Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Yakub Adi Krisanto

hanya seorang yang menjelajahi belantara intelektualitas, dan terjebak pada ekstase untuk selalu mendalami pengetahuan dan selengkapnya

Potensi Distorsi Opini Publik pada Penembakan Tahanan di LP Cebongan Jogjakarta

OPINI | 23 March 2013 | 22:59 Dibaca: 1564   Komentar: 0   1

Penembakan terhadap tahanan di LP Cebongan, Jogjakarta menyentak akhir pekan yang sedang bersiap mengobarkan dukungan pertandingan timnas Indonesia melawan Arab Saudi. Bahkan peristiwa tersebut menenggelamkan operasi tangkap tangan KPK atas wakil ketua PN Bandung kemaren. Informasi yang diperoleh dari pemberitaan media online berhasil membangun opini publik bahwa pelaku penembakan tahanan dapat diduga adalah oknum anggota Kopassus. Terbentuknya opini publik ditarik dari fakta bahwa korban tewas adalah pelaku pengeroyokan yang menewaskan anggota Kopassus. Penggunaan senjata dan ancaman melemparkan bom apabila pintu tidak dibukakan menjadi faktor yang menguatkan dugaan siapa pelaku penembakan tersebut.

Apakah memang benar demikian bahwa pelakunya adalah Kopassus? Mengapa tidak terbersit bahwa pelakunya malah bukan anggota Kopassus? Pertama, opini publik yang terbangun memang sudah disadari oleh pelaku. Kesadaran ini menguntungkan pelaku untuk mendistorsi fakta yang sebenarnya dan menyembunyikan pelakunya. Kedua, sasaran sebenarnya bukan korban tewas itu sendiri melainkan Kopassus yang menjadi korban opini publik sebagai bentuk keberhasilan pelaku penembakan. Ketiga, merupakan kebodohan bagi pasukan elit republik ini apabila melakukan pembunuhan dengan mudah terlacak oleh (opini) publik.

Keempat, pihak Kopassus Kandang Menjangan sudah menyatakan bahwa pada saat kejadian tidak ada angoota mereka yang berada di luar. Kelima, penahanan dilakukan di LP apabila bukan alasan penuhnya tempat tahanan di kantor polisi atau sudah akan dilimpahkan kejaksaan, maka penempatan tahanan diluar kantor polisi patut diduga sebagai bagian dari skenario penembakan. Keenam, pada saat menyerbu LP, pelaku menyampaikan maksudnya hendak ‘ngebon’ tahanan. Istilah ngebon tahanan adalah istilah yang berlaku pada proses hukum yang digunakan oleh aparat penegak hukum. Dalam hal ini, tanpa harus ‘kulonuwun’ misalnya benar bahwa pelakunya anggota Kopassus tentu kemampuannya mampu untuk menyelinap ke dalam LP tanpa harus melewati pintu gerbang.

Penembakan di LP hanya sasaran antara dengan tujuan sebenarnya adalah pertama, hendak mencoreng nama TNI. Kedua, meningkatkan tingkat konflik antara TNI-POLRI. Ketiga, menunjukkan kelemahan pemerintah dalam melindungi warga negara, meski sudah berada di LP. Ketiga tujuan tersebut adalah pra kondisi untuk menciptakan ketidakpercayaan antar instansi pemerintah yang arahnya adalah instabilitas politik Indonesia. Untuk itu tantangan bagi pemerintah khususnya Menkopolhukam untuk mengivestigasi tidak hanya siapa penembaknya, namun juga mengapa tahanan tersebut ditempatkan di LP.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Hukum Prabowo-Hatta, Jangan Merusak …

Daniel H.t. | | 20 August 2014 | 11:53

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Keluarga Pasien BPJS: Kenapa Dokter Tulis …

Posma Siahaan | | 20 August 2014 | 12:48

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 5 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 9 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 9 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: