Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rusmini Bintis

Pecinta Kebenaran

Manfaat PKS untuk Diriku

OPINI | 25 March 2013 | 02:19 Dibaca: 1010   Komentar: 23   3

Tanpamu… aku berantakan
Tanpamu… aku tiada penerang
Tanpamu… tidak ada wasilah dalam perjuangan
Tanpamu… aku jauh dari Tuhan

“Engkau pahlawan”, itulah kalimat yang mewakili perasaan hati ini akan keberadaan PKS. Bagaimana tidak, sejak Juli 2005 yang lalu aku mulai mengenal sosok jelmaan itu. Ya…, kak Ismal. Beliau yang kini sudah tiada karena kangker otak yang dideritanya. Beliau sosok yang kali pertama mengajarkanku tentang perintah menutup aurat. Beliau pula sosok aneh yang kali pertama aku temui dengan tampilan jilbab besar.

Wajah almarhumah kak Ismal bening dengan kulitnya yang putih, kala ia berjalan nampak tinggi nan semampai. Dengan gaya kacamata yang khas dan tutur katanya begitu santun. Pasca pengajian di Musholla Al Hijrah, masih ku ingat tatkala ia dengan lihai bercerita tentang jilbab dan aurat. Darinya aku mengetahui tentang hukum dan alasan Allah menyuruh menutup aurat bagi perempuan.

Seiring waktu berjalan aku terus menghadiri pengajian keputrian kala itu. Satu bulan kemudian pada Agustus 2005, Allah mengantarkanku tergabung dalam sebuah pengajian yang lebih sedikit orangnya, walau diriku adalah anak bawang dengan usia yang sangat muda dibandingkan yang lain, namun perlakuan temen- temen ngaji dan sang murobbi (guru ngaji) begitu well came.

Ya.., aku betah dalam pengajian hingga tamat SMK. Dari sosok- sosok tangguh para murobbi, tak jarang mereka menyelipkan motivasi indahnya jadi mahasiswa dan aktivis dakwah di kampus. “Banyak teman yang baik- baik dan membuat cerdas” begitu pesan mereka. Dari mereka aku jadi termotivasi untuk kuliah, kalau mau jadi orang besar kudu kuliah. Biar bisa terus ngaji dan berdakwah.

Gayung bersambut, niatan hati terealisasi. Dua bulan sebelum UN, aku memperoleh kesempatan untuk lanjut S1 dari program PPA (Pengembangan Prestasi Akademik) bagi siswa yang berprestasi. Optimisme di awal kuliah sangat kuat untuk menjadi seorang aktivis di kampus sebagaimana yang diceritakan para murobbi. Hingga aku mengikuti tiga ormas yang semuanya berlebel ormas Islam yang ada sistem ngajinya. Walau pada realisasinya aku hanya mengikuti di satu pengajian karena jenjang pengkaderan terpusat. Namun secara kegiatan dan kepengurusan mengikuti ketiga lembaga tersebut.

Pasca kampus hingga kini, aku masih berbaris rapi dalam deretan pengajian. Malam ini…, sengaja mataku terjaga untuk merenungi manfaat mengaji dalam hidupku. Ah…, sederas apapun cucuran air mata haru yang melinang, tak akan sanggup mewakili betapa indahnya hidup dengan tarbiyah (ngaji). Tanpa mengaji, bisa jadi dulunya pacaran kelewatan hingga hamil sebagaimana kebanyakan remaja sekarang. Membuang janin dalam got sampah, tanpa peduli mau dibawa kemana hidup ini. Tidak kuliah dan menjadi pekerja sekelas pembantu rumah tangga.

Aku berfikir, kalau saja tidak ada kak Ismal dan para kakak morobbi yang dulu mengajarkanku, lalu bagaimana cara Allah menegurku atas salahku, mengajariku atas kebodohanku, mengarahkan hidupku. Itulah mengapa aku juga termotivasi menjadi sosok seperti mereka, menularkan rasa indah ini agar semakin banyak yang merasai.

Ketika masih awal-awal menjadi mahasiswi, keluarga sering protes karena padatnya aktivitas organisasi hingga sangat jarang pulang kampung, padahal hanya cukup 2 jam perjalanan. “Emang kamu digaji”. Cetus seorang kepadaku, “Tidak” jawabku. “Karena guru ngajiku juga tidak digaji uang tunai, aku ngajinya pun gratiss tidak bayar. Masak aku minta bayaran? Toh manfaatnya untukku, soal gaji Insya Allah nanti kelak di akhirat”. Jawabku sekenanya untuk merasionalkan keadaan.
Ya, bagiku tergabung dalam dunia dakwah adalah hal yang tidak rasional. Karena cinta akan menuntut segalanya. Hingga pikiran, tenaga, materi dan apa saja yang dipunya terasa ringan diberikan demi kekasih. Soal dakwah adalah soal cinta.

Cinta kepada ummat ini, agama ini, kemuliaan bangsa ini. Mengaji mengajarkanku agar menjadi pribadi yang tidak egois. Tidak hanya berfikir dan mengejar ambisi aku harus kaya raya, hidup senang dan keluarga bahagia. Tidak, tidak hanya sampai disitu. Tema dalam berfikir dan bertindak tidak melulu ‘aku’, tapi juga ‘ummat’. Aku ada untuk ummat. Aku yang butuh dakwah sebagai bukti cintaku pada Allah dan Rasulullah. Betapa aku sangat Rindu menatap wajah Nya, bercengkrama dengan Rasulullah dan para sahabat/ sahabiyah.

Setelah aku pahami, bahwa ngaji yang selama ini ku ikuti adalah program dari PKS, maka selayaknya pula aku memberikan loyalitasku padanya. Setelah apa yang telah dilakukan PKS padaku, kini gantian apa yang dapat aku berikan pada PKS. Bukan tentang jasa, namun lagi-lagi karena cinta. Bagiku, PKS adalah partai yang on mission. Ia memiliki tahapan yang dapat diejawantahkan dalam realita. Acuan geraknnya sama sebagaimana misi Rasulullah dan para sahabat menyebarkan dakwah. Tidak saklek saat keadaan buntu, melainkan penuh dengan ide brilian untuk mensiasati keadan agar kebenaran akan menang. Ijtihad pada qiadah dakwah merefleksikan kearifan strategi kemenangan.

Cinta bukan berarti membenarkan segalanya akan kekasih. Namun tatkala salah diingatkan, kalau benar didukung. Karena PKS adalah jama’ah manusia bukan malaikat. “Karya Nyata”. Ya… itulah bukti cinta. Maka tidak ada cara lain bentuk syukur atas segala keindahan dakwah ini kecuali bengan ‘karya semampunya’ bukan semaunya. Karya dengan prestasi untuk menaikkan izzah dakwah, karya dengan keloyalitas pada jama’ah. Benar kata Ustadz Rofiq “Karunia terbesar bagi seorang anak manusia adalah kemauan berdakwah secara totalitas”. Semoga kita terjaga dalam keistiqoimahan. AmiiN… Tak kan terhenti kecuali oleh kematian. Allahu Akbar…
13641526661203730844

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Kalau Sudah Gini, Baru Mau Koalisi; …

Ali Mustahib Elyas | | 18 April 2014 | 11:32

Mulai Terkuak: Penulis Soal UN “Jokowi” …

Khoeri Abdul Muid | | 18 April 2014 | 11:32

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 7 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 8 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 9 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 10 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: