Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Masdarudin Ahmad

"Merasa, Maka Menjadi"

Bahaya Ideologi Tertutup

OPINI | 04 April 2013 | 03:19 Dibaca: 2043   Komentar: 0   0

Sejarah Adalah Politik Masa Lalu dan Politik Adalah Sejarah Masa kini

anda golput dan bicara ngawur ( fitnah)lalu apa tujuan anda menulis? klw kurang baik menurut anda kenapa anda tak membentuk apapun itu untuk membuktikan anda bisa berbuat lebih baik?

Kalimat di atas adalah tanggapan pembaca tulisanku yang di-copas dengan modifikasi agar tidak menggangu siapapun. Terus terang kukatakan, bahwa tulisan itu membuat merinding bulu kudukku. Di hati yang teramat dalam ada keluh dan peluh yang terus mengganggu. Sehingga aku terdorong untuk menulis opini ini. Entahlah, mungkin perasaanku salah. Tapi sebagai bentuk kepedulian -menurutku- kepada anak bangsa, maka kucoba juga menulis.

Kata orang bijak: “Kita adalah apa yang kita pikirkan”. Sikap, perilaku, ucapan dan juga tulisan terlahir dari pikiran. Sedangkan menurut pepatah orang Melayu: “Sekilas ikan di air, nampak jantan atau betina.” Dan kata orang Arab: Al-Zhahir Yadullu ‘ala AL-Bathin.”. Maka saya melanjutkan penerawangan dalam bentuk tafsir bebas.

Saya tuliskan lagi kalimat yang diatas:

klw kurang baik menurut anda kenapa anda tak membentuk apapun itu untuk membuktikan anda bisa berbuat lebih baik?

Maksud penulis tanggapan itu -menurut perasaan saya- adalah:
….lebih baik ……..(bentuk penyangkalan dari kata kurang baik dalam pengandaian kalimat tanya)

Adakah yang salah dengan tanggapan itu? Ya, tidak ada yang salah. Karena mengakui diri sendiri dan kelompoknya lebih baik dari yang lain adalah sesuatu yang manusiawi dan alami. Tetapi konsekuensi dari sikap seperti itu ketika menyangkut politik (kekuasaan) adalah -maaf- sangat berbahaya.

Umat beragama tentu pernah mendengar cerita tentang syaitan yang terusir dari surga. Sayang cerita yang sering didengar permukaannya saja: syaitan tidak mahu sujud kepada Adam. Hanya sampai disitu saja biasanya cerita syaitan dan Adam disampaikan oleh para guru ngaji saya di kampung.

Sedangkan kalau kita baca lebih lanjut dalam kitab suci, maka kita akan ketahui bahwa, keengganan syaitan disebabkan merasa dirinya lebih baik daripada Adam. Dia sudah sekian lama mengabdikan diri kepada Tuhan, merasa tidak pantas untuk menundukkan diri kepada makhluk yang baru diciptakan itu, Adam.

Merasa dirinya lebih baik dan lebih hebat dari yang lain -katakanlah memang benar adanya, seperti syaitan itu- tetap saja sikap itu membahayakan. Mengapa? Karena sikap yang demikian itu terlahir dari adanya kesombongan.

Tanpa disadari dan disengaja, sifat sombong ini menyelinap ke ranah ideologi. Jadilah dia pandangan dan pedoman hidup, juga pola pikir atau mind set: Akulah yang baik, kamilah yang baik, kalau mahu baik ikutlah kami, dan seterusnya. Dari sikap seperti itulah (yang lain tidak ada, yang ada kami), maka menjadi tertutup atau terkunci untuk menerima yang lain: ideologi tertutup.

Berikut adalah ciri-ciri Ideologi tertutup:

  • Kebenarannya tidak boleh dipermasalahkan berdasarkan nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral yang lain.
  • Isinya dogmatis dan apriori sehingga tidak dapat diubah atau dimodifikasi berdasarkan pengalaman sosial.
  • Tidak mengakui hak masing-masing orang untuk memiliki keyakinan dan pertimbangannya sendiri.
  • Menuntut ketaatan tanpa keengganan.
  • Tidak bersumber dari masyarakat, melainkan dari pikiran elit yang harus dipropagandakan kepada masyarakat.
  • Bersifat otoriter dan dijalankan dengan cara yang totaliter. http://www.fourseasonnews.com/2012/07/pengertian-ideologi-tertutup.html

Seberapa berbahaya ideologi tertutup itu?
Sepintas seperti menguntungkan:  agar organisasi kokoh dan kuat serta tercipta militansi dari anggotanya, sehingga rela berkorban apa saja. Tidak ada yang salah dan sah-sah saja. Tetapi menyangkut tujuan jangka panjang, lebih-lebih bersentuhan dengan kekuasaan adalah sangat berbahaya.

Sejarah telah membuktikan, ideologi apapun ketika bersifat tertutup dan berkaitan dengan kekuasaan maka akan membahayakan. Contoh paling dekat adalah Pancasila di masa ORBA. Ia menjadi ideologi tertutup ketika “ditafsirkan” oleh kekuatan tertentu menjadi P4. Tentu kita masih ingat semua peristiwa yang terjadi zaman ORBA disebabkan oleh ideologi negara yang tertutup ini. Begitu juga Islam, ketika ditafsirkan oleh DI/TII, Ia menjadi tertutup sehingga melakukan pemberontakan. Tidak boleh lupa juga ideologi komunis. Ketika ditafsirkan secara tertutup oleh PKI maka terjadi pertumpahan darah.

Contoh di atas adalah peristiwa sejarah yang telah dilalui bangsa ini zaman ORLA dan ORBA. Zaman yang masih sangat dekat dengan zaman kita, bukan berarti sebelumnya tidak ada peristiwa yang sama. Tujuan memberi contoh yang paling dekat, karena masih ingat, agar tidak terjadi perdebatan kusir yang tidak perlu.

Untuk contoh lebih besar,  yang dicatat dan diajarkan di sekolah dalam mata pelajaran sejarah adalah:

  1. Ideologi nasionalis tertutup NAZI German (Chauvinisme) yang dipimpin Adolf Hitler dan mengklaim German sebagai ras Aria yang terunggul, telah memusnahkan etnis Yahudi yang sangat banyak.
  2. Nasionalis tertutup di Itali (Fasis) dengan lambang kapak. Kata-kata yang terkenal: “Seseorang yang memiliki besi juga akan memiliki roti.” memusnahkan ribuan orang Etiopia yang dianggap rendah dan tak berguna.
  3. Nasionalis di Jepang (Fasis) yang mengklaim sebagai ras Asia terbaik. Memerangi tetangganya bangsa Asia yang lain, termasuk Indonesia.
  4. Islamis di Bagdad pada zaman Abbasiyah yang berpaham Mu’tazilah; peristiwa Mihnah atau Inkuisisi yang telah membunuh para ulama yang tidak sepaham dengan negara, seperti Imam Ahmad bin Hambali
  5. Islam Wahabi yang mendirikan kerajaan Arab Saudi telah membunuh orang yang tidak sepaham dengan ideologi negara.

Dapatkah kita membaca sejarah untuk mengkontruksi masa depan menjadi lebih baik? Atau kita akan mengulangi sejarah yang sama di masa depan? History Repeats Itself.

Semoga yang di Atas membuka hati dan pikiranku agar menjadi orang yang peduli dengan bangsa dan tanah airnya.

Aku, Orang Indonesia Yang Beragama Islam, Bukan Orang Islam Yang Tinggal di Indonesia

Salam Damai Indonesiaku

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Burung tentang Bandung: Superhero …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 14:15

Ikhlas, Kunci Ibu Bisa Bahagia …

Sekar Sari Indah Ca... | | 20 December 2014 | 13:33

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35

Mazagran: Lahir dari Perang, Lalu …

Kopi Keliling | | 20 December 2014 | 13:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 7 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 8 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: