Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Alan Juyadi Juyadi

Learning and exploring everything to broaden and improve my skills and knowledge

Dinamika Strategi Menuju RI 1 dan Kongres PB HMI ke 28

OPINI | 09 April 2013 | 16:47 Dibaca: 470   Komentar: 0   0

DINAMIKA STRATEGI MENUJU RI 1 DAN KONGRES PB HMI Ke- 28

Oleh :

Alan Juyadi SH

Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diprakasai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk ditingkat I. Tentang sosok Lafran Pane, dapat diceritakan secara garis besarnya antara lain bahwa Pemuda Lafran Pane lahir di Sipirok-Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pemuda Lafran Pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalis-muslim pernah menganyam pendidikan di Pesantren, Ibtidaiyah, Wusta dan sekolah Muhammadiyah.

Adapun latar belakang pemikirannya dalam pendirian HMI adalah: “Melihat dan menyadari keadaan kehidupan mahasiswa yang beragama Islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Keadaan yang demikian adalah akibat dari sitem pendidikan dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Karena itu perlu dibentuk organisasi untuk merubah keadaan tersebut. Organisasi mahasiswa ini harus mempunyai kemampuan untuk mengikuti alam pikiran mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi atau pembaharuan dalam segala bidang, termasuk pemahaman dan penghayatan ajaran agamanya, yaitu agama Islam. Tujuan tersebut tidak akan terlaksana kalau NKRI tidak merdeka, rakyatnya melarat. Maka organisasi ini harus turut mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat.

JAKARTA- Menyimak kembali rencana kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kongres Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) ke-28 di Hotel Borobudur, Jakarta, menjadi pro-kontra. Gelombang penolakan dan isu-isu miring seputar manuver politik ditengarainya muncul campur tangan istana dalam kongres HMI semakin menjadi pergunjingan yang bukan rahasia lagi.

Jika kita lihat dalam kondisi normal sebenarnya bukan hal baru dan berlebihan, seorang kepala negara diundang secara resmi untuk menghadiri dan sekaligus memberikan sambutan diacara organisasi kemahasiswaan Nasional selevel Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Akan tetapi soal kehadiran Presiden untuk membuka Kongres HMI, terpulang kepada adanya pertimbangan aparat keamanan yang memiliki SOP tersendiri, bagaimana menakar hadir tidaknya presiden disebuah acara rapat umum yang melibatkan massa dalam jumlah banyak. Meskipun SBY sempat menyatakan bersedia hadir, tetap ada prosedur keamanan yang akan dilakukan sejumlah aparat penjaga Presiden yang ditakutkan akan menjadi pemicu gejolak dari efek panasnya Kongres Anak-anak Muda yang tergabung dalam HMI itu sendiri.

Memang pasca berhentinya Anas Urbaningrum (AU) sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, dan memburuknya hubungan AU dengan Presiden SBY, situasi ini jadi berimbas ke kongres HMI. Padahal sesungguhnya persoalan diinternal demokrat dan Kongres HMI adalah dua hal yang berbeda. “Karena HMI organisasi independen dan HMI tidak main politik, kehadiran SBY mungkin momentumnya saja yang tidak pas. Dan suasana kebatinan kader-kader HMI yang umumnya bersimpati kepada AU membuat suhu Kongres HMI saat ini menjadi dinamis dan wajar saja muncul penolakan. “Dan itu biasa, sepanjang masih dalam koridor dan norma-norma yang ada, kader dan alumni HMI, harusnya bisa lebih objektif.

Karena sebagai anak bangsa dan kelompok intelektual tentu kader HMI mengerti bahwa selain sebagai sosok individu SBY juga sebagai sosok Kepala Negara, yang suka atau tidak beliau adalah simbol negara yang menurut Undang-Undang harus dijaga martabatnya, Karena pada akhirnya Kongres HMI bukan hanya milik keluarga besar HMI, tapi juga menjadi tontonan bagi publik. Presidium Kongres HMI ke 28 memutuskan, Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke -28 resmi ditunda dan akan dilanjutkan dalam waktu secepatnya.

Penundaan kongres ini menurut Presidium Kongres HMI semua pengunduran ini hanya terkait masalah tekhnis berupa waktu perpanjangan dan tempat kongres.
Putusan Presidium Kongres HMI ke 28 ditandatangani juga diteken oleh Riyanto Ismail Badko Sulut-Gorontalo, Bambang Reddtob Badko Papua-Papua Barat, Zulfitra Hasyim Badko Malmalut, Muhammad Amin Badko Sulselbar, Wiwin Zutrayadi Badko Subagsel,dan Syarifudin perwakilan Cabang Makasar Timur.


Untuk itu pihak Presidium dan bersama OC dan SC terus mencari jalan agar ditemukan solusi terbailk guna melanjutkan kongres HMI ini sehingga terpilih ketua umum baru.
Karena itu diharapkan kepada seluruh kader HMI tidak terpancing isu atau pun cepat mengambil keputusan bahwa tertundanya kongres karena urusan politik. Ini hanya urusan teknis saja.

Bahwa ada dinamika yang sangat dinamis dalam kongres dan itu hal yang biasa. Presidium Kongres HMI telah menjalankan tugas sesuai fungsi dan wewenang yang mengacu pada AD/ART dan aspirasi yang berkembang yang mana sampai pada sidang komisi dan pleno III, dimulai dengan sidang komisi-komisi. Ini kongres HMI yang terlama dalam sejarah Kongres HMI sebab kongres telah dibuka pada 15 Maret 2013 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, jadwal kongres hingga tanggal 22 Maret 2013 belum juga menghasilkan putusan sehingga ditambah hingga tanggal 26 Maret 2013.

Lagi-lagi pada saat terakhir, belum juga menemui titik temu. Kongres pun dilanjutkan ke Pusdiklat Graha Insan Cita Depok dari 27 Maret 2013 hingga 4 April 2013. Dan ternyata masih menemui kebuntuan untuk materi pemilihan ketua umum HMI, adapun isu yang berkembang Kondisi ini diduga karena ada campur-tangan kelompok tua yang dimotori Akbar Tandjung. Kelompok tua atau senior alumni HMI mengintervensi atau mengobok-obok pelaksanaan Kongres Ke-28 HMI demi kepentingan pribadi atau kelompok, sangat disayangkan.

Kedatangan politisi gaek Akbar Tandjung, dan kawan-kawan ke arena kongres itu dikhawatirkan menghancurkan cintra independensi HMI sebagai organisasi mahasiswa. Sebenarnya Kehadiran mereka sebagai  sesepuh tidak menjadi masalah, namun jika kehadiran mereka menimbulkan masalah berkepanjangan bagi Kongres dan HMI sebagai organisasi, itu sama saja dengan intervensi.

Intervensi kelompok tua itu diyakini sebagai bentuk penolakan para senior yang berkepentingan atas posisi Ketua Umum Pengurus Besar HMI Noer Fajrieansyah untuk kembali mencalonkan diri periode 2013 - 2015. Bahkan campur tangan kaum tua itu berujung pada tuntutan pemecatan mantan pimpinan HMI tanpa alasan yang kuat, Pemecatan anggota HMI harus melalui komisariat dan diusulkan kepada cabang. Bagaimana orang luar bisa dengan tiba-tiba mengusulkan pemecatan. Mereka yang mengusulkan pemecatan itu tidak  memahami aturan main yang mereka sendiri buat. Para Alumni HMI itu mengatasnamakan KAHMI. Padahal KAHMI itu dibentuk oleh Kongres HMI jaman Noercholis Madjid tahun 1967-an.

Keinginan para senior yang campur tangan dalam Kongres HMI, membuktikan bahwa ada sosok yang mampu mengganjal para senior yang ingin mempolitisasi HMI untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.  Tetapi justru intervensi itu menyakinkan banyak cabang bahwa Fajri adalah figur tepat yang dibutuhkan HMI pada saat ini khususnya dalam era Tahun Politik menjelang PilPres 2014.

Simak kembali independensi HMI sebagai organisasi mahasiswa dan HMI merupakan kerangka generasi muda bangsa Indonesia yang tak seharusnya menjadi mesin politik dari pihak-pihak yang akan meramaikan 2014 dan semoga ini akan menjadi barometer untuk kejayaan HMI kedepannya sesuai dengan nilai-nilai universal dan alumni HMI berdiri sebagai forum silahturahmi sesama mantan kader HMI yang bebas dari tarik menarik politik praktis.

Mencermati keadaan internal HMI saat ini bahwa perbedaan itu wajar, dalam persepektif agama itu rahmat, tetapi jangan sampai terjadi konflik apalagi didasari oleh kepentingan-kepentingan dari orang diluar HMI dan mari Jaga indepensi HMI, selain kekuatan akademis, juga kekuatan independen kita, karena kita menginginkan Indonesia yang sejahtera, Indonesia bersatu, sejahtera

Yakin Usaha Sampai

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 5 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 8 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 8 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: