Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Pantai Samas Jogjakarta Dihancurkan Prostitusi dan Preman

OPINI | 05 April 2013 | 14:06 Dibaca: 3630   Komentar: 0   4

Siapa yang mau berkunjung ke Pantai Samas - sebuah pantai yang zaman sekitar tahun 1980-an sangat terkanal di Yogyakarta - saat ini? Siapa yang rela membawa anak-anak ke sana? Orang yang tidak terkait dengan dunia prostitusi tak akan mengunjungi Pantai Samas di pesisir selatan Jogjakarta ini. Pantai yang kali pertama mencuat bersamaan dengan pantai Kuta pada tahun 1970-an tersebut kini menjadi pantai dengan hamparan bedeng dan rumah reot yang diisi oleh para pelacur STW - setengah tua dan kumuh apkiran dari kota-kota yang telah tersingkir.

Preman dan germo mulai menguasai pantai yang dulu ramai tersebut. Akibatnya Pantai Samas sudah menjadi sarang rumah para germo yang dibekengi oleh para preman. Lihatlah sendiri dan datang ke Samas. Yang akan Anda temukan tak lain adalah deretan ratusan rumah dengan kondisi kumuh yang tak pantas dikunjungi dan dihuni - mirip Pantai Parangtritis di bagian barat sekitar 10 tahunan lalu yang dipenuhi oleh bangunan ala kadarnya yang dijadikan tempat prostitusi kelas teri, yang kini tempat itu sudah ditata dan masih menyisakan beberapa puluh rumah di sana. Lalu siapa yang menguasai tempat tersebut?

Para penghuni rumah prostitusi di Samas tersebut adalah para PSK kelas teri buangan dan pada akhir pekan para perek dan pelacur juga didatangkan dari Jogjakarta. Mereka dikenal dengan istilah ‘ayam kampus - pelacur mahasiswi, ‘pithik cilik - pelacur pelajar SMP/SMA’ dan ‘STW - setengah tua’. Jangan salah meskipun di tempat kumuh, kejahatan preman juga menjadi-jadi. Para PSK musiman datang ke Pantai Samas sebagai bagian dari tour of duty yang diorganisir oleh para preman pemilik tempat bordil di Jogjakarta dengan pusatnya di Sosrowijayan kawasan Pasar Kembang, Jogjakarta.

Para PSK kelas teri penghuni permanen bordil kelas teri Pantai Samas dicampur dengan PSK amatiran dalam bentuk trafficking sebagai penarik bagi hidung belang yang mendatangi Pantai Samas. Pantai Samas akan tutup dan kehilangan denyutnya jika pelacur musiman setiap pekan yang di-drop dari Jogjakarta tidak datang.

Parkir di Pantai Samas selain mahal juga tidak aman. Pun makanan yang dijual kebanyakan makanan kelas pinggir rel kereta api mirip di daerah Bongkaran di Jakarta - khas kekumuhan pelacurran kelas teri - yang didominasi oleh minuman ringan sampai bir dan mie instant. Pantai Samas tak memberikan sama sekali gambaran keindahan pantai tahun 1970-1980-an.

Gambaran muram tersebut sebagai bagian dari bagaimana premanisme telah menghancurkan pariwisata. Potensi wisata Pantai Samas pernah mencapai masa kejayaannya di tahun 1970-1980-an sebelum diambil alih oleh para preman dan mafia. Sebenarnya Samas masih memungkinkan untuk dikembangkan menjadi tempat wisata pantai yang menarik - semenarik Pantai Parangtritis jika pelacuran dan rumah-rumah kumuh sarang prostitusi pegangan preman dibersihkan dari kawasan Pantai Samas yang indah dengan deburan ombak meninggi.

Langkah Ini juga upaya untuk mencegah berkembang biaknya aksi prostitusi kampus di Jogjakarta - kebetulan Maharany Suciono yang tersangkut kasus asusila korupsi dan gratifikasi seks dengan kader PKS Achmad Fathanah pindah ke Jogjakarta selepas dipecat dari kampusnya Universitas Dr. Mustopo Beragama. Cegah dan tangkal Maharany Suciono pindah ke kampus di Jogjakarta.

Kita menunggu Pantai Samas dibebaskan dari kuasa mafia dan pelacuran yang dikuasai para preman sehingga kita bisa melihat Samas menjadi pantai yang layak dikunjungi.
Salam bahagia ala saya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Getar Aura Mistis di Sudut Pantai Baron …

Teguh Hariawan | | 21 September 2014 | 07:00

Biang Macet Kota Bogor …

Cucum Suminar | | 21 September 2014 | 07:16

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | | 20 September 2014 | 21:49

Bingung Mau Buka Usaha Apa? Ini Caranya …

Yos Asmat Saputra | | 21 September 2014 | 06:39

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 9 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 12 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Memperingati “International Day of …

Sunu Purnama | 8 jam lalu

Tamu Tak Diundang …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Kucing Oh Kucing …

Malatris | 8 jam lalu

Berpikir, Melihat, & Melakukan dengan …

Ryan. S.. | 8 jam lalu

Handphone Bisa Jadi Remote TV …

Agung Han | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: