Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Gunawan Setiyaji

Aktivis pembangunan sosial-ekonomi di samping keseharian sebagai Pegawai Negeri Sipil

Kepemimpinan dalam Pembangunan Daerah

OPINI | 02 April 2013 | 18:13 Dibaca: 326   Komentar: 0   0

Pada tulisan sebelumnya saya sedikit menyinggung peran kepemimpinan daerah dalam pembangunan daerah. Saya mengungkapkan bahwa kepala daerah harus mampu berperan sebagai top manager dalam pembangunan daerah, sehingga secara nyata tampil mempimpin seluruh rakyatnya untuk terlibat dalam proses pembangunan.

Saya juga mengingatkan bahwa kepala daerah bukanlah seorang manusia super. Ia tidak harus pandai dalam segala hal, tidak harus muncul di setiap aktivitas pembangunan, tidak harus mengawasi segala kegiatan aparatnya. Namun bila ia memiliki komitmen kuat maka seluruh proses manajemen pembangunan daerah dapat dilaksanakan secara utuh, baik dan sesuai dengan rencana yang dibuatnya. Dari komitmen sang kepala daerah itulah segenap potensi dan prakarsa rakyat berikut partisipasi publik akan menyeruak ke hadapan dan digalang secara konsisten untuk menghasilkan kemajuan daerah.

Dari uraian di atas, memang muncul dua istilah kunci yaitu kepala daerah sebagai pemimpin (leader) dan manajer. Ini merupakan dua istilah yang berbeda, sebagaimana diungkapkan oleh Warren Bennis dalam bukunya “On Becoming a Leader”. Dalam hal ini, perbedaan dasarnya adalah bahwa pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar, sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat.

Meski demikian, saya ingin mengetengahkan pandangan untuk mengkombinasikan dua aspek mendasar yang saling berbeda dari dua istilah ini, demi kontekstualisasi pembangunan yang lebih kuat. Pertama, bahwa pemimpin melakukan inovasi sedangkan manajer mengelola. Keduanya harus dimiliki oleh kepala daerah, yaitu saat ia datang untuk menawarkan visi-misi dan program kerjanya dalam kampanye. Lalu ketika ia menjadi kepala daerah terpilih, apakah ia dapat mengawal pemerintahannya untuk melaksanakan gagasan-gagasannya dalam kegiatan pembangunan.

Jadi tentu saja, kepala daerah berperan sangat penting dalam kegiatan pembangunan. Bukan hanya dengan bahasa indah janji manis kampanye, tetapi pembuktiannya sangat dinantikan oleh segenap rakyat. Ia harus menjadi manajer pembangunan di daerah yang dipimpinnya dengan sebaik-baiknya. Sejumlah idealisme program kerja akan menjadi sia-sia di hadapan rakyat, bila kenyataannya rakyat tidak disuguhi oleh perubahan dan perbaikan nasib. Pelayanan publik yang membaik dan tata kota yang lebih indah dan teratur adalah bahasa pemimpin, sedangkan wujudnya dalam bahasa manajer adalah pelayanan kesehatan yang murah dan berkualitas, jalanan yang kian mulus, dan penyediaan air bersih menyeluruh.

Di sisi lain, perbedaan lain adalah bahwa pemimpin itu menginspirasi, sedangkan manajer harus mengendalikan. Kepemimpinan adalah bukan apa yang Anda lakukan-tetapi apa yang orang lain lakukan sebagai respon dari Anda. Jika tidak ada yang muncul di barisan Anda, maka Anda bukanlah seorang pemimpin. Dan jika orang bergabung dengan bahtera Anda karena Anda telah menginspirasi mereka, sehingga muncul suatu ikatan kepercayaan yang akan menjadi modal utama dalam pembangunan. Selanjutnya ia harus menukar peran secara otomatis sebagai seorang manajer, yang menurut Drucker bahwa tugas mereka adalah untuk mempertahankan kontrol atas orang dengan membantu mereka mengembangkan aset mereka sendiri dan mengeluarkan bakat mereka yang terbesar.

Itulah sebabnya manajer kemudian harus menciptakan sistem yang baik dan kondusif serta membuat keputusan tentang gaji, promosi penempatan, dan melalui komunikasi dengan seluruh armada yang dipimpinnya. Selanjutnya, di sini muncul aspek ketiga, yaitu bahwa pemimpin bertanya “what” dan “why” sedangkan manajer bertanya “how”. Di jaman yang makin global ini, pemimpin tidak boleh terlalu banyak bertanya apa dan mengapa, namun dia harus secara terampil memimpin sebagai manajer atas seluruh proses pembangunan dan mengarahkannya menuju apa yang dijanjikannya dalam kampanye.

Meskipun untuk dua peran mungkin mirip, Gene Wade menyatakan bahwa “Para manajer terbaik juga adalah para pemimpin.” Bila pembangunan tidak bisa berjalan dengan baik di suatu daerah, jelas telah terjadi “something wrong” dengan nilai kepemimpinan sekaligus kualitas manajerial sang kepala daerah. Di sinilah maknanya peringatan Rasulullah SAW: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban (atas apa yang dipimpinnya).”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 7 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 8 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 9 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: