Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ali Syarief

Lebih baik baca tulisanku spy kenal siapaku menurutmu www.alisyarief.com

Sistem Politik Kita Membodohi Rakyat

OPINI | 28 March 2013 | 20:36 Dibaca: 310   Komentar: 0   2

Sebentar lagi kita akan menggelar Pemilu Legislatif,  yaitu rakyat  kembali akan menentukan siapa yang akan menjadi pilihannya untuk duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten/Kota, Propinsi dan DPR RI. Sudah dua kali Pemilu di gelar, dimana rakyat tidak memilih partai politik lagi, tetapi memilih orang per-orang, baik untuk anggota legislative maupun paket Bupati/Walikota, Gubernur dan President. Inilah yg kita sebut,lazimnya, sebagai system Presidential.

Karena calon-calon yg diajukan parpol untuk legislative itu, pada umumnya bukan calon-calon yang popular dikenal oleh rakyat pemilihnya, maka para calon itu melakukan sosialisasi dirinya, dengan berkampanye, melalui berbagai pidato-pidato politik di hadapan  konstitutennya, poster-poster di jalan-jalan dan tempat2 strategis, dan berbagai media lainnya.

Yang aneh, dan lucu, materi kampanye para calon legislative itu, seperti pengalaman kita pada dua pemilu yang lalu.  Saya tidak mengerti, apakah kalau seorang terpilih menjadi anggota legistlatif itu, kemudian bisa berbuat seperti eksekutif? Sebab nyatanya yang di sampaikan mereka itu, kepada rakyat calon pemilihnya adalah, laksana seperti calon eksektuif, Bupati/walikota, Gubernur atau Presiden.

Kalau saya terpilih nanti, maka saya akan bangun jalan, saya akan gratiskan pendidikan, saya akan gratiskan kesehatan, saya akan naikan UMR, dst. Ini yang kita dengar dan kita saksikan. Padahal kita tahu, tugas mereka adalah legislasi, budgeting dan controlling, yang tidak ada kaitannya dengan usulan program pembangunan. Mereka bertugas hanya mensyahkan program-program yang diajukan oleh eksekutif, atas dasar kontrak sosialnya.

Begitu juga Kampanye Para Calon2 eksektif, Presiden,Gubernur dan Bupati/walikota. Memang benar mereka harus menyampaikan janji/program kepada rakyat, tetapi begitu terpilih, seharusnya janji-janji itulah yang di bahas dan di syahkan oleh Legislatif.  Realitanya di jegal oleh dua kepentingan, pertama oleh kepentingan fraksi alias parpol, dan kedua UU no. 5/2010 tentang RPJM, yaitu sejauhmana Pemda-pemda synergy dengan UU tersebut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Apakah Pedofili Patut Dihukum? …

Suzy Yusna Dewi | | 19 April 2014 | 09:33

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Perlukah Aturan dalam Rumah Tangga? …

Cahyadi Takariawan | | 19 April 2014 | 09:02

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 14 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 15 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 17 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: