Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dodin

suka menolong & humoris

Refutasi SBY di Mata Seorang Rakyat Bodoh yang Asal Bicara

OPINI | 25 March 2013 | 09:17 Dibaca: 903   Komentar: 0   3

Ini opini saya, opini rakyat bodoh yang tidak tahu dan mengerti ilmu politik. Tanpa teori, fakta, atau bukti. Saya tidak bermaksud memfitnah atau menghujat. Mungkin ini bisa saya sebut curhat saya orang bodoh yang asal bicara. Semoga tidak membawa masalah kepada saya suatu hari nanti, karena tulisan ini.Saya hanya bersandar pada pemberitaan di media surat kabar dan media elektronik. Dari sanalah saya mengambil kesimpulan, tentang refutasi kepemimpinan presiden kita, yang terhormat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saya tidak tahu siapa orang yang pertama kali memakai atau memanggil presiden kita dengan panggilan SBY. Mungkin dari sekian banyak pembaca ada yang tahu, silakan kasih tau di komentar nanti. Mengenai pemberitaan di berbagai media surat kabar dan elektronik tentang bobroknya moral para pejabat Indonesia yang terlibat korupsi, saya jadi berpikir apakah masih ada pejabat yang tidak melakukan korupsi? Karena , satu persatu pejabat di negeri ini mulai menjadi tersangka dan terdakwa kasus korupsi. Belum beres proses hukum persidangan satu pejabat, sudah muncul kasus baru. Hal ini membuat membuat kepercayaan saya sebagai rakyat yang awam politik kepada para pejabat di negeri Indonesia tercinta ini luntur. Saya ber harap semoga masih ada pejabat yang bersih dari korupsi dan betul-betul amanah menjalankan tugas dan kewajiban nya kepada rakyat, karena di tangan merekalah, nasib rakyat dan peradaban bangsa ini berada. Mau di bawa ke arah mana negeri ini, ke arah yang lebih maju dan baik atau sebaliknya ke arah yang lebih buruk menuju kehancuran. Negeri ini negeri yang kaya raya dengan potensi alam, laut dan darat yang melimpah,silakan para pembaca pikir, apa yang tidak ada di Indonesia, tanah subur makmur, sampai-sampai dalam lirik lagu Koes Plus di katakana bahwa tanah kita tanah Sorga, tongkat dan batu jadi tanaman. Kurang apa SDM bangsa Indonesia, mulai dari lulusan Diploma, sarjana, Doctor, Professor, ilmuwan, peraih penghargaan fisika,matematika, kimia segala macam lomba yang mengandalkan kecerdasan luar biasa, ada pemenangnya dari Indonesia. Para pengusaha sukses dan orang-orang cerdas banyak di negeri ini. Semua asset dan potensi untuk membangun negeri ini menjadi negeri yang sangat maju dalam segala bidang, pertanian, kelautan, industry, teknologi sudah lengkap. Kuncinya hanya satu, pemimpin yang bisa mempersatukan dan memberdayakan semua itu, pemimpin yang mempunyai sifat sidiq, amanah, patonah,dan tabligh. Yang jujur dan tegas. Ini memang pendapat saya,pendapat rakyat jelata yang tidak berpendidikan, tentunya beda dengan pendapat para ahli yang punya gelar akademis atau ahli di bidang ilmu politik dan tata Negara. Gampang sekali memang kalau asal bicara, permasalahan bangsa ini sudah seperti benang kusut, semrawut, butuh usaha keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Tapi saya yakin kalau ada niat yang kuat dan mau berusaha dengan sungguh-sungguh, semuanya, mulai dari rakyat sampai pejabat bersatu pasti berhasil membebaskan bangsa ini dari segala macam bentuk keterpurukan moral, mental, social, dari segala macam bentuk penjajahan. Seperti penjajahan Ekonomi dll.

Saya melihat di media elektronik berita pejabat yang terlibat kasus korupsi, sepertinya tidak ada efek jera atau takut, atau perasaan malu pada diri mereka. Yang saya heran sampai ada beberapa pejabat DPR dari partai Demokrat terjerat kasus korupsi. Nazaruddin, Angelina Sondakh, Andi Malaranggeng, Anas urbaningrum dan entah siapa lagi berikutnya. Kalau saya jadi pak SBY, mungkin saya sudah mengudurkan diri. Loh kenapa kan bukan salah atau pak SBY yang korupsi? Saya malu, partai yang membesarkan saya dan mengantar saya ke kursi presiden ternyata sarang koruptor dari staff sampai ketua pengurus partainya. Mana bisa saya mengurusi dan mengawasi jutaan rakyat Indonesia kalau orang-orang terdekat dari keluarga atau partai sendiri moralnya seperti itu? Apa rakyat masih percaya kepada saya untuk menjalankan amanah sebagai presiden, kalau faktanya partai saya, keluarga saya, terlibat korupsi.

Sebenarnya masa kepemimpinan SBY sudah berakhir,di mata saya rakyat jelata yang bodoh, yang asal bicara, seiring maraknya kasus korupsi yang terungkap dan saya merasa tidak ada perubahan yang berati selama masa pemerintahannya ini. Saya tidak melihat sesuatu yang “ cetar membahana” (meminjam istilah Syahrini), hebat pada SBY, tidak seperti pada mantan presiden Soekarno sang proklamator yang jago orasi dan tegas atau Soeharto bapak pembangunan yang kharismatik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 9 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 9 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kursi-kursi Senayan… …

Florensius Marsudi | 8 jam lalu

Naik Transjakarta Rp 40 Ribu …

Aba Mardjani | 8 jam lalu

Memotivasi Mahasiswa untuk Belajar Lewat …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Munas Golkar Tak Diijinkan di Bali Pindah …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Patah …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: