Back to Kompasiana
Artikel

Politik

M Alinapiah Simbolon

Ayah dari seorang anak bernama DOLIARGA HASANUL ABDILLAH SIMBOLON dan suami dari seorang isteri bernama selengkapnya

Presiden Cengeng

OPINI | 25 March 2013 | 07:29 Dibaca: 794   Komentar: 0   1

13641461141098358187

Foto : kompas.com

Sikap Susilo Bambang Yudhono (SBY) kerap mengisukan dan mengenduskan adanya upaya mengkudeta (upaya penggulingan) dirinya sebagai presiden, ketika menanggapi adanya aksi dan sorotan terhadap dirinya dan kepemimpinannya. Sikap demikian juga dipertontonkan SBY terkait rencana unjuk rasa besar-besaran pada tanggal 25 Maret 2013. Sikap yang tak patut  dilakukan oleh seorang yang berkapasitas sebagai presiden.

Sebagai sosok presiden, yang punya latar belakang militer dengan pangkat Jenderal TNI bintang empat alias Jenderal penuh, terlampau dini SBY menyimpulkan demikian. Seharusnya SBY bisa menilai dari kacamata militer bahwa yang punya kemampuan melakukan kudeta adalah yang punya senjata (militer), dan bukan aksi unjuk rasa yang dilakukan para social society, termasuk para aktivis. SBY juga harus bisa menilai kalaupun ada gerakan yang mendesak presiden turun dari jabatannya itu hanya gerakan moral dan tak termasuk sebagai tindakan kategori kudeta.

Sebagai seorang militer tulen, SBY setidaknya punya takaran penilaian dalam menilai dan menyikapi segala sesuatu aksi yang bersifat mengkritisi dirinya dan kepemimpinannya, termasuk menilai rencana unjuk rasa tanggal 25 Maret. Setidaknya SBY punya institusi yang mampu menilai aksi tersebut berpotensi kudeta atau tidak. Kalau dilihat dari kacamata militer aksi besar-besaran yang dilakukan Majelis Kedaulatan Republik Indonesia (MARI) pimpinan Ratna Sarumpaet tersebut, sangat tak berpotensi untuk melakukan kudeta, kendati rencana aksi unjuk rasa para aktivis tersebut menuntut SBY turun dari jabatannya sebagai presiden. Dan tak adanya potensi kudeta sudah dicetuskan banyak kalangan termasuk dari kalangan mantan petinggi militer. Bahkan berbagai pihak di pemerintahan sekarang ini baik dari militer maupun kepolisian telah menggaransi bahwa aksi tersebut tidak akan mengarah kepada tindakan kudeta.

Wajar jika sikap SBY itu dianggap berlebihan, bahkan dianggap banyak kalangan kalau SBY berhalusinasi, serta memiliki kekhawatiran yang berlebihan, sehingga SBY harus mengundang mantan petinggi militer, dengan tujuan kepemimpinannya tetap mendapat dukungan. Malah ada kalangan yang menganggap SBY paranoid karena ketakutan akan kudeta. Akibat sikapnya itu, tak salah jika kemudian timbul kesan bahwa SBY terbukti tak punya kemampuan sebagai seorang pemimpin. Tak hanya itu, SBY juga selalu menunjukkan sikap galau dan curhat saat kritikan dan sorotan datang bertubi-tubi menerpa dirinya dan kepemimpinannnya. Sampai-sampai sentilan sebagai presiden galau dan presiden curhat pun acapkali diarahkan kepada SBY.

Sikap SBY seperti ini, tak hanya baru kali ini terjadi. Masih segar dalam ingatan beberapa waktu lalu SBY juga begitu gampang menyimpulkan bahwa kondisi perpolitikan rentan membuat goncangan terhadap pemerintah, dan ada upaya kelompok tertentu untuk membuat gonjang-ganjing terhadap pemerintahan, sehingga dia meminta kepada elit-elit politik dan kelompok tertentu agar jangan keluar dari demokrasi. Dan itu tercetus saat hangatnya serangan Anas terhadap SBY dan Partai Demokrat, serta banyaknya dukungan lintas tokoh dan lintas partai kepada Anas. Tak hanya itu jauh sebelumnya, tepatnya saat menjelang unjuk rasa besar-besaran untuk memperingati Hari Anti Korupsi tanggal 9 Desember 2009. SBY saat itu juga terlihat galau dan khawatir, dan sampai-sampai mengenduskan ke publik, bahwa dia mensinyalir adanya gerakan yang tidak hanya gerakan moral anti korupsi, tetapi telah disusupi motif-motif politik untuk menggulingkan dirinya. Meskipun akhirnya isu tersebut jauh dari yang apa yang dienduskan SBY.

Kekhawatiran SBY sebenarnya adalah bentuk dari ketidak mampuan SBY menyikapi kondisi politik di negeri ini. Sebagai seorang Jenderal TNI purnawiraan, SBY tak seharusnya merefleksikan setiap adanya gerakan yang mengkritisi dan menyoroti dirinya maupun kepemimpinannya, dengan cara mendramatisir keadaan dan menyebut adanya upaya kudeta terhadap dirinya, ataupun istilah lain yang mengarah kepada penggulingan terhadap dirinya. SBY dalam menyampaikan sikapnya, juga terkesan seperti mengungkapkan curahan hatinya (curhat), dan itu terkesan disengaja agar terilis oleh media dengan tujuan untuk konsumsi publik. Memang SBY tak sampai menitikkan air mata ketika mengungkapkan curahan hatinya, tapi sebagai seorang presiden, cara yang dibuat SBY sampai harus menunjukkan kegalauan dan sampai harus curhat, layak SBY dapat sentilan sebagai Presiden Cengeng.

Sikap SBY tersebut, memang bisa saja trik politik SBY dengan tujuan politis, seperti sengaja menimbulkan kekhawatiran publik bahwa tindakan kudeta sangat berbahaya terhadap keamanan dan keteriban masyarakat, sehingga aksi unjuk rasa ataupun gonjang-ganjing serta sorotan terhadap SBY dan pemerintahannya tak mendapat dukungan rakyat. Ataupun bisa saja isu kudeta yang dienduskan SBY adalah trik untuk pengalihan isu terhadap banyaknya sorotan negatif terhadap SBY dan kepemimpinanannya, termasuk juga sorotan terhadap Partai Demokrat, dan sejumlah elitnya yang terlibat korupsi, khususnya sorotan terhadap putra bungsunya Edhi Baskoro Yudhoyono (Sekjen Partai Demokrat) yang ditenggarai terlibat menerima uang dari proyek Hambalang, sehingga isu seputar kudeta jadi polemik. Kalaupun itu tujuan SBY sehingga bersikap seperti itu, SBY tetap layak disebut sebagai Presiden Cengeng, karena hanya mampu membuat trik politik murahan yang gampang terbaca oleh publik, serta harus bersikap cengeng hanya untuk sekedar mengalihkan isu. (***)

Penulis : M Alinapiah Simbolon

Tags: demo25maret

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 10 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 11 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 12 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: