Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

LHI Lolos KPK, 5 Sikap Positif PKS dalam Insya Allah dan Innalillah

OPINI | 02 April 2013 | 17:22 Dibaca: 1262   Komentar: 0   0

PKS selalu positif dan tidak pernah negatif. Penyebabnya adalah sandaran PKS pada perjuangan agama dan dakwah PKS. Dalam perjuangan akan selalu ada godaan dan gangguan. Agama PKS pun mengajarkan bahwa orang fasiq dan musuh agama dan dakwah PKS tak akan membiarkan para kader tenang sampai mereka mengikuti kemauan mereka. Namun belakangan kader PKS tengah diuji kesabarannya dan perjuangan dan kemilitanan mereka dalam berjuang membela partai dan agama PKS. Lalu apa yang mendasari para kader PKS tetap positif bahwa LHI akan lolos dari jerat hukum?

Pertama, keyakinan kebenaran akidah PKS. Pertaruhan tingkat tinggi sedang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS sebagai partai kader dengan membawa agama dan akidah PKS jelas tengah di persimpangan. Kasus Luthfi Hasan Ishaaq sang Presiden PKS menjadi pesakitan KPK. Para kader yang mengedepankan ketaklidan dan kejumudan sebagai soko guru dalam berpartai terhanyak.

Kedua, kader yakin adanya konspirasi internal dan eksternal PKS. Untuk menangkal berita dari luar, partai dengan dasar keyakinan agama PKS telah siap dengan argumentasi dan pembenaran dengan teori konspirasi, alasan agama, dakwah, jihad PKS dan kebencian terhadap PKS dari eksternal PKS. Hasilnya sangat positif. Alhamdulillah: kader tetap 100% yakin LHI tidak bersalah.

Ketiga, kader PKS memiliki militansi dan tidak gampang goyah alias istiqomah. Sang Presiden PKS digelandang KPK dan kini meringkuk di tahanan Guntur. Para kader PKS yang penaklid dan penjumud informasi one-way-top-down followers yang memahami konsep informasi dan kebenaran dengan kaca mata kuda poni selalu memiliki sikap positif terhadap diri sendiri. Kader PKS secara bergeming dan membabihutanbutakan semua informasi dan hanya melihat kebenaran dari satu sisi: our own point of views.

Keempat, kader PKS penganut paham kemaksuman pemimpin mereka yang digelari Ustadz - sebagai upaya menutupi hasyrat politik elite partai. Maka ketika LHI dicocok KPK pun para kader tidak memercayai sama sekali: haqqul yakin LHI tidak bersalah - suatu sikap positif kader PKS. Publik harus seimbang bahwa khusus untuk Ustadz LHI seharusnya KPK tidak menahannya dan azas praduga tak bersalah tidak pantas untuk beliau. LHI adalah ustadzah, LHI adalah mubalighoh, LHI adalah setingkat dengan ulama yang bahkan bisa digolongkan dengan khulafaur rasyiddin.

Kelima, kader PKS yakin bahwa penambahan pasal pencucian uang adalah bukti KPK tak mampu memberikan alat bukti, bukan memberikan pasal berlapis seperti kasus-kasus lainnya. Untuk itu PKS pun yakin seyakin-yakinnya bahwa LHI akan lolos dari jerat hukum KPK.

Oleh sebab itu, PKS yakin dan sangat tidak tidak mungkin LHI tidak melakukan korupsi dan pencucian uang. Tuduhan terhadap LHI adalah cenderung fitnah yang benar. Kader PKS yakin dan ini harus dilawan oleh semua pihak agar LHI berhasil lolos dari jeratan hukum KPK dan keluar dari tahanan KPK di Guntur. Kader harus amar mungkar nahi makruf kalau perlu demi membebaskan LHI dan pembersihan nama baik.

Jadi, Insyaallah LHI akan lolos dari jerat hukum KPK dan keluar dari Guntur dan Innalillahi wa Innailaihirojiun LHI akan meringkuk di Cipinang atau Nusakambangan.

Salam bahagia ala saya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Intip Lawan Timnas U-23 di Asian Games : …

Achmad Suwefi | | 01 September 2014 | 12:45

Anda Stress? Kenali Gejalanya …

Cahyadi Takariawan | | 01 September 2014 | 11:25

‘Royal Delft Blue’, Keramik …

Christie Damayanti | | 01 September 2014 | 13:32

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 10 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 10 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Nikmat Merantau …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Perbaikan Gedung DPRD Kab.Tasikmalaya …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kompasianer, dari Sekedar Komentator Hingga …

Sono Rumekso | 8 jam lalu

Legislator Karawang Sesalkan Lambannya …

Abyan Ananda | 8 jam lalu

Di The Hague [Denhaag], ada …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: