Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ufi Hakim

Sedang berada pada garis perjuangan di PMII Rayon Pancasila(FISIP), Komisariat Brawijaya Malang,

Analisa APBN 2012 dan 2013 yang Dinilai Masih Belum Berpihak Pada Rakyat

OPINI | 10 April 2013 | 13:48 Dibaca: 742   Komentar: 0   0

Kebijakan fiskal seperti penyusunan APBN sangatlah menentukan bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kurun waktu tahunan, apabila APBN dirasa banyak ketimpangan dan tidak efektif maka yang akan dirugikan bukan hanya masyarakat melainkan pula semua elemen yang ada dalam negara, meski APBN disusun untuk jangka waktu setahun namun bila terjadi sebuah ketimpangan dan berdampak terhadap sebuah krisis perekonomian maka dampaknya akan bertahun-tahun.
Bahkan sesuai dengan hasil berita Kompas menyebutkan bahwa kebijakan fiskal mengenai APBN menyebabkan sebuah hidup matinya seseorang, hal ini terjadi banyak terjadi di sejumlah daerah yang minim infrastruktur kesehatan, disana banyak masyarakat yang meninggal ketika jatuh sakit dan sedang mengalami kondisi kritis tanpa pengobatan medis lebih lanjut.
Selain itu peran fungsi APBN yang sangat vital adalah menumpas kemiskinan yang ada di Indonesia, jika APBN disusun masih belum menghasilkan sebuah dampak yang signifikan terkait penumpasan kemiskinan di Indonesia maka APBN yang disusun dinilai tidak pro-rakyat. Hal ini terbukti sebagaimana data yang dilaporkan olehKompas diatas dengan narasumber Ahmad Erani yang menyebutkan bahwa APBN 2012-2013 yang masih belum berpihak para rakyat.
Selama ini penyusunan APBN lebih banyak terkuras pada kegiatan yang membiayai kegiatan mengikat, seperti belanja pegawai pemerintah pusat, subsidi energi, dan transfer daerah yang sekitar 70 persenya habis untuk belanja pegawai daerah, dan membayar utang. Hal ini tentunya sangat bertolak balik dengan kebutuhan yang masyarakat Indonesia yang membutuhkan sarana infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan primer yang memadai seperti pendidikan dan kesehatan. Habisnya alokasi anggaran untuk pegawai juga dinilai tidak efektif karena selama ini pemerintah sendiri masih belum mampu menyuguhkan sebuah pelayanan yang prima terkait fungsi mereka sebagai pelayan publik, kebanyakan uang yang dialokasikan untuk kegiatan birokrasi hanya untuk kepentingan belaka, dan berujung pada tindakan korupsi yang saat ini sudah lumrah terjadi di tataran lembaga birokrasi pemerintah Indonesia. Sebagaimana semestinya uang APBN yang bersumber dan alokasinya harus ditujukan kepada masyarakat malah tidak dilaksanakan dengan baik.
selanjutnya bisa dibaca di: www.serbapolitik.blogspot.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuna Netra, Tuna Rungu, dan Tuna Wicara yang …

Mbah Ukik | | 23 May 2015 | 09:25

Beras Plastik Siapa Bermain? …

Musni Umar | | 24 May 2015 | 07:31

Kompasiana Seminar Nasional: Harapan serta …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 15:58

Pahami Screen Time dan Play Time untuk Anak …

Giri Lumakto | | 23 May 2015 | 22:19

Kota Batam Gandeng Yokohama untuk Menjadi …

Isson Khairul | | 23 May 2015 | 20:23


TRENDING ARTICLES

Menyoroti Pembangunan Rel Kereta Api di …

Johanis Malingkas | 14 jam lalu

Dua Kali Ke Toilet, Saldo Multitrip Dipotong …

Endang Priyono | 15 jam lalu

Air Mata Ema Tumpah di Korem 151 Binaya …

Rusda Leikawa | 15 jam lalu

500 Becak Disiapkan Menjemput Tamu …

Niken Satyawati | 16 jam lalu

Watu Ondo Jember, Wisata Air Terjun atau …

Imam Hariyanto | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: