Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Perdana Putra

Pejuang Merah Putih

Jokowi 2014 ..?

OPINI | 31 March 2013 | 10:40 Dibaca: 540   Komentar: 0   0

Maraknya lembaga survey capres 2014 yang baru-baru ini diadakan oleh para
lembaga survey menyatakan bahwa sosok Jokowi (Joko Widodo) sebagai kandidat
dengan perolehan tertinggi sebagai capres paling potensial 2014 mendatang.
Tidak tanggung-tanggung, 5 lembaga survey mulai dari Pusat Data Bersatu (PDB),
Lembaga Survey Jakarta (LSJ), Metro TV, Lembaga Survey Indonesia (LSI) dan yang
terakhir lembaga survey PRC (Public Research Consulting) menyatakan bahwa
Jokowi adalah figur Capres potensial yang memperoleh rating tertinggi dari
semua calon. Walaupun LSI hanya mengusung nama Jokowi hanya ditempatkan sebagai
Cawapres.
Kita semua sadar akan ketokohan Jokowi, mantan walikota Solo yang telah
menghipnotis rakyat indonesia bahkan dunia dengan gebrakannya yang keluar dari
kebiasaan para pemimpin di negeri ini, yang mana telah berhasil menerapkan
system ekonomi kerakyatan dalam kepemimpinannya. Dibuktikan dengan penataan PKL
tanpa adanya konflik dan fokus membangun pusat-pusat perekonomian rakyat lewat
pembangunan pasar-pasar tradisionalnya di Solo, yang juga disertai dengan
pembangunan dibidang budaya lokal, sehingga duniapun menobatkan Solo yang
selama ini kita anggap remeh, tapi sekarang telah menjadi Kota Budaya bertaraf
Internasional.
Lima bulan sudah berlalu Jokowi memimpin Jakarta sebagai Ibukota Negara yang
sarat dengan berbagai permasalahannya. mulai dari macet, banjir, lingkungan
kumuh, carut marut tata kota yang telah diperjual belikan pihak penguasa,
sampai pada buruknya sistem birokrasi yang sangat lekat dengan berbagai
kepentingan. Dimulai dari hari pertama Jokowi memimpin, langsung pasang badan
dan action di lapangan untuk memetakan masalah. Terjun langsung ke
sumber-sumber masalah tanpa adanya pengawalan khusus dari voorijder yang selama
ini selalu kita lihat saat gubernur turun ke lapangan, tapi sekarang mereka
sudah tidak lagi tampak mengawal Jokowi yang setiap hari turun ke lapangan atau
lebih kita kenal dengan istilah “Blusukan”.
Media pun tak pernah lelah untuk memburu & meliput Jokowi sebagai sumber
berita yang paling “seksi” bagi masyarakat karena mungkin selama ini
tidak pernah melihat gebrakan dan model kerja pemimpin-pemimpin sebelumnya
dengan cara yang benar-benar tampak lain dimata mereka.
Kinerja Jokowi yang tidak kenal lelah dan tidak mengenal batasan jam kerja,
membuat rakyat semakin yakin bahwa masalah jakarta akan segera dapat dirasakan
perubahannya. Walaupun kita tau, untuk menyelesaikan masalah Jakarta dibutuhkan
waktu puluhan tahun (jangka panjang), tapi arah dah hasil perubahan itu sudah
sangat bisa kita rasakan. Mulai dari perombakan birokrasi dengan mengeliminasi
orang-orang yang sering melakukan “permainan” dengan memanfaatkan
kekuasaan, seperti Dinas PU, kepala rusun marunda, Kepala Satpol PP, dan juga
fokus penuh dalam mengatasi masalah macet dan banjir, seperti penambahan
ratusan bus gandeng trans jakarta, peremajaan kopaja dan metro mini, juga
diikuti dengan pengentasan masalah banjir secara bertahap,  mulai dari
normalisasi & pengerukan sungai-sungai di Jakarta seperti Sungai Paking
Penjaringan, Sungai Ciliwung, Sunter dan lain-lainnya. Normalisasi itu bisa
dikerjakan dengan hasil yang fantastis ditangan Jokowi, mengingat selama
puluhan tahun relokasi lahan yang tidak pernah berhasil dilakukan oleh
pemimpin-pemimpin sebelumnya, tapi itu semua bisa dilakukan TANPA KONFLIK di
bawah kepemimpinan Jokowi, setelah Jokowi berhasil merelokasi warga bantaran
sungai dan membersihkan Rusun marunda dari tangan para calo yang memperjual
belikan rusun dengan harga yang mahal.
Banyaknya hasil kerja yang telah disuguhkan kepada masyarakat, membuat
masyarakat pun yakin akan kemampuan / kapabilitas Jokowi untuk memimpin dengan
skala permasalahan yang lebih besar.
Karena itu tidaklah mengherankan kalau sekarang rakyat menginginkan Jokowi
maju di pilpres 2014 mendatang, mengingat masalah-masalah Jakarta sudah sangat
jelas arah & hasilnya. Perubahan itu sangat jelas walaupun penyelesaian /
finishnya adalah jangka panjang. Tapi bukti itu sudah lebih dari cukup dimata
rakyat yang rindu akan sosok kepemimpinan yang merakyat & benar-benar untuk
rakyat. Rakyat menginginkan sosok pemimpin yang mampu melepaskan diri dari
lingkaran kepentingan parpol, dan itu bisa mereka lihat dari sosok Jokowi, yang
tetap menempatkan orang-orang lama dalam dinas pemerintahannya, dan berani
menolak usulan nama-nama dari parpol pengusungnya untuk dijadikan kepala dinas.
Nama dan popularitas Jokowi kian melambung tak terbendung menjadi calon
presiden paling potensial 2014 mendatang. Hal ini cukup membuat panik para
lawan politik tak terkecuali partai pendukung Jokowi sendiri yang sarat dengan
system politik dynasti yang tentunya keadaan ini juga berimplikasi negatif bagi
pimpinan partai (Megawati) yang ternyata elektabilitasnya jauh berada dibawah
Jokowi. Rakyat tidak lagi perduli dari partai apa dan diusung oleh siapa saat
melihat Jokowi. mereka telah jauh tenggelam dalam kharisma Jokowi yang
benar-benar merakyat.
Tahun ini adalah tahun yang panas bagi partai politik menjelang 2014 nanti.
Semua parpol pun akan melakukan berbagai manuver untuk memenangkan pemilu tahun
depan yang disusul dengan pemilihan Presiden dari beberapa calon yang sudah
mendeklarasikan diri untuk maju di 2014 nanti. Tak bisa kita pungkiri, akan
banyak pihak yang memanfaatkan Popularitas Jokowi, dan akan banyak pula pihak
yang akan melakukan berbagai cara untuk menjegal Jokowi maju di pilpres 2014
nanti.
Baru-baru ini telah diadakan survey oleh LSI yang memasangkan Jokowi sebagai
wakil dari Aburizal Bakri (ARB) dan memperoleh hasil perolehan tingkat
elektabilitas tertinggi sebesar 36 %. Survey ini sangat aneh dan tidak salah
kalau kita “menduga” survey ini sarat dengan kepentingan, karena kita
masih ingat betul bagaimana lembaga survey ini (LSI) berusaha ‘menipu’ publik
dengan hasil survey kisaran 50% untuk pasangan Foke & Nara beberapa waktu
yang lalu pada saat pilkada Jakarta 2012. Ini adalah bukti yang sangat kasat
mata kepentingan salah satu parpol dalam usahanya untuk menaikkan popularitas
calonnya dengan memanfaatkan jasa LSI untuk kembali “menipu” publik.
Tidak kalah seru bagi mereka para penguasa yang ingin menjegal Jokowi untuk
maju di pilpres 2014 nanti. Sekarangpun sudah bisa kita dengarkan statemen-statemen
mereka untuk menghalangi Jokowi maju di pilpres mendatang. diantara
statement  mereka adalah :
Planing A :
1. Selesaikan dulu masalah Jakarta
2. Tuntaskan masa jabatan sampai 2017
3. Tuduhan kutu loncat
4. Dukungan untuk 2019
Mereka menutup mata atas kondisi Bangsa yang sangat membutuhkan Jokowi untuk
menyelamatkan Negri ini,  padahal Jakarta sudah banyak perubahan di tangan
Jokowi.
Planing B :
Upayakan posisi Jokowi hanya sebagai wapres, pasangkan dg Megawati. Dg
begitu akan lebih mudah untuk menjatuhkan mereka dalam pertarungan politik 2014
nanti, dimana kita tau Megawati memiliki banyak dosa-dosa politik di era kepemimpinannya.
mulai dari penjualan gas kpd china, kasus sipadan & ligitan, penjualan
saham TELKOM, Tanker, undang-undang buruh dll. Disamping itu Jokowi hanya akan
menjadi “Pengekor” dari megawati yang tidak bisa menetapkan kebijakan, akan akan
membuat rakyat tidak simpatik pada kedua pasangan. Sehingga lawan-lawan politik
Jokowi akan memperoleh kesempatan besar untuk menang dalam pertarungan politik
2014 nanti.
Kenapa Jokowi harus maju di PILPRES 2014 ?
Kita tahu benar bahwa Jokowi masih 5 bulan memimpin Jakarta, dan masih
terlalu dini untuk menilai tingkat keberhasilannya dalam menata & memimpin
Jakarta. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa Kinerja Jokowi yang
tidak kenal lelah dan tidak mengenal batasan jam kerja, membuat rakyat semakin
yakin bahwa masalah jakarta akan segera dapat dirasakan perubahannya. Walaupun
kita tau, untuk menyelesaikan masalah Jakarta dibutuhkan waktu puluhan tahun
(jangka panjang), tapi arah dah hasil perubahan itu sudah sangat bisa kita
rasakan. Mulai dari perombakan birokrasi dengan mengeliminasi orang-orang yang
sering melakukan “permainan” dengan memanfaatkan kekuasaan, seperti
Dinas PU, kepala rusun marunda, Kepala Satpol PP, dan juga fokus penuh dalam
mengatasi masalah macet dan banjir, seperti penambahan ratusan bus gandeng
trans jakarta, peremajaan kopaja dan metro mini, juga diikuti dengan pengentasan
masalah banjir secara bertahap,  mulai dari normalisasi & pengerukan
sungai-sungai di Jakarta seperti Sungai Paking Penjaringan, Sungai Ciliwung,
Sunter dan lain-lainnya. Normalisasi itu bisa dikerjakan dengan hasil yang
fantastis ditangan Jokowi, mengingat selama puluhan tahun relokasi lahan yang
tidak pernah berhasil dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya, tapi itu
semua bisa dilakukan TANPA KONFLIK di bawah kepemimpinan Jokowi, setelah Jokowi
berhasil membersihkan Rusun marunda dari tangan para calo yang memperjual
belikan rusun dengan harga yang mahal. Dengan berbagai hasil yang telah bisa
kita lihat dalam 5 bulan ini, setidaknya kita bisa memprediksi perubahan yang
lebih besar akan segera kita rasakan tahun depan.
Pemetaan masalah, Proyek jangka Pendek, Menengah dan Panjang
2014 nanti, seluruh program pembangunan baik jangka pendek, menengah dan
panjang pastilah telah di eksekusi oleh Jokowi yang mana disana pasti juga
telah ditetapkan nilai kontrak dan waktu pengerjaannya. Pekerjaan terberat bagi
seorang Jokowi untuk menata Jakarta adalah di tahun pertama dalam
kepemimpinannya, karena tahun ini Jokowi harus benar-benar mampu memetakan
segala permasalahan jakarta dan segera menyusun rencana pembangunannya yang
berorientasi penuh dalam pengentasan masalah Jakarta.
Sudah menjadi rahasia umum buruknya sistem birokrasi yang sangat kronis
tingkat akut sedanga melanda Negri ini. Banyak sekali dan bahkan hampir semua
jajaran dari dinas pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif) terkuasai
oleh mafia-mafia pemangku kepentingan yang telah menjadikan kekayaan Bangsa ini
amburadul entah kemana. Dari ribuan trilliun hasil pajak dan hasil alam telah
mengucur tanpa arah dan managemen yang jelas. Tidak adanya transparansi
anggaran semakin membuat rakyat jengah dengan pemerintah. Kita sadar ada Ribuan
trilliun kerugian negara setiap tahunnya, sementara kita masih diharuskan untuk
membayar Hutang yang ribuan trilliun dan dengan bunga yang bertrilliun-trilliun
itu. apakah kita akan membiarkan hal ini terus terjadi sampai 2019 ? .
..
Tentu jawabannya adalah TIDAK ..!
Kita ingin kekayaan negri ini tersalur sesuai dengan peruntukannya,
termanage sesuai dengan managemen yang pasti dan terkucur sesuai menurut arah
dan alokasi yang jelas. Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki track record
yang benar-benar terbukti keberhasilannya dalam hal management dan kontrollin
dengan penerapan systen yang dia bawa, dan disini Jokowi telah membuktikannya
di solo selama 7 tahun dan sekarang di perjelas dengan bukti penerapan system
kontrollingnya di Jakarta. Dengan Pemimpin yang seperti ini, harapan rakyat
sangat besar bahwa Jokowi sangat mampu mengelola dan mengalokasikan anggaran
benar-benar sesuai peruntukannya.
Jokowi gila kekuasaan ?
Statemen ini akan mereka gunakan untuk menghantam Jokowi saat Jokowi
benar-benar maju di bursa Capres 2014. Merakapun akan mengungkit kepemimpinan
di Solo yang belum tuntas, dan kemudian dilanjutkan dengan kepemimpinan di
Jakarta yang baru 2 tahun yang kemudian ditinggalkan untuk pencapresan 2014.
Rakyat bisa memaklumi pernyataan-pernyataan negatif yang mereka lontarkan
untuk menyerang Jokowi, tapi rakyat juga tidak menutup mata pada kinerja Jokowi
selama 1 tahun ini. Dimana kinerja Jokowi selama 1 tahun jauh lebih bisa mereka
rasakan daripada puluhan tahun kinerja pemimpin sebelumnya. Benarkah ?? Lihat disini >>
Dan nanti sepertinya yang terjadi adalah Rakyat yang akan MENCALONKAN Jokowi untuk maju di Pilpres 2014. Dan tidak ada alasan lagi yang dapat membenarkan bahwa Jokowi gila kekuasaan, karena pencalonannya nanti adalah karena desakan rakyat.

Selesaikan dulu masalah Jakarta
Statemen seperti ini terdengar sangat konyol, …karena program pengentasan
masalah di jakarta itu terbagi dalam tiga kelompok : Pembangunan Jangka pendek,
menengah & Panjang.
Kita tahu masalah Jakarta sangat komplek dan merupakan timbunan dari
masalah-masalah yang tidak terselesaikan selama puluhan tahun dan dari
kepemimpinan sebelumnya tidak mampu memberi arah yang jelas tentang hasil
kinerjanya dalam pengentasan masalah di DKI. Sementara sekarang telah bisa kita
lihat dan rasakan proses perubahan yang begitu nyata memberi kejelasan arah
dari pengentasan masalah-masalah Jakarta. Baca disini >>

Meninggalkan Jakarta, Mengkhianati Rakyat,
mengkhianati Sumpah Jabatan ?

Statemen ini sangat mungkin akan kembali mereka gunakan untuk menjatuhkan
Jokowi.
Apakah
Jokowi meninggalkan Jakarta & Mengkhianati Rakyat ?
Tentu tidak, Justru karena Jokowi ingin benar-benar menjalankan amanah warga
DKI khususnya, Jokowi harus secepatnya jadi Presiden, untuk membersihkan
birokrasi pusat yang menghambat terselesaikannya masalah-masalah Jakarta karena
tumpang tindih kewenangan Pusat dan DKI khususnya dan seluruh Daerah pada umumnya dengan beban amanah yang
lebih besar. Sekaligus melindungi Bangsa Indonesia dari serbuan pasar bebas
yang akan segera diberlakukan. Jokowi akan mampu membendung mereka dengan system
Ekonomi kerakyatan sesuai dengan keberhasilannya menurut rekam jejaknya di Solo
dan Jakarta.
Mengkhianati Sumpah Jabatan ?
Mari kita belajar kedewasaan berpolitik kepada warga Solo yang telah
merelakan Pemimpin terbaiknya mengemban amanah yang lebih besar di daerah lain
(Jakarta) demi kemaslahatan yang lebih besar pula. Karena Jokowi adalah system
pemimpin yang membangun system, bukan pemimpin yang hanya mengandalkan figur
dalam kepemimpinannya. Dengan system yang telah dibangun di jakarta, maka
dengan sendirinya system itu yang akan berjalan untuk menyelesaikan masalah.
sementara penerusnya hanya tinggal mengawal dan mengawasi jalannya system.
Lawan-lawan politik, tentu akan mengeluarkan statemen-statemen negatif untuk
menjatuhkan Jokowi, dian
Bagaimana dengan Jakarta saat ditinggalkan Jokowi ??
Justru dengan terpilihnya Jokowi sebagai Presiden nanti, masalah-masalah di
Jakarta akan jauh lebih cepat teratasi. Karena Jokowi akan merombak total dan
membersihkan birokrasi dari segala macam kepentingan. dan Jokowi sangat
menguasai masalah yang dihadapi Ibukota Negara. Kita pasti tau masalah-masalah
di Jakarta tak lepas dari peran pusat yang selama ini menetapkan kebijakan yang
tumpang tindih antara kewenangan pusat dan daerah. Inilah yang membuat
pengentasan masalah Jakarta selama ini berjalan ditempat, dan saat inipun Jokowi
dihadapkan oleh kewenangan pusat, sehingga tidak bisa secepatnya mengambil
keputusan, seperti MRT dan Monorail yang harus melalui prosedur dari pusat.
Apakah Ahok mampu menggantikan Jokowi ?
Tahun pertama kepemimpinan Jokowi adalah masa-masa paling sulit dan paling
berat. Karena Jokowi harus memetakan segala masalah, menentukan langkah
penanganan dan keputusan pengesahan berbagai proyek sesuai dengan program
Jakarta Barunya. Tahun 2013 inilah pekerjaan besar itu dihadapkan dengan
tantangan yang sangat besar, karena harus merombak birokrasi dan menanamkan
pondasi yang kokoh akan program-program Jakarta baru.
Saat semua program telah diketok palu dan di syahkan berdasarkan pemetaan
masalah yang langsung menuju inti persoalan, maka Pondasi itu telah terbangun
dengan kokoh. System dan birokrasi telah terbangun dengan baik dan tidak ada
alasan bagi ahok untuk tidak mampu meneruskan kepemimpinan Jokowi, karena
pekerjaan terberat sudah diselesaikan Jokowi. Ahok hanya tinggal mengawal dan
mengawasi jalannya program-program pembangunan sesuai dengan MoU yang telah
ditetapkan target waktunya. Disamping itu kita sadar akan kemampuan ahok yang
aksi dan gebrakannya tak kalah lincah dengan gubernurnya (Jokowi).
Bagaimana nanti Ahok menghadapi DPRD ?
Kita tau pilkada kemarin, Jokowi – Ahok berhadapan dengan Foke-Nara yang
didukung oleh partai-partai besar dengan jumlah kursi lebih dari 77% di DPRD DKI. Mereka sempat ‘mencoba’ untuk
menghambat pemerintahan Jokowi-Ahok saat rapat pengesahan APBD yang sangat
jelas hanya diulur-ulur dengan berbagai alasan, sampai beberapa anggota fraksi
melakukan walk out dari rapat pembahasan anggaran. Apa yang dilakukan Ahok
?? … Ahok pun tidak tinggal diam dan
mengancam akan menyiarkan rapat pembahasan anggaran di DPRD secara di stasiun
televisi secara LIVE, agar rakyat bisa memantau langsung kondisi rapat.
Pernyataan ini dilakukan Ahok secara terbuka hingga membuat DPRD DKI meradang
yang akhirnya, pengesahan APBD DKI di ketok palu TANPA VOTING.. !! kenapa ?
karena rapat pengesahan itu dilalukan secara terbuka ..!
Bagaimana jika nanti Ahok menggantikan Jokowi dan bagaimana seandainya nanti
Ahok mengangkat wagub dari lawan politik ?
System pemerintahan Jakarta Baru tidaklah sama dengan system pemerintahan
sebelumnya. Dimana sekarang semuanya dilakukan secara terbuka. Mulai dari rapat
pembahasan, hingga ke APBD yang dipublikasikan secara terbuka hingga LEMBAR
KETIGA ..!!
Sesuai dengan filosofi yang dipegang oleh Ahok, bahwa kalau pemimpinnya
lurus, maka bawahan tidak akan berani untuk tidak lurus. Dan kita pasti sangat
yakin, siapapun nanti pengganti posisi wagub, tidak akan berani berbuat
macam-macam, karena sekarang adalah era keterbukaan. Dimana rakyat memiliki
porsi penuh untuk mengawal dan mengawasi birokrasi.
Dukungan kepada Jokowi untuk CAPRES
2019
Cara ini adalah cara pamungkas bagi lawan politik
untuk menjegal Jokowi maju di pilpres 2014 nanti. Dengan statemen ini, mereka
akan berusaha mempengaruhi & memecah belah para pendukung Jakarta Baru yang
kemarin solid dalam dukungan pilkada DKI. Mereka sangat takut kalau Jokowi secepatnya
menjadi Presiden.
Apa
agenda mereka dengan statemen dukungan Jokowi untuk 2019 ?
1. Mereka
berusaha mengulur waktu agar supaya Jokowi tidak sesegera mungkin menjadi
presiden. Dengan begitu mereka akan leluasa mendapatkan pundi-pundi rupiah dan
menikmati kekuasaan mereka di birokrasi. Sementara kita tahu tujuan mereka
duduk dibirokrasi tak lain hanyalah sebagai ajang untuk mencari nafkah dan jauh
dari pengabdian kepada masyarakat.
2. Mereka
akan berkesempatan penuh selama 5 tahun untuk menyiapkan strategi untuk menjatuhkan
karakter Jokowi sampai 2019.
3. 2019
nanti mereka akan mengangkat isu yang sama, yakni “Selesaikan masa jabatan
gubernur periode ke-2 sampai selesai (2017 – 2022) dengan kekuatan penuh selama
5 tahun yang telah mereka siapkan.

Apa
untungnya Jika Jokowi menjadi Presiden 2014 nanti ?
Indonesia adalah negara besar dengan Jumlah penduduk
240 Juta jiwa. Negara dengan jumlah penduduk terbesar ke 5 di dunia. Tahun 2015
adalah dimulainya era pasar bebas dimana Indonesia akan menjadi pasar potensial
dengan membanjirnya produk-produk import yang akan menggerus produk lokal
bangsa kita. selama ini tidak ada upaya pemerintah untuk melindungi dan
memberdayakan industri lokal, sehingga kita hanya menjadi negara konsumen tanpa
mampu menjadi negara produsen. Bukan hanya dibidang elektronikan dan mesin,
bangsa ini selalu import karena tidak adanya dukungan penuh dari pemerintah
untuk mandiri dan berdaya dibidang produksi, tapi juga produk-produk pertanian
yang ternyata selama ini kita selalu import. Kita sangat merindukan pemimpin
yang berjiwa mandiri. Pemimpin yang berpegang teguh dengan amanat TRISAKTI Bung
Karno yang menekankan kedaulatan dibidang Politik, kemandirian dibidang ekonomi,
sosial dan budaya. Sementara kita tahu, dalam politik saja DPR tak
henti-hentinya ‘melancong’ ke luar negeri hanya untuk melakukan study dalam
perumusan undang-undang. Dibidang pangan, malah semakin parah dengan peristiwa
kedelai, sapi dan bawang yg masih kita rasakan. Belum lagi dibidang energi yang
dikuasai asing, budaya lokal yang semakin tergerus budaya asing dan Jiwa sosial
masyarakat yang telah mati suri.
Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu mendobrak
& memperbaiki system yang salah kaprah ini. Rakyat rindu dengan pemimpin
yang dekat dengan rakyat dan menempatkan jabatan sebagai bentuk pengabdian. Dan
sebagian besar rakyat telah menetapkan Jokowi adalah sosok yang tepat.
Disini Jokowi telah memberikan nuansa kepemimpinan
yang berbeda. Disolo Jokowi telah mensuport secara penuh PT. KAI untuk
memproduksi Rail Bus ‘Bathara Krishna’, Mobil ESEMKA rakitan lokal sebagai
Brand dalam negeri, melestarikan budaya lokal dengan kearifannya, hingga
duniapun menetapkan Solo sebagai kota Budaya Internasional. Tidak hanya itu,
Jokowi dengan tegas menyatakan APBD DKI sangat besar dan cukup untuk membangun
Jakarta, sementara calon-calon lain (sebelum pilkada) menyatakan ‘seberapapun
APBD DKI tidak akan pernah cukup untuk mengatasi masalah jakarta”. Disampin itu
Jokowi dengan tegas tidak mau diatur-atur oleh Bank Dunia, dan tidak
mengharapkan pinjaman asing yang sarat intervensi.
Lima bulan sudah Jokowi menjabat sebagai gubernur
DKI Jakarta. Seringkali program-program pembangunannya terganjal oleh
kewenangan dan birokrasi pusat yang berbelit dan lambat. Kenapa ? kerena Pusat tidak menguasai masalah
ibukota. Ditambah dengan birokrasi yang buruk, mengakibatkan program-program
kerja Jokowi molor dan terhambat.
Inilah alasannya kenapa Jokowi harus secepatnya
menjadi Presiden. karena perombakan & reformasi birokrasi harus dilakukan
oleh pemimpin yang benar-benar memiliki rekam jejak yang jelas tentang
bagaimana kepemimpinannya mengelola & menata birokrasi, dan Jokowi telah
membuktikannya di solo dan Jakarta sekarang yang telah membangun system
birokrasi yang mampu menekan dan membatasi gerak / celah kemungkinan adanya
korupsi dengan menerapkan system online disemua bidang. Mulai dari perpajakan,
perijinan, tiket dan lain-lain. Bukan hanya DKI yang ingin adanya reformasi
birokrasi, tapi seluruh propinsi di Indonesia sangat membutuhkan pemimpin
seperti Jokowi. Karena tidak mungkin mengkloning Jokowi untuk di tempatkan di
33 propinsi, maka tidak ada jawaban lain selain mengangkat Jokowi menjadi
Presiden 2014 nanti.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: