 09:22

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 4 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 6 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Aburizal Bakrie Disandera Jokowi ? …

Adjat R. Sudradjat | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: