Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Yakub Adi Krisanto

hanya seorang yang menjelajahi belantara intelektualitas, dan terjebak pada ekstase untuk selalu mendalami pengetahuan dan selengkapnya

Potensi Distorsi Opini Publik pada Penembakan Tahanan di LP Cebongan Jogjakarta

OPINI | 23 March 2013 | 22:59 Dibaca: 1562   Komentar: 0   1

Penembakan terhadap tahanan di LP Cebongan, Jogjakarta menyentak akhir pekan yang sedang bersiap mengobarkan dukungan pertandingan timnas Indonesia melawan Arab Saudi. Bahkan peristiwa tersebut menenggelamkan operasi tangkap tangan KPK atas wakil ketua PN Bandung kemaren. Informasi yang diperoleh dari pemberitaan media online berhasil membangun opini publik bahwa pelaku penembakan tahanan dapat diduga adalah oknum anggota Kopassus. Terbentuknya opini publik ditarik dari fakta bahwa korban tewas adalah pelaku pengeroyokan yang menewaskan anggota Kopassus. Penggunaan senjata dan ancaman melemparkan bom apabila pintu tidak dibukakan menjadi faktor yang menguatkan dugaan siapa pelaku penembakan tersebut.

Apakah memang benar demikian bahwa pelakunya adalah Kopassus? Mengapa tidak terbersit bahwa pelakunya malah bukan anggota Kopassus? Pertama, opini publik yang terbangun memang sudah disadari oleh pelaku. Kesadaran ini menguntungkan pelaku untuk mendistorsi fakta yang sebenarnya dan menyembunyikan pelakunya. Kedua, sasaran sebenarnya bukan korban tewas itu sendiri melainkan Kopassus yang menjadi korban opini publik sebagai bentuk keberhasilan pelaku penembakan. Ketiga, merupakan kebodohan bagi pasukan elit republik ini apabila melakukan pembunuhan dengan mudah terlacak oleh (opini) publik.

Keempat, pihak Kopassus Kandang Menjangan sudah menyatakan bahwa pada saat kejadian tidak ada angoota mereka yang berada di luar. Kelima, penahanan dilakukan di LP apabila bukan alasan penuhnya tempat tahanan di kantor polisi atau sudah akan dilimpahkan kejaksaan, maka penempatan tahanan diluar kantor polisi patut diduga sebagai bagian dari skenario penembakan. Keenam, pada saat menyerbu LP, pelaku menyampaikan maksudnya hendak ‘ngebon’ tahanan. Istilah ngebon tahanan adalah istilah yang berlaku pada proses hukum yang digunakan oleh aparat penegak hukum. Dalam hal ini, tanpa harus ‘kulonuwun’ misalnya benar bahwa pelakunya anggota Kopassus tentu kemampuannya mampu untuk menyelinap ke dalam LP tanpa harus melewati pintu gerbang.

Penembakan di LP hanya sasaran antara dengan tujuan sebenarnya adalah pertama, hendak mencoreng nama TNI. Kedua, meningkatkan tingkat konflik antara TNI-POLRI. Ketiga, menunjukkan kelemahan pemerintah dalam melindungi warga negara, meski sudah berada di LP. Ketiga tujuan tersebut adalah pra kondisi untuk menciptakan ketidakpercayaan antar instansi pemerintah yang arahnya adalah instabilitas politik Indonesia. Untuk itu tantangan bagi pemerintah khususnya Menkopolhukam untuk mengivestigasi tidak hanya siapa penembaknya, namun juga mengapa tahanan tersebut ditempatkan di LP.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 10 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 10 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 11 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 13 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: