Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Adi Andriana

menulis untuk menulis

Koalisi Abal-abal di Masa Mendatang

OPINI | 02 April 2013 | 14:43 Dibaca: 145   Komentar: 0   0

Bursa presiden kini tidak satupun yang menonjol dari segi elektibilitas, karena sepertinya di pemilu mendatang, perolehan suara tiap partai akan merata, kalaupun satu partai menjadi pemenang pemilu, kemungkinan perbedaan suaranya akan tipis dengan urutan berikutnya.

Antara satu dengan lainya tidak akan jomplang dari segi suara, atau tidak ada pemenang pemilu telak, pun berbagai survey tentang elektebilitas presiden hampir merata, semuanya berkisar pada 20 atau 19 persen, dengan kata lain antara satu calon dengan calon lain sangat beda tipis.

ditambah ketika nanti undang-undang baru disahkan, dimana batas dan ketentuan partai yang berhak mencalonkan presiden di bawah 20 persen dari perolehan suara di pemilu, maka bursa calon presiden semakin banyak dan ramai.

Di satu sisi, dengan banyaknya calon, rakyat punya banyak pilihan, tapi di sisi lain, bagi partai-partai peserta pemilu, itu adalah sebuah tanda bahwa mereka tidak mungkin sendiri, jika hanya sendiri kemungkinan untuk kalah semakin besar, maka pilihan politik yang paling rasional adalah melakukan koalisi.

Tapi mungkinkah koalisi saat ini bisa terwujud, dan sepertinya akan sangat sulit?

mungkinkah Demokrat mau berkoalisi dengan PDIP, bukankah selama ini PDIP selalu bersebrangan dengan Demokrat dalam berbagai kebijakan, banyak kritikan dilontarkan oleh PDIP kepada Demokrat yang kadang membuat SBY kebakaran jenggot.

mungkinkah Golkar mau berkoalisi dengan Nasdem, bukankah Surya Paloh adalah orang yang kecewa dengan Golkar. Ia hengkang dari Golkar dan mendirikan partai baru, dengan mengusung adigium perubahan. Walau saya bertanya. Berubah dari siapa dan apa?

Apakah berubah dari gaya dan orang-orang Golkar. Sehingga statemen perubahan itu hanyalah strategi politik untuk menarik kader-kader Golkar yang kecewa dan tidak puas dengan Golkar. Dan bergabung di Nasdem dalam barisan sakit hati, yang mungkin disebabkan karena tidak mendapatkan tempat dan kedudukan di partai Golkar, sebab bukankah Surya Paloh termasuk yang seperti itu.

Mungkinkah Nasdem mau berkoalisi dengan Hanura, bukankah Hari Tanoe hengkang dari Nasdem, dan di Hanura ia punya posisi kuat, yang pastinya ucapanya berpengaruh terhadap kebijakan yang akan diambil Hanura, apakah antipatinya terhadap Nasdem, akan menghilang dan akan akur dengan Surya Paloh.

Ataukah benar bahwa dalam politik itu tidak ada teman abadi dan tidak ada musuh abadi yang ada adalah kepentingan belaka. Tapi saya berharap nanti di pemilu mendatang ada poros tengah, dimana partai-partai Islam menyatu dan mengusung satu calon.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: