Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Perdana Putra

Pejuang Merah Putih

Pertarungan Politik menuju 2014

REP | 01 April 2013 | 22:57 Dibaca: 240   Komentar: 0   1

Kenapa Jokowi harus maju di PILPRES 2014 ?

1364806125263492817

Ir. Joko Widodo

Kita tahu benar bahwa Jokowi masih 5 bulan memimpin Jakarta, dan masih terlalu dini untuk menilai tingkat keberhasilannya dalam menata & memimpin Jakarta. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa Kinerja Jokowi yang tidak kenal lelah dan tidak mengenal batasan jam kerja, membuat rakyat semakin yakin bahwa masalah jakarta akan segera dapat dirasakan perubahannya. Walaupun kita tau, untuk menyelesaikan masalah Jakarta dibutuhkan waktu puluhan tahun (jangka panjang), tapi arah dah hasil perubahan itu sudah sangat bisa kita rasakan. Mulai dari perombakan birokrasi dengan mengeliminasi orang-orang yang sering melakukan “permainan” dengan memanfaatkan kekuasaan, seperti Dinas PU, kepala rusun marunda, Kepala Satpol PP, dan juga fokus penuh dalam mengatasi masalah macet dan banjir, seperti penambahan ratusan bus gandeng trans jakarta, peremajaan kopaja dan metro mini, juga diikuti dengan pengentasan masalah banjir secara bertahap,  mulai dari normalisasi & pengerukan sungai-sungai di Jakarta seperti Sungai Paking Penjaringan, Sungai Ciliwung, Sunter dan lain-lainnya. Normalisasi itu bisa dikerjakan dengan hasil yang fantastis ditangan Jokowi, mengingat selama puluhan tahun relokasi lahan yang tidak pernah berhasil dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya, tapi itu semua bisa dilakukan TANPA KONFLIK di bawah kepemimpinan Jokowi, setelah Jokowi berhasil membersihkan Rusun marunda dari tangan para calo yang memperjual belikan rusun dengan harga yang mahal. Dengan berbagai hasil yang telah bisa kita lihat dalam 5 bulan ini, setidaknya kita bisa memprediksi perubahan yang lebih besar akan segera kita rasakan tahun depan.

Pemetaan masalah, Proyek jangka Pendek, Menengah dan Panjang

2014 nanti, seluruh program pembangunan baik jangka pendek, menengah dan panjang pastilah telah di eksekusi oleh Jokowi yang mana disana pasti juga telah ditetapkan nilai kontrak dan waktu pengerjaannya. Pekerjaan terberat bagi seorang Jokowi untuk menata Jakarta adalah di tahun pertama dalam kepemimpinannya, karena tahun ini Jokowi harus benar-benar mampu memetakan segala permasalahan jakarta dan segera menyusun rencana pembangunannya yang berorientasi penuh dalam pengentasan masalah Jakarta.

Sudah menjadi rahasia umum buruknya sistem birokrasi yang sangat kronis tingkat akut sedanga melanda Negri ini. Banyak sekali dan bahkan hampir semua jajaran dari dinas pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif) terkuasai oleh mafia-mafia pemangku kepentingan yang telah menjadikan kekayaan Bangsa ini amburadul entah kemana. Dari ribuan trilliun hasil pajak dan hasil alam telah mengucur tanpa arah dan managemen yang jelas. Tidak adanya transparansi anggaran semakin membuat rakyat jengah dengan pemerintah. Kita sadar ada Ribuan trilliun kerugian negara setiap tahunnya, sementara kita masih diharuskan untuk membayar Hutang yang ribuan trilliun dan dengan bunga yang bertrilliun-trilliun itu. apakah kita akan membiarkan hal ini terus terjadi sampai 2019 ? …

Tentu jawabannya adalah TIDAK ..!

Kita ingin kekayaan negri ini tersalur sesuai dengan peruntukannya, termanage sesuai dengan managemen yang pasti dan terkucur sesuai menurut arah dan alokasi yang jelas. Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki track record yang benar-benar terbukti keberhasilannya dalam hal management dan kontrollin dengan penerapan systen yang dia bawa, dan disini Jokowi telah membuktikannya di solo selama 7 tahun dan sekarang di perjelas dengan bukti penerapan system kontrollingnya di Jakarta. Dengan Pemimpin yang seperti ini, harapan rakyat sangat besar bahwa Jokowi sangat mampu mengelola dan mengalokasikan anggaran benar-benar sesuai peruntukannya.

Jokowi gila kekuasaan ?

Statemen ini akan mereka gunakan untuk menghantam Jokowi saat Jokowi benar-benar maju di bursa Capres 2014. Merakapun akan mengungkit kepemimpinan di Solo yang belum tuntas, dan kemudian dilanjutkan dengan kepemimpinan di Jakarta yang baru 2 tahun yang kemudian ditinggalkan untuk pencapresan 2014.

Rakyat bisa memaklumi pernyataan-pernyataan negatif yang mereka lontarkan untuk menyerang Jokowi, tapi rakyat juga tidak menutup mata pada kinerja Jokowi selama 1 tahun ini. Dimana kinerja Jokowi selama 1 tahun jauh lebih bisa mereka rasakan daripada puluhan tahun kinerja pemimpin sebelumnya. Benarkah ?? Lihat disini >>

Selesaikan dulu masalah Jakarta

Statemen seperti ini terdengar sangat konyol, …karena program pengentasan masalah di jakarta itu terbagi dalam tiga kelompok : Pembangunan Jangka pendek, menengah & Panjang.

Kita tahu masalah Jakarta sangat komplek dan merupakan timbunan dari masalah-masalah yang tidak terselesaikan selama puluhan tahun dan dari kepemimpinan sebelumnya tidak mampu memberi arah yang jelas tentang hasil kinerjanya dalam pengentasan masalah di DKI. Sementara sekarang telah bisa kita lihat dan rasakan proses perubahan yang begitu nyata memberi kejelasan arah dari pengentasan masalah-masalah Jakarta. Baca disini >>

Meninggalkan Jakarta, Mengkhianati Rakyat, mengkhianati Sumpah Jabatan ?

Statemen ini sangat mungkin akan kembali mereka gunakan untuk menjatuhkan Jokowi.

Apakah Jokowi meninggalkan Jakarta & Mengkhianati Rakyat ?

Tentu tidak, Justru karena Jokowi ingin benar-benar menjalankan amanah warga DKI khususnya, Jokowi harus secepatnya jadi Presiden, untuk membersihkan birokrasi pusat yang menghambat terselesaikannya masalah-masalah Jakarta karena tumpang tindih kewenangan Pusat dan DKI khususnya dan seluruh Daerah pada umumnya dengan beban amanah yang lebih besar. Sekaligus melindungi Bangsa Indonesia dari serbuan pasar bebas yang akan segera diberlakukan. Jokowi akan mampu membendung mereka dengan system Ekonomi kerakyatan sesuai dengan keberhasilannya menurut rekam jejaknya di Solo dan Jakarta.

Mengkhianati Sumpah Jabatan ?

Mari kita belajar kedewasaan berpolitik kepada warga Solo yang telah merelakan Pemimpin terbaiknya mengemban amanah yang lebih besar di daerah lain (Jakarta) demi kemaslahatan yang lebih besar pula. Karena Jokowi adalah system pemimpin yang membangun system, bukan pemimpin yang hanya mengandalkan figur dalam kepemimpinannya. Dengan system yang telah dibangun di jakarta, maka dengan sendirinya system itu yang akan berjalan untuk menyelesaikan masalah. sementara penerusnya hanya tinggal mengawal dan mengawasi jalannya system.

Lawan-lawan politik, tentu akan mengeluarkan statemen-statemen negatif untuk menjatuhkan Jokowi, diantaranya :

Bagaimana dengan Jakarta saat ditinggalkan Jokowi ??

Justru dengan terpilihnya Jokowi sebagai Presiden nanti, masalah-masalah di Jakarta akan jauh lebih cepat teratasi. Karena Jokowi akan merombak total dan membersihkan birokrasi dari segala macam kepentingan. dan Jokowi sangat menguasai masalah yang dihadapi Ibukota Negara. Kita pasti tau masalah-masalah di Jakarta tak lepas dari peran pusat yang selama ini menetapkan kebijakan yang tumpang tindih antara kewenangan pusat dan daerah. Inilah yang membuat pengentasan masalah Jakarta selama ini berjalan ditempat, dan saat inipun Jokowi dihadapkan oleh kewenangan pusat, sehingga tidak bisa secepatnya mengambil keputusan, seperti MRT dan Monorail yang harus melalui prosedur dari pusat.

Apakah Ahok mampu menggantikan Jokowi ?

Tahun pertama kepemimpinan Jokowi adalah masa-masa paling sulit dan paling berat. Karena Jokowi harus memetakan segala masalah, menentukan langkah penanganan dan keputusan pengesahan berbagai proyek sesuai dengan program Jakarta Barunya. Tahun 2013 inilah pekerjaan besar itu dihadapkan dengan tantangan yang sangat besar, karena harus merombak birokrasi dan menanamkan pondasi yang kokoh akan program-program Jakarta baru.

Saat semua program telah diketok palu dan di syahkan berdasarkan pemetaan masalah yang langsung menuju inti persoalan, maka Pondasi itu telah terbangun dengan kokoh. System dan birokrasi telah terbangun dengan baik dan tidak ada alasan bagi ahok untuk tidak mampu meneruskan kepemimpinan Jokowi, karena pekerjaan terberat sudah diselesaikan Jokowi. Ahok hanya tinggal mengawal dan mengawasi jalannya program-program pembangunan sesuai dengan MoU yang telah ditetapkan target waktunya. Disamping itu kita sadar akan kemampuan ahok yang aksi dan gebrakannya tak kalah lincah dengan gubernurnya (Jokowi).

Bagaimana nanti Ahok menghadapi DPRD ?

Kita tau pilkada kemarin, Jokowi – Ahok berhadapan dengan Foke-Nara yang didukung oleh partai-partai besar dengan jumlah kursi lebih dari 77% di DPRD DKI. Mereka sempat ‘mencoba’ untuk menghambat pemerintahan Jokowi-Ahok saat rapat pengesahan APBD yang sangat jelas hanya diulur-ulur dengan berbagai alasan, sampai beberapa anggota fraksi melakukan walk out dari rapat pembahasan anggaran. Apa yang dilakukan Ahok ?? … Ahok pun tidak tinggal diam dan mengancam akan menyiarkan rapat pembahasan anggaran di DPRD secara di stasiun televisi secara LIVE, agar rakyat bisa memantau langsung kondisi rapat. Pernyataan ini dilakukan Ahok secara terbuka hingga membuat DPRD DKI meradang yang akhirnya, pengesahan APBD DKI di ketok palu TANPA VOTING.. !! kenapa ? karena rapat pengesahan itu dilalukan secara terbuka ..!

Bagaimana jika nanti Ahok menggantikan Jokowi ?

dan bagaimana seandainya nanti Ahok mengangkat wagub dari lawan politik ?

System pemerintahan Jakarta Baru tidaklah sama dengan system pemerintahan sebelumnya. Dimana sekarang semuanya dilakukan secara terbuka. Mulai dari rapat pembahasan, hingga ke APBD yang dipublikasikan secara terbuka hingga LEMBAR KETIGA ..!!

Sesuai dengan filosofi yang dipegang oleh Ahok, bahwa kalau pemimpinnya lurus, maka bawahan tidak akan berani untuk tidak lurus. Dan kita pasti sangat yakin, siapapun nanti pengganti posisi wagub, tidak akan berani berbuat macam-macam, karena sekarang adalah era keterbukaan. Dimana rakyat memiliki porsi penuh untuk mengawal dan mengawasi birokrasi.

Dukungan kepada Jokowi untuk CAPRES 2019

Cara ini adalah cara pamungkas bagi lawan politik untuk menjegal Jokowi maju di pilpres 2014 nanti. Dengan statemen ini, mereka akan berusaha mempengaruhi & memecah belah para pendukung Jakarta Baru yang kemarin solid dalam dukungan pilkada DKI. Mereka sangat takut kalau Jokowi secepatnya menjadi Presiden.

Kenapa Jokowi harus maju di PILPRES 2014 ?

Kita tahu benar bahwa Jokowi masih 5 bulan memimpin Jakarta, dan masih terlalu dini untuk menilai tingkat keberhasilannya dalam menata & memimpin Jakarta. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa Kinerja Jokowi yang tidak kenal lelah dan tidak mengenal batasan jam kerja, membuat rakyat semakin yakin bahwa masalah jakarta akan segera dapat dirasakan perubahannya. Walaupun kita tau, untuk menyelesaikan masalah Jakarta dibutuhkan waktu puluhan tahun (jangka panjang), tapi arah dah hasil perubahan itu sudah sangat bisa kita rasakan. Mulai dari perombakan birokrasi dengan mengeliminasi orang-orang yang sering melakukan “permainan” dengan memanfaatkan kekuasaan, seperti Dinas PU, kepala rusun marunda, Kepala Satpol PP, dan juga fokus penuh dalam mengatasi masalah macet dan banjir, seperti penambahan ratusan bus gandeng trans jakarta, peremajaan kopaja dan metro mini, juga diikuti dengan pengentasan masalah banjir secara bertahap,  mulai dari normalisasi & pengerukan sungai-sungai di Jakarta seperti Sungai Paking Penjaringan, Sungai Ciliwung, Sunter dan lain-lainnya. Normalisasi itu bisa dikerjakan dengan hasil yang fantastis ditangan Jokowi, mengingat selama puluhan tahun relokasi lahan yang tidak pernah berhasil dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya, tapi itu semua bisa dilakukan TANPA KONFLIK di bawah kepemimpinan Jokowi, setelah Jokowi berhasil membersihkan Rusun marunda dari tangan para calo yang memperjual belikan rusun dengan harga yang mahal. Dengan berbagai hasil yang telah bisa kita lihat dalam 5 bulan ini, setidaknya kita bisa memprediksi perubahan yang lebih besar akan segera kita rasakan tahun depan.

Pemetaan masalah, Proyek jangka Pendek, Menengah dan Panjang

2014 nanti, seluruh program pembangunan baik jangka pendek, menengah dan panjang pastilah telah di eksekusi oleh Jokowi yang mana disana pasti juga telah ditetapkan nilai kontrak dan waktu pengerjaannya. Pekerjaan terberat bagi seorang Jokowi untuk menata Jakarta adalah di tahun pertama dalam kepemimpinannya, karena tahun ini Jokowi harus benar-benar mampu memetakan segala permasalahan jakarta dan segera menyusun rencana pembangunannya yang berorientasi penuh dalam pengentasan masalah Jakarta.

Sudah menjadi rahasia umum buruknya sistem birokrasi yang sangat kronis tingkat akut sedanga melanda Negri ini. Banyak sekali dan bahkan hampir semua jajaran dari dinas pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif) terkuasai oleh mafia-mafia pemangku kepentingan yang telah menjadikan kekayaan Bangsa ini amburadul entah kemana. Dari ribuan trilliun hasil pajak dan hasil alam telah mengucur tanpa arah dan managemen yang jelas. Tidak adanya transparansi anggaran semakin membuat rakyat jengah dengan pemerintah. Kita sadar ada Ribuan trilliun kerugian negara setiap tahunnya, sementara kita masih diharuskan untuk membayar Hutang yang ribuan trilliun dan dengan bunga yang bertrilliun-trilliun itu. apakah kita akan membiarkan hal ini terus terjadi sampai 2019 ? …

Tentu jawabannya adalah TIDAK ..!

Kita ingin kekayaan negri ini tersalur sesuai dengan peruntukannya, termanage sesuai dengan managemen yang pasti dan terkucur sesuai menurut arah dan alokasi yang jelas. Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki track record yang benar-benar terbukti keberhasilannya dalam hal management dan kontrollin dengan penerapan systen yang dia bawa, dan disini Jokowi telah membuktikannya di solo selama 7 tahun dan sekarang di perjelas dengan bukti penerapan system kontrollingnya di Jakarta. Dengan Pemimpin yang seperti ini, harapan rakyat sangat besar bahwa Jokowi sangat mampu mengelola dan mengalokasikan anggaran benar-benar sesuai peruntukannya.

Jokowi gila kekuasaan ?

Statemen ini akan mereka gunakan untuk menghantam Jokowi saat Jokowi benar-benar maju di bursa Capres 2014. Merakapun akan mengungkit kepemimpinan di Solo yang belum tuntas, dan kemudian dilanjutkan dengan kepemimpinan di Jakarta yang baru 2 tahun yang kemudian ditinggalkan untuk pencapresan 2014.

Rakyat bisa memaklumi pernyataan-pernyataan negatif yang mereka lontarkan untuk menyerang Jokowi, tapi rakyat juga tidak menutup mata pada kinerja Jokowi selama 1 tahun ini. Dimana kinerja Jokowi selama 1 tahun jauh lebih bisa mereka rasakan daripada puluhan tahun kinerja pemimpin sebelumnya. Benarkah ?? Lihat disini >>

Selesaikan dulu masalah Jakarta …

Statemen seperti ini terdengar sangat konyol, …karena program pengentasan masalah di jakarta itu terbagi dalam tiga kelompok : Pembangunan Jangka pendek, menengah & Panjang.

Kita tahu masalah Jakarta sangat komplek dan merupakan timbunan dari masalah-masalah yang tidak terselesaikan selama puluhan tahun dan dari kepemimpinan sebelumnya tidak mampu memberi arah yang jelas tentang hasil kinerjanya dalam pengentasan masalah di DKI. Sementara sekarang telah bisa kita lihat dan rasakan proses perubahan yang begitu nyata memberi kejelasan arah dari pengentasan masalah-masalah Jakarta. Baca disini >>

Meninggalkan Jakarta, Mengkhianati Rakyat, mengkhianati Sumpah Jabatan ?

Statemen ini sangat mungkin akan kembali mereka gunakan untuk menjatuhkan Jokowi.

Apakah Jokowi meninggalkan Jakarta & Mengkhianati Rakyat ?

Tentu tidak, Justru karena Jokowi ingin benar-benar menjalankan amanah warga DKI khususnya, Jokowi harus secepatnya jadi Presiden, untuk membersihkan birokrasi pusat yang menghambat terselesaikannya masalah-masalah Jakarta karena tumpang tindih kewenangan Pusat dan DKI khususnya dan seluruh Daerah pada umumnya dengan beban amanah yang lebih besar. Sekaligus melindungi Bangsa Indonesia dari serbuan pasar bebas yang akan segera diberlakukan. Jokowi akan mampu membendung mereka dengan system Ekonomi kerakyatan sesuai dengan keberhasilannya menurut rekam jejaknya di Solo dan Jakarta.

Mengkhianati Sumpah Jabatan ?

Mari kita belajar kedewasaan berpolitik kepada warga Solo yang telah merelakan Pemimpin terbaiknya mengemban amanah yang lebih besar di daerah lain (Jakarta) demi kemaslahatan yang lebih besar pula. Karena Jokowi adalah system pemimpin yang membangun system, bukan pemimpin yang hanya mengandalkan figur dalam kepemimpinannya. Dengan system yang telah dibangun di jakarta, maka dengan sendirinya system itu yang akan berjalan untuk menyelesaikan masalah. sementara penerusnya hanya tinggal mengawal dan mengawasi jalannya system.

Lawan-lawan politik, tentu akan mengeluarkan statemen-statemen negatif untuk menjatuhkan Jokowi, dian

Bagaimana dengan Jakarta saat ditinggalkan Jokowi ??

Justru dengan terpilihnya Jokowi sebagai Presiden nanti, masalah-masalah di Jakarta akan jauh lebih cepat teratasi. Karena Jokowi akan merombak total dan membersihkan birokrasi dari segala macam kepentingan. dan Jokowi sangat menguasai masalah yang dihadapi Ibukota Negara. Kita pasti tau masalah-masalah di Jakarta tak lepas dari peran pusat yang selama ini menetapkan kebijakan yang tumpang tindih antara kewenangan pusat dan daerah. Inilah yang membuat pengentasan masalah Jakarta selama ini berjalan ditempat, dan saat inipun Jokowi dihadapkan oleh kewenangan pusat, sehingga tidak bisa secepatnya mengambil keputusan, seperti MRT dan Monorail yang harus melalui prosedur dari pusat.

Apakah Ahok mampu menggantikan Jokowi ?

Tahun pertama kepemimpinan Jokowi adalah masa-masa paling sulit dan paling berat. Karena Jokowi harus memetakan segala masalah, menentukan langkah penanganan dan keputusan pengesahan berbagai proyek sesuai dengan program Jakarta Barunya. Tahun 2013 inilah pekerjaan besar itu dihadapkan dengan tantangan yang sangat besar, karena harus merombak birokrasi dan menanamkan pondasi yang kokoh akan program-program Jakarta baru.

Saat semua program telah diketok palu dan di syahkan berdasarkan pemetaan masalah yang langsung menuju inti persoalan, maka Pondasi itu telah terbangun dengan kokoh. System dan birokrasi telah terbangun dengan baik dan tidak ada alasan bagi ahok untuk tidak mampu meneruskan kepemimpinan Jokowi, karena pekerjaan terberat sudah diselesaikan Jokowi. Ahok hanya tinggal mengawal dan mengawasi jalannya program-program pembangunan sesuai dengan MoU yang telah ditetapkan target waktunya. Disamping itu kita sadar akan kemampuan ahok yang aksi dan gebrakannya tak kalah lincah dengan gubernurnya (Jokowi).

Bagaimana nanti Ahok menghadapi DPRD ?

Kita tau pilkada kemarin, Jokowi – Ahok berhadapan dengan Foke-Nara yang didukung oleh partai-partai besar dengan jumlah kursi lebih dari 77% di DPRD DKI. Mereka sempat ‘mencoba’ untuk menghambat pemerintahan Jokowi-Ahok saat rapat pengesahan APBD yang sangat jelas hanya diulur-ulur dengan berbagai alasan, sampai beberapa anggota fraksi melakukan walk out dari rapat pembahasan anggaran. Apa yang dilakukan Ahok ?? … Ahok pun tidak tinggal diam dan mengancam akan menyiarkan rapat pembahasan anggaran di DPRD secara di stasiun televisi secara LIVE, agar rakyat bisa memantau langsung kondisi rapat. Pernyataan ini dilakukan Ahok secara terbuka hingga membuat DPRD DKI meradang yang akhirnya, pengesahan APBD DKI di ketok palu TANPA VOTING.. !! kenapa ? karena rapat pengesahan itu dilalukan secara terbuka ..!

Bagaimana jika nanti Ahok menggantikan Jokowi dan bagaimana seandainya nanti Ahok mengangkat wagub dari lawan politik ?

System pemerintahan Jakarta Baru tidaklah sama dengan system pemerintahan sebelumnya. Dimana sekarang semuanya dilakukan secara terbuka. Mulai dari rapat pembahasan, hingga ke APBD yang dipublikasikan secara terbuka hingga LEMBAR KETIGA ..!!

Sesuai dengan filosofi yang dipegang oleh Ahok, bahwa kalau pemimpinnya lurus, maka bawahan tidak akan berani untuk tidak lurus. Dan kita pasti sangat yakin, siapapun nanti pengganti posisi wagub, tidak akan berani berbuat macam-macam, karena sekarang adalah era keterbukaan. Dimana rakyat memiliki porsi penuh untuk mengawal dan mengawasi birokrasi.

Dukungan kepada Jokowi untuk CAPRES 2019

Cara ini adalah cara pamungkas bagi lawan politik untuk menjegal Jokowi maju di pilpres 2014 nanti. Dengan statemen ini, mereka akan berusaha mempengaruhi & memecah belah para pendukung Jakarta Baru yang kemarin solid dalam dukungan pilkada DKI. Mereka sangat takut kalau Jokowi secepatnya menjadi Presiden.

Apa agenda mereka dengan statemen dukungan Jokowi untuk 2019 ?

  1. Mereka berusaha mengulur waktu agar supaya Jokowi tidak sesegera mungkin menjadi presiden. Dengan begitu mereka akan leluasa mendapatkan pundi-pundi rupiah dan menikmati kekuasaan mereka di birokrasi. Sementara kita tahu tujuan mereka duduk dibirokrasi tak lain hanyalah sebagai ajang untuk mencari nafkah dan jauh dari pengabdian kepada masyarakat.
  2. Mereka akan berkesempatan penuh selama 5 tahun untuk menyiapkan strategi untuk menjatuhkan karakter Jokowi sampai 2019.
  3. Tahun 2019 nanti mereka akan mengangkat isu yang sama, yakni “Selesaikan masa jabatan gubernur periode ke-2 sampai selesai (2017 – 2022) dengan kekuatan penuh selama 5 tahun yang telah mereka siapkan.

Dari pemaparaparan diatas, jelaslah rakyat sudah sangat jenuh dengan wajah-wajah lama. Kehadira figur Jokowi telah menghembuskan angin segar ditengah krisis kepemimpinan di negeri ini. Kita sudah tidak lagi punya banyak waktu dan kita telah diberikan kesempatan yang begitu besar untuk membangun perubahan Indonesia yang lebih baik bersama Jokowi tahun depan (2014). dan ini adalah perjuangan kaum muda untuk merubah nasib bangsanya.

Wassalam …

Perpu_

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 5 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 6 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Definisi Administrasi dan Supervisi …

Sukasmo Kasmo | 8 jam lalu

Kabinet: Ujian Pertama Jokowi …

Hans Jait | 8 jam lalu

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 8 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: