Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Faktor Jokowi-Dahlan Iskan: Prabowo-Jokowi Ditantang Wiranto–Hary Tanoe, ARB-Ani Yudhoyono, Anis Matta-Rhoma Irama, Megawati–Hatta Rajasa

OPINI | 29 March 2013 | 04:20 Dibaca: 2891   Komentar: 9   3

Perburuan kursi jabatan Presiden dan Wakil Presiden RI telah semakin mengerucut. Selain partai yang sudah pasti mampu meloloskan calonnya seperti Partai Golkar dan PDIP, melihat peta politik belakangan, dengan hancurnya Partai Demokrat dan Partai NasDem, kini muncul wacana spektakuler dalam pencalonan Pilpres 20014. Hancurnya NasDem akibat ditinggalkan oleh Hary Tanoesoedibjo memberikan keuntungan bagi Hanura. Mari kita telaah apa akibat dari perubahan peta politik tersebut.

Calon presiden RI tahun 2014 tak akan jauh dari Aburizal Bakrie, Megawati Soekarnoputri yang jelas pasti lolos sebagai partai besar. Reaitas politik telah menenggelamkan Partai Demokrat sehingga terjadi pergeseran suara ke kubu Hanura dan Gerindra. Hanura sangat diuntungkan dengan bergabungnya Hary Tanoesoedibjo sebagai pendukung dana Rp 10 miliar per calon anggota legislatif yang berpotensi. Hanya dengan Rp 1,5 triliun Hanura akan mampu mendulang sekitar 150 kursi DPR. Ini bukan biaya besar bagi Hanura - dan juga Gerindra.

Dengan merosotnya dukungan terhadap partai korup seperti Golkar, PAN, Demokrat, PDIP dan yang paling lihai korupsi PKS, maka Hanura dan Gerindra mendapatkan momentum. Pencalonan Prabowo Subianto kemungkinan akan didukung oleh calon wakil presiden Joko Widodo. Megawati tidak akan menggandeng Joko Widodo karena karakter Joko Widodo yang susah diatur. Ini sangat bertolak belakang dengan sifat Megawati yang persis seperti Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak memiliki karakter kepemimpinan yang kuat.

Kondisi Gerindra sendiri tidak sehebat Hanura saat ini yang begitu gegap gempita didukung Hary Tanoesoedibyo. Gerindra sendiri seperti berjalan sendiri dan kekurangan media komunikasi yang menyadarkan bahwa elektabilitas Prabowo belum tentu searah dengan popularitas Gerindra. Prabowo yang menjadi calon presiden paling prospektif saat ini akan terjengkang jika Gerindra gagal mengomunikasikan tentang pentingnya pemilu legislative dimenangkan oleh Gerindra. Jika Gerindra gagal mendulang suara, maka yang terjadi adalah Prabowo tidak akan bisa masuk dalam bursa pencalonan presiden dalam Pilpres 2014.

Salah satu cara agar Prabowo menjadi presiden adalah menggandeng Joko Widodo. Dengan menggandeng Jokowi, maka Prabowo akan dengan sendirinya terkerek ke atas dan terdukung oleh elektabilitas Jokowi yang memang tinggi dan popular. Namun, di depan mata, partai sempalan Golkar yang lain adalah Hanura yang akan mencalonkan pasangan Pilpres 2014, Wiranto dan Hary Tanoesoedibyo.

Maka kemungkinan pasangan yang akan bertarung dalam Pilpres 2014 adalah Aburizal Bakrie-Ani Yudhoyono, Anis Matta - Rhoma Irama, Megawati - Hatta Rajasa, Prabowo - Jokowi dan Wiranto - Hary Tanoesoedibyo.

Melihat para calon seperti itu, pasangan ARB - Ani Yudhoyono jelas tak akan dipilih karena ARB tersangkut kasus dosa abadi Lumpur Lapindo. Sementara Ani hanya kelanjutan SBY yang tanpa prestasi. Anis Matta - Rhoma Irama adalah calon segregatif yang akan menyengsarakan minoritas agama dan suku. Sementara Megawati - Hatta Rajasa akan menjadi bulan-bulanan akibat prestasi yang jeblok dan dinilai sebagai calon presiden apkiran seperti Ical, Wiranto dan lainnya.

Pasangan Wiranto selain tak laku, Hary Tanoesoedibjo juga menimbulkan resistensi bagi dunia usaha. Langkah Hary Tanoesoedibjo menguasai media dan menggunakan uangnya untuk politik transaksional sangat membahayakan jika Hanura berkuasa. Dunia media, ekonomi dan politik akan dikuasai dan itu akan menjadikan monopoli dan oligarki politik-ekonomi.

Jadi melihat peta kekuatan seperti itu, faktor Jokowi akan sangat menentukan. Selain Jokowi tokoh kuat lainnya adalah Dahlan Iskan. Siapa pun yang mampu menggaet Jokowi dan Dahlan Iskan akan membuat elektabilitas dan pencalonan dan perebutan RI 1 dan RI 2 akan mulus.

Salam bahagia ala saya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 9 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 10 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 8 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 9 jam lalu

Rinni Wulandari Lebih Melesat… …

Raynadi Salam | 9 jam lalu

Kecardasan Tradisional …

Ihya Ulumuddin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: