Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Muhammed Rivai

...menjadi bermanfaat itu lebih bermakna...

Sekali lagi..!! Ini Bukan Tentang Kopassus Tapi PREMAN

OPINI | 08 April 2013 | 03:34 Dibaca: 1421   Komentar: 19   1

Sudah diperkirakan sebelumnya pengakuan 11 anggota Kopassus yang menyerang lapas cebongan Jogjakarta perlahana-lahan akan menuai kritik dari berbgi pihak. Pengakuan dan sikap jantan anggota Kopassus ini awalnya mendapat respon positif dan simpati dari publik. Namun perlahan-lahan respon positif ini digeser oleh penggiringan opini yang bertujuang menydutkan Kopassus dan TNI secara umum.

Penulis ingin mengingatkan kita semua bahwa persoalan pokok dan mendasar yang mesti menjadi perhatian adalah tindakan premanisme yang semakin mengkhawatirkan. Tindakan brutal gerombolan preman yang menganiaya,membantai dan membunuh seorang anggota Kopassus adalah sebuah tindakan nekat dan berani. Coba anda bayangkan, yang mereka bunuh itu seorang anggota kopassus, prajurit terlatih, pasukan elit dan malah menjadi salah satu pasukan elit terbaik di dunia dengan berani dan nekat para preman itu membantainya. Bagaimana dengan nasib jutaan rakyat lemah tak berdaya..??

Penganiayaan dan pembunuhan anggota kopassus ini selayaknya menjadi fokus perhatian kita, bagaimana ini bisa terjadi, dan semestinya tindakan tegas,keras dan berefek jera mesti segera dilakukan. Pembersihan, penertipan dan pencegahan seluruh aktifitas premanisme harus segera dilakukan.

Kenyataanya apa yang terjadi hari ini..?? Penggiringan opini malah menjadikan TNI dan Kopassus sebagai sasaran tembak justru ketika institusi ini mau bersikap jujur dan terbuka. Ada apa ini semua, dimana nalar cerdas para pengamat, media dan pihak-pihak terkait atas persoalan ini..?

Dilain pihak para preman dan konco-konconya tertawa dengan terpingkal-pingkal meliahat ulah kita semua. Mereka dengan riang gembira menikmati kemenangannya atas sikap dan analisi sok cerdas dari berbagai pihak yang membuat mereka bernapas lega.

Persoalan ini hampir-hampir mirip dengan penanganan korupsi yang seolah setengah hati, koruptor bukanlah copet atau maling jalanan yang tidak mampu berfikir panjang, tapi koruptor adalah manusia cerdas yang terdidik yang lihaih dan selalu mengaburkan jejak dan bahkan meninggalkan perangkap. Sehingga tidak sedikit penegak hukum yang terkecoh dan bahkan menjadi korban atas perangkap yang dipasang para koruptor. Dan yang lebih fantastis koruptor mengadu domba para pengak hukum hingga mereka seling serang dan bermusuhan tiada henti, dan lagi-lagi para koruptor kegirangan dan tertawa terpingkal-pingkal.

Semoga pengalaman pahit dalam pemberantasan korupsi tidak terjadi dalam usaha menindak tegas premanisme ini. Dan kita segera keluar dari pinggiringan opini yang diluar konteks pemberantasan premanisme.

Salam cinta untuk Indonesia…

@rivai19

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 10 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 11 jam lalu

Psikologi Freud dalam Penarikan Diri Prabowo …

Sono Rumekso | 13 jam lalu

Ke Mana Sebaiknya PKS Pascapilpres? …

Aceng Imam | 13 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: