Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Solehuddin Dori

Pengamat berbagai masalah sosial, politik, budaya dan ekomomi, yang berpikiran jernih dan bebas kepentingan apapun. selengkapnya

SBY, Presiden (yang selalu) Teraniaya (Bagian 2)

OPINI | 25 March 2013 | 04:15 Dibaca: 113   Komentar: 0   0

Dalam banyak sekali kesempatan, SBY bersikap seolah-olah tak berdaya menghadapi berbagai tekanan, ancaman atau hujatan dari sejumlah pihak. Misal, ketika diserang oleh DPR. SBY memilih untuk bertahan. Dia tidak serta merta melakukan perlawanan. Bahkan nyaris terlihat tidak melawan. Yang melawan hanya partai Demokrat, yang memang tugasnya mengamankan pemerintahan yang diusungnya. Namun SBY tidak. Kenapa demikian ya?

Ternyata, SBY sangat cerdas. Dia sudah belajar banyak dari presiden Abdurrahman Wahid. Sistem politik saat ini, tidak memungkinkan seorang presiden sok kuasa, sok jago dan petantang petenteng. Edisi ini bukan zamannya presiden seperti raja. Parlemen jauh lebih kuat dibanding posisi presiden. Itulah sebabnya, SBY mendorong Demokrat yang bermain di parlemen, merangkul semua kalangan.  SBY jarang sekali melakukan perlawanan frontal terhadap parlemen. Itulah sebabnya, parlemen juga relatif ewuh pakewuh terhadap SBY.

Sikap SBY juga setali tiga uang terhadap ancaman-ancaman yang datang dari pihak lainnya. Daripada menggunakan kekuatan yang sesungguhnya bisa saja dimanfaatkannya, seperti intelejen, TNI atau Polri, dia lebih suka mengadukan ancaman itu kepada publik. Yang memilih SBY kan rakyat, jadi akan lebih baik mengadu kepada rakyat, jika menghadapi kesulitan daripada kepada pihak lain. Misal, ancaman demonstrasi damai? MKRI tanggal 25 ini (Btw, MKRI mirip dengan kata MaKaR ya). Pemrakarsa menyebutkan demostrasi damai, tapi agendanya sama sekali tidak damai. Simak saja bunyinya, “Demo menuntut SBY - Boediono mundur. Demo akan terus berlangsung sampai kedua pemimpin itu mundur.”

Lah, orang waras juga tahu demo semacam itu namanya memaksakan kehendak dan tidak sesuai aturan. SBY - Boediono itu menjabat sampai 2014. Kalau sekarang dipaksa mundur, namanya tidak konstitusional. Kecuali SBY - Boediono melakukan pelanggaran undang-undang atau pelanggaran etika seperti Bupati Garut Aceng Fikri. Lagian biarin aja sih SBY - Boediono melanjutkan pemerintahannya. Wong tinggal 1 tahun lagi. Kayak nggak ada kerjaan aja sih demonya. Mending siapkan strategi dan konsep yang benar, untuk pemerintahan 2014-2019. Biar lebih maknyus!

Menghadapi ancaman seperti itu, SBY lebih suka mengadu kepada rakyat. Kepada masyarakat. Dia tidak menggunakan kekuatan kekuasaan. Di sinilah letak teraniayanya SBY. Dia sangat cerdas. Jika menggunakan kekuatan kekuasaan, maka simpati rakyat akan menjadi sebaliknya. Namun, dengan mengadu kepada rakyat, otomatis simpati akan diraih.  Memang beliau menyebutkan adanya ancaman kudeta. Tapi, SBY tidak serta merta menyiapkan diri dengan kekuatan kekuasaannya menghadapi ‘kudeta’ itu.

Cara SBY melawan kubu-kubu yang anti kepadanya sungguh berbeda dengan cara Soeharto atau Gus Dur. Soeharto menggunakan kekuatan kekuasaan berupa senjata yang melekat pada tentara. Sementara Gus Dur menggunakan kekuatan kekuasaan melalui kecerdasannya berbicara dan memanfaatkan media. Soeharto sangat ‘kejam’ pada saat tertentu, sedang Gus Dur juga ‘kejam’ lewat komentar-komentarnya. Dua cara melawan yang anti itu, menimbulkan antipati dan perlawan balik yang luar biasa kuat. Bahkan lawan yang anti itu, mendapatkan dukungan luas dari banyak orang.

SBY berbeda. Dia sangat lentur, kadang seperti teraniaya, atau benar-benar teraniaya. Pada saat tertentu (yang sangat jarang) ia bersikap tegas dan sedikit galak. Hasilnya, dua periode bertahan dan pemerintahannya relatif stabil. Goyangan-goyangan seperti MKRI, mungkin hanya akan menjadi angin lalu saja, karena tidak akan didukung oleh banyak orang. Mungkin cuma segelintir orang.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produk Indonesia di Tengah Konflik Rusia dan …

Syaripudin Zuhri | | 02 September 2014 | 08:42

Koalisi Merah-Putih Terus Berjuang Kalahkan …

Musni Umar | | 02 September 2014 | 06:45

Serunya Berantas Calo Tiket KA …

Akhmad Sujadi | | 02 September 2014 | 05:55

Tepatkah Memutuskan Jurusan di Kelas X? …

Cucum Suminar | | 01 September 2014 | 23:08

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 1 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya ,serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 6 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Yakitori, Sate ala Jepang Yang Menggoyang …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

Sebuah Cinta Berusia 60 Tahun dari …

Harris Maulana | 8 jam lalu

Yohanes Surya Intan Terabaikan …

Alobatnic | 8 jam lalu

Mengukur Kepolisian RI Dari Kuching …

Abah Pitung | 8 jam lalu

Xiaomi RedMi 1S “Hajar” Semua Brand …

Andra Nuryadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: