Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Fatih Mujahid

RedakturTabloid Media Umat http://mediaumat.com/ http://hizbut-tahrir.or.id/ mujahid.fatih@gmail.com @fatih_mujahid selengkapnya

RUU Ormas Dibalut Kepentingan Asing

REP | 28 March 2013 | 19:45 Dibaca: 424   Komentar: 0   0

13644747011340258448Pemerintah dan DPR ngotot mengesahkan RUU ini di tengah banyak penolakan masyarakat.

Setelah rapat paripurna untuk mengesahkan RUU Ormas, Selasa (19/2) lalu gagal, pemerintah dan DPR merencanakan kembali pengesahan RUU Ormas pada Maret 2013 ini. Kenapa DPR dan pemerintah sangat ngotot untuk melanjutkan pembahasan dan pengesahan RUU Ormas?

Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, banyak masyakarat yang terkecoh dengan RUU Ormas karena dianggap sebagai solusi atas maraknya tindakan kekerasan yang melibatkan Ormas. Padahal RUU ini bukanlah solusi atas hal tersebut karena akar masalahnya adalah ketidaktegasan proses penegakan.

“Membangkitkan RUU Ormas yang merupakan peraturan bermasalah, sama sekali bukanlah solusi terhadap persoalan tersebut,” ujarnya saat Konferensi Pers Koalisi Masyarakat Sipil “Menolak RUU Ormas” , Kamis (28/2) di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta.

Din menegaskan, RUU Ormas ini harus dibatalkan dan dihentikan pembahasannya. Sebab, secara nalar RUU Ormas ini sangat rancu. “Secara ringkas ada kerancuan nalar dalam memberikan pengertian dalam menjelaskan apa itu ormas,” jelasnya.

Ia menjelaskan kerancuan tersebut. Konsep Ormas dalam RUU ini diperluas dengan masuknya seluruh bentuk perkumpulan termasuk yayasan. Padahal sudah ada undang-undang khusus tentang yayasan. Din menilai, dengan RUU ini pemerintah seakan mengembalikan arah jarum jam sejarah ke arah otoriteranisme, bahkan akan lebih represif.

Sedangkan, Koordinator Walhi Abet Nego menjelaskan, pemerintah seakan tidak tahu diri dengan tetap bersikeras menginginkan RUU Ormas ini disahkan. Pemerintah seakan lupa terhadap reformasi di mana ormaslah yang mendorong perubahan itu terjadi. “Ini merupakan pukulan telak kepada yang telah melahirkan mereka,” ucap kordinator Walhi ini.

Abet menyanggah ada isu kalau banyak kepentingan asing dalam tubuh Ormas. Malahan, menurutnya, justru RUU Ormas ini merupakan kepentingan asing. “Kami bekerja di banyak isu sumber daya alam dan paling ribut terhadap eksploitasi yang dilakukan pihak asing,” jelasnya.

Bagaimana menghentikan kritisnya ormas terhadap pihak asing tersebut? “Maka digunakanlah RUU Ormas ini untuk menghentikan kami,” ujar Abet.

Abet pun menekankan banyaknya ormas yang menolak RUU ini namun pemerintah dan DPR jalan terus, itu karena ada kepentingan asing yang memaksa DPR untuk terus mengesahkan RUU ini. “Kami sangat menolak RUU ini, karena kami mau melindungi Indonesia dari eksploitasi kepentingan asing,” terangnya.

Di tempat yang sama, Misbah, ketua Lajnah Khusus Tanggap Opini DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menjelaskan sangat setuju dengan penolakan RUU Ormas ini karena sangat menyesatkan. Namun, menurutnya, penolakan itu tidak cukup dengan penolakan yang sifatnya emosional.

Seharunya, menurut Misbah, setiap melihat rancangan undang-undang yang akan dibahas haruslah dilihat dengan standar dengan keyakinan sebagai umat Islam. “Apakah itu UU itu bertentangan dengan keyakinan kita atau tidak,” ujarnya kepada Media Umat.

Misbah menambahkan, adanya RUU Ormas ini membuktikan bahwa inilah demokrasi, dan bukan kemunduran demokrasi sebagaimana banyak kalangan sampaikan. “Inilah tampang asli dari demokrasi, yang ingin mengekerdilkan ormas-ormas Islam. Dengan omong kosong kebebasannya,” pungkasnya.[] fatih mujahid

http://mediaumat.com/media-nasional/4337-100-ruu-ormas-dibalut-kepentingan-asing.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 16 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 18 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 19 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 20 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 25 October 2014 08:22


HIGHLIGHT

Selamatkan Kawasan Ekosistem Leuser Aceh …

Nur Terbit | 9 jam lalu

Terinspirasi = Plagiat ? …

Aqsa Intan Pratiwi | 9 jam lalu

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Kontroversi Pengangkatan Menteri oleh …

Edward Pakpahan | 9 jam lalu

Pesta Raffi Ahmad dan Bakiak Lady Gaga …

Ifani | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: