Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rizka Bayu Wirawan

Pendidikan : -TK Mexindo Bogor (1983-1985) -SD Regina Pacis Bogor (1985-1991) -SMP Regina Pacis Bogor (1991-1994) -SMU Negeri 1 selengkapnya

Pondok Pesantren di Garut : Mimpi Negara Islam

OPINI | 05 April 2013 | 14:03 Dibaca: 863   Komentar: 0   1

Pada awal tahun 2006 gw ditugaskan untuk mengaudit kegiatan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) di Kabupaten Garut, Jawa Barat. LM3 merupakan salah satu kegiatan bantuan sosial Kementerian Pertanian yang bertujuan memberdayakan potensi agribisnis pada lembaga-lembaga yang dekat dengan masyarakat, seperti pondok pesantren, pasraman, pura, seminari, vihara, LSM dan sebagainya. Pada note kali ini gw tidak akan bercerita tentang teknis bansos pertanian dan perkembangannya, tetapi tentang bagaimana sebuah pondok pesantren memiliki peran strategis dalam masalah pertahanan dan keamanan yang bermuara pada tetap tegaknya NKRI.

Pondok pesantren yang gw kunjungi waktu itu bernama Darussalam yang berlokasi di Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Bidang usaha agribisnis yang dikelolanya yaitu budidaya serat rami. Pengurus pondok dan LM3 yang waktu itu gw temui, Ibu Hj. Aminah, adalah seorang wanita yang sangat energik dan memiliki komitmen kuat untuk memberdayakan santri-santrinya. Pondok pesantren sendiri merupakan hasil akulturasi antara Islam dengan tradisi umat Hindu pra Islam yang juga memiliki sekolah-sekolah keagamaan sekaligus mendidik siswanya dengan ilmu kehidupan dan kanuragan, seperti bela diri. Dalam pandangan gw, pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan kemandirian dan ilmu survival kepada anak didiknya. Selepas dari pondok, para santri seolah mampu hidup dimana saja seperti lumut. Banyak alumni pondok pesantren yang menjadi orang sukses di negara ini, sebut saja mantan presiden almarhum Abdurrahman Wahid (Ponpes Tebu Ireng, Jombang) sampai Hidayat Nur Wahid dan mantan presiden PKS yang tersangkut kasus suap kuota impor daging sapi, Luthfi Hasan Ishaq (Ponpes Gontor, Ponorogo).

Setelah wawancara selesai, Ibu Aminah mengajak gw berjalan-jalan mengelilingi pondok pesantrennya. Beliau bercerita bahwa sesepuh pondok, almarhum KH. Yusuf Tauziri, adalah mantan sahabat dekat pendiri sekaligus imam besar Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo. Persahabatan keduanya dikukuhkan dengan mendirikan Institut Sufah di Malangbong, Garut, pada tahun 1940, sebuah lembaga pendidikan yang tujuan awalnya baik, yaitu mencetak santri intelektual untuk berjuang melawan Belanda. Persahabatan mereka akhirnya retak bahkan menjadi musuh bebuyutan karena berbeda pandangan soal pendirian negara Islam.

Di mesjid ponpes, kami berhenti sejenak dan Ibu Aminah menunjuk bekas lubang peluru di menara mesjid. Kartosuwiryo memang berulang kali berniat menghabisi mantan sahabatnya tadi dengan memerintahkan gerombolan DI/TII untuk menyerang PP Darussalam. Puncaknya pada tahun 1952 ketika ribuan gerombolan DI/TII bersenjata lengkap selepas isya menyerang ponpes yang dipertahankan dengan gigih oleh para santri yang loyal kepada KH. Yusuf Tauziri. Para santri yang hanya diperkuat 7 pucuk senapan, akhirnya mampu menghalau gerombolan DI/TII masuk ke dalam hutan sampai tiba bantuan pasukan dari Kodam VI (sekarang Kodam III) Siliwangi. Dalam penyerangan itu, 7 orang santri gugur dan insya Allah mereka syahid. Lubang peluru di atas menara mesjid PP Darussalam sengaja dibiarkan oleh para penerusnya sebagai pengingat bahwa pernah ada pertempuran heroik disana untuk membela kehormatan diri, institusi dan negara.

Cita-cita mendirikan negara Islam di Indonesia merupakan ideologi yang tidak kunjung padam. Ideologi tersebut tumbuh subur di kalangan masyarakat yang frustasi dengan segala ketimpangan sosial yang terjadi dalam proses pembangunan. Mereka merasa dipinggirkan dan selalu dicurigai oleh pemerintah dengan berbagai operasi intelijen sejak SM Kartosuwiryo dieksekusi TNI pada bulan September 1962. Ketimpangan sosial di negara ini yang secara kuantitatif diukur dengan Indeks Gini pada tahun 2011 mencapai angka 0,41 dari skala 0-1, terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di dunia (6,4%) dan pendapatan per kapita yang katanya telah melampaui USD 4.000/orang/tahun. Suatu hal yang tidak perlu terjadi bila mekanisme zakat dilaksanakan dengan baik, sektor pertanian dikelola secara rasional (bukan sekedar pemberian bansos, pelarangan impor dan subsidi sarana produksi), dan rakyat kita bermental wirausaha.

Gw pribadi tidak pernah setuju dengan konsep negara Islam. Sekalipun Islam merupakan agama mayoritas di negara ini, gw lebih cenderung memilih jalan tengah berupa negara yang “Islami”. Nilai-nilai Islam yang baik sudah diterapkan di negara-negara maju seperti Singapura dan Jepang, minus kalimat syahadat. Umat harus introspeksi diri : sudahkah Islam dipraktekkan, atau sekedar menghafalkan Al Quran, hadits dan doa-doa panjang dalam bahasa Arab yang tidak kita mengerti maknanya dan tidak pernah kita aplikasikan dalam kehidupan sehari hari?

Parkiran Gedung B Kementan, 5 April 2013 jam 06.59.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 11 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 13 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 15 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 17 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: