Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Maya Rahmayati

Seorang IRT, Pekerja Sosial Kemasyarakatan# bercita-cita melanjutkan study, dan selalu percaya "Tumbuh dan berkembang itu, selengkapnya

Survey, Support dan Surprise! (Euphoria Menjelang Pemilukada NTB)

OPINI | 29 March 2013 | 03:55 Dibaca: 1122   Komentar: 0   0

Tahun 2013 menjadi tahun politik yang “panas”. Suhu cuaca meningkat lebih gerah dari sebelumnya. Di NTB khususnya, rasa-rasanya ingin bawa “alat pendingin” ke mana-mana. Komentar sedikit saja, langsung dikaitkan-kaitkan dengan Pemilukada. Gaung demokrasi masuk ke pelosok dari banyak perkumpulan sampai pada diskusi ringan warung kopi pembicaraannya berkisar soal “kira-kira siapa yang akan menang?” dari “kira-kira” ini, spekulasi banyak bermunculan. Bahkan statmen Paranormal semakin laku dibincang.

Pesta demokrasi, begitu kata orang-orang. Tingkah laku ini diam-diam menarik juga untuk dilihat sebagai satu catatan: daerah kita maju-bersaing sebagai pola relasi tumbuh kembangnya demokrasi. Dan judul tulisan yang mengambil tiga sisi ini mencoba melihat gerak itu sebagai satu renungan panjang dari ragam gerak orang-orang. selebihnya mari menafsir sendiri-sendiri.

Survey (Penelitian)

“Tidak ramai rasanya jika Pemilukada tanpa publish hasil survey” begitu komentar yang saya dengar dari seorang teman ketika membaca hasil elektabilitas yang dilakukan oleh salah satu lembaga survey beberapa waktu lalu. Lembaga survey “kebanjiran” order menjelang pemilukada. Lembaga-lembaga survey jauh hari semacam “alat ramal” bagi para kandidat yang hendak bertarung di Pemilukada.

Hasil survey (statistik parametrik) biasanya terdapat empat syarat yang harus dapat dipenuhi sehingga data menjadi valid. Empat syarat tersebut diataranya: normalitas, homogenitas, heterogenitas dan linieritas. Terlepas dari empat syarat tersebut, sekali lagi hasil analisa lembaga survey “mengambil posisi” sebagai alat dongkrak popularitas yang diharapkan memberi berpengaruh pada signifikan tidaknya suara.

Di salah satu forum diskusi di facebook (fb) tak jarang publikasi hasil survey menjadi bahan perdebatan. Pendukung pasangan (Cagub/ Cawagub) yang secara kebetulan (tidak) diuntungkan oleh hasil survey tersebut: berkomentar, mengkomplain hasil survey seperti konsumen yang mengkomplain produk barang “jadi” yang terlanjur dibelinya. Dan untuk sebagian pendukung yang merasa “jagoannya” dimenangkan oleh hasil survey tersebut berkomentar mencari-cari pembenaran yang dikait-kaitkan dengan hasil survey. Fenomena yang menarik, semakin meningkatnya akun abal-abal (akun palsu) yang sengaja diciptakan sebagai salah satu cara counter isu media sosial.

Hasil survey ini tak jarang disandingkan dengan hasil ramalan Paranormal. Lucu memang, menjelang pemilukada bukan hanya lembaga survey yang kebanjiran orderan, bahkan tak jarang Paranormal juga mengambil posisi yang “menguntungkan” dengan statmen-statmen di surat kabar. Terlepas dari apakah ini soal “pesanan”, valid atau tidak hasilnya kemudian, fakta init toh menjadi salah satu strategi pilihan yang berusaha untuk “menekan keyakinan” publik pada Pemilukada.

Bagi lembaga survey, dalam membahasakan data hasilnya pendekatan metodologi memang penting dipublikasi untuk membedakan hasil survey dengan hasil ramalan Paranormal. Paranormal yang statmennya kadang sulit diterima akal, cukup dari hasil penerawangan, ramalan mimpi lantas semacam “hendak” menggiring alam bawah sadar tentu saja konyol untuk sebagian orang. Tetapi tidak sedikit juga yang masih meyakini sebagai pencitraan untuk harapan kemenangan.

Semacam bisnis politik menjelang Pemilukada, lebih jauh tak akan dibahas dalam tulisan ini berangkat dari banyak pengalaman hasil survey sementara tak jarang mengecewakan setelah perhitungan suara pada hari H dilakukan. Bukan meragukan kapasitas Lembaga Survey tetapi dumee (modifikasi data) hasil survey juga tak lepas dari kemungkinan faktor human error. Maka publik juga perlu bijak menyikapi hasil survey. Yang merasa “dimenangkan” sebaiknya tidak terlalu yakin dengan bayang-bayang kemenangan karena bisa jadi ini sisi kelemahan, maka penting untuk mempertahankan elektabilitas lapangan. Dan bagi yang merasa tidak diuntungkan, jangan lantas mencibir dengan buru-buru mengatakan “ini rekayasa” karna bisa jadi hasil survey juga dapat menjadi evaluasi kinerja bagi tim pemenangannya.

Sekali lagi survey penting ada untuk “melihat” sejauh mana elektablitas pemilih di NTB dalam menentukan suara. Meskipun ada juga kandidat yang tidak menggunakan “jasa survey ini untuk berandai-andai dalam menentukan sikap. Cukup dengan melihat publikasi hasil survey lawan, mereka sudah dapat informasi di mana titik-titik rawan untuk “menyerang”.

Support (Mendukung)

Saya termasuk penggemar acara adu bakat, X-Factor Indonesia yang disiarkan langsung oleh TV swasta setiap Jumat malam,. Suara-suara kontestan terbilang unik dengan aransemen lagu dan penampilan panggung yang gemilang. Nama-nama seperti Fathin Zidkia Lubis, Novita Dewi, Alex Rudiarth (salah tiganya) menjadi nominasi nama-nama kontestan dengan aksi panggung yang cemerlang bagi saya sayang untuk dilewatkan.

Pola penjaringan bakat dalam kontes suara satu ini terbilang unik (faktor x) karena setiap kontestan “didampingi” oleh musisi-musisi ternama sebut saja Ahmad Dhani, Anggun, Baby Romeo, dan Rossa. Sekaligus bertindak sebagai komentator untuk penampilan para kontestan setiap minggunya. Sebagai bisnis media, persamaan yang dengan kontes-kontes lainnya tentu saja pada pooling suara dan SMS pemirsa yang menentukan kontestan ini terus bisa tampil di panggung atau tereliminasi.

Beginilah dalam setiap kontes ajang pencarian bakat, tidak dapat dinilai penuh dari aksi panggung juga kemasan penampilannya akan ada faktor-faktor lain yang tetap harus diperhitungkan termasuk dukungan pemirsa yang dapat disalurkan melalui SMS atau call center yang disediakan panitia. Pendukung yang berkontribusi banyak untuk menentukan siapa pemenang sekali lagi merupakan gejolak suara pemirsa dari konsekwensi laku kerasnya tontonan yang disuguhkan. X-Factor Indonesia mengejawantah dalam Pemilukada NTB.

Empat calon kandidat yang sudah dipastikan lolos oleh KPU untuk berlaga dalam Pemilukada NTB 2013 tidak lepas dari keberadaan Parpol yang mendukungnya (baca: diusung) sebagai kendaraan. Meskipun salah satu kandidat dari calon independen gagal untuk turut berlaga pada 13 Mei nanti. Empat kandidat yang lolos seleksi calon antara lain: Pasangan Suryadi Jayadi Putra berpasangan dengan rekan separtainya Johan Rosihan dari PKS yang menyebut dirinya pasangan SJP-JOHAN diusung oleh dua Parpol lainnya yaitu PBR dan PPRN. Pasangan K.H Zulkifli Mahadli berpasangan dengan Prof. Dr. M. Ichsan (ZUL-ICHSAN) diusung PBB, PKPB dan PKNU, pasangan incumbent Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, MA. Berpasangan dengan H.M Amin, SH yang populer disebut pasangan TGB-AMIN diusung oleh tujuh Parpol diantaranya Partai Demokrat, Golkar, PDI-Perjuangan, PAN, PPP, PKB, Gerindra. Dan pasangan yang menyebut dirinya sebagai pasangan HARUM (H. Harun Al-Rasyid dengan Dr. Muhyi Abidin) diusung oleh Partai Hanura dan Parpol non parlemen.

Kandidat pasangan Cagub-Cawagub yang balihonya sudah terpajang dimana-mana. Sepanjang pinggir jalan, tertempel di pohon-pohon, kadang membuat kita merasa sedang melewati etalase panjang pasar bernama Pemilukada. Baliho-baliho yang terpasang, sebagai cara sosialisasi dan bentuk harapan dukungan pemilih.

Surprise (Kejutan)

“wow!!” Satu ungkapan akhir-akhir ini sering kita dengar akrab dalam komunikasi sehari hari. Sebagai ungkapan yang mewakili keterkejutan. Pemilukada yang terus-menerus berusaha di-yakin-i untuk dapat dimenangkan satu putaran hampir oleh keempat pendukung pasangan. Optimisme bagi tim pemenangan menjadi kata kunci yang penting sebagai salah satu cara untuk mempengaruhi kelompok-kelompok masyarakat.

Kejutan-kejutan menyenangkan sering dimimpikan banyak orang. Kejutan yang juga sering kita saksikan berupa tontonan reality show “Jumpa Selebritis” (misal) Bagaimana sosok artis tiba-tiba mengunjungi fans “beratnya” lalu histeris. Acara semacam ini sering kita saksikan di layar kaca “dikemas” sedemikian rupa menjadi hal yang “wow” untuk sebagian orang.

Sekali lagi, surprise (kejutan) dalam Pemilukada tentu saja berbeda dengan acara reality show yang dimaksud di atas. Kejutan bukan semata-mata hal yang menyenangkan bukan? karena kejutan yang tidak menyenangkan pun kita lupa memaknainya sebagai sebuah kejutan. Karena sistem otak bawah sadar kita (mungkin) sudah terlanjur mensetting “kejutan identik dengan sesuatu yang menyenangkan”. Jika dapat dirumuskan dalam tulisan ini “Survey + Dukungan= Kejutan” atau bisa jadi “Survey - Dukungan = Kejutan” (rumus yang masih dapat dimodifikasi menurut saya). Perkara kejutan ini akan menyenangkan atau megecewakan menjadi konsekwensi dari satu pertarungan.

Siapa penerima kejutan? Penerima kejutan dalam tulisan ini adalah mereka yang terlibat aktif dalam setiap proses yang terbangun. Saran saya, dalam Pemilukada NTB kali ini jadilah pencipta kejutan yang mendukung kandidat anda. Karena konon ada juga yang “lebih suka” masuk menyebut dirinya sebagai “golongan putih” (Golput) tidak ingin menyalurkan hak suara dengan berbagai alasan.

Bukan berarti penulis tak menghormati mereka yang Golput sebagai sebuah pilihan, akan tetapi Golput bisa jadi selemah-lemah iman dalam menentukan suara. Jika kita yakin dengan pilihan pada kandidat untuk mendukung perubahan atau meneruskan pembangunan yang sudah ada kearah kemajuan, maka suara-suara penting untuk disalurkan. Karena kejutan bukan saja untuk kandidat tapi lebih dari itu NTB membutuhkan kejutan-kejutan pembangunan dari pemimpin muda yang cemerlang. Wallahualambissawab***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 12 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 12 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

“Jangan Terbius dengan Kata …

Patra Rina Dewi | 8 jam lalu

BPJS Gunakan Sistem yang Gagal …

Indarwati Hikmawan | 8 jam lalu

Buruh DKI Kecam Survei KHL Cacat Proses Dan …

Rastra Sewakitiara | 8 jam lalu

SDM Kesehatan, From Bad To Good? …

Helmi Raisialangi | 8 jam lalu

Latah Politisi Senayan …

Pical Gadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: